Momen Sumpah Pemuda & Hari Pahlawan, Ketum Hipakad: Perkuat Kebanggaan Tanah Air, Jokowi Role Model Teladan

- Minggu, 6 November 2022 | 19:24 WIB
Momen Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan, Ketum Hipakad Hariara mengingatkan seluruh anak bangsa untuk saling memperkuat kebanggaan kepada Tanah Air dan Presiden Jokowi adalah role model yang patut diteladani.  (AG Sofyan )
Momen Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan, Ketum Hipakad Hariara mengingatkan seluruh anak bangsa untuk saling memperkuat kebanggaan kepada Tanah Air dan Presiden Jokowi adalah role model yang patut diteladani. (AG Sofyan )
 
SUARAKARYA.ID: Momen Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan, Ketua Umum (Ketum) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Himpunan Putra Putri Keluarga Angkatan Darat (Hipakad) Hariara Tambunan mengingatkan seluruh anak bangsa untuk saling memperkuat kebanggaan kepada Tanah Air dan Presiden Jokowi adalah role model yang patut diteladani.
 
Di bulan Oktober dan November tahun 2022 ini ada dua moment penting yang diperingati segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia.
 
 
Di setiap tanggal 28 Oktober diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda dan 10 November, bangsa Indonesia mengenangnya sebagai Hari Pahlawan.
 
Hari Sumpah Pemuda tak terlepas dari momen pada tanggal 28 Oktober 1928, saat tonggak kesepakatan para pemuda dan pemudi dari masing-masing wilayah dan mewakili suku, serta etnis se-Nusantara melahirkan ikrar pemuda. Yang kemudian dikenal dengan sebutan Sumpah Pemuda. 
 
 
Momen Sumpah Pemuda menjadi titik awal persatuan para pemuda di seluruh Indonesia untuk memperjuangkan kemerdekaan dan saling meyakinkan agar tidak terpecah belah karena politik devide et impera kaum kolonial.
 
Ketum Hipakad menyatakan makna Sumpah Pemuda di antaranya adalah mengajarkan nilai-nilai persatuan bangsa. Sumpah Pemuda adalah satu bentuk komitmen putra-putri bangsa untuk memperjuangkan tanah air dan bersatu demi tanah air dan tegaknya Merah Putih di bumi pertiwi.
 
 
"Dalam Sumpah Pemuda, kebanggaan akan tanah air sendiri terlihat jelas dari pesan para pemuda," ujar Hariara yang juga dikenal sebagai tokoh pemuda nasional ini kepada suarakarya.id ketika dimintai pendapatnya tentang Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan di Jakarta, Sabtu (5/11/2022).
 
Perjuangan para pemuda dalam mempertahankan tanah airnya sangat besar, terbukti dengan adanya berbagai peristiwa yang melibatkan para pemuda pada masa penjajahan.
 
 
Lalu pada bulan November ini, rakyat Indonesia juga memperingati Hari Pahlawan sebagai bagian refleksi untuk mengenang jasa-jasa Pahlawan yang telah membawa Indonesia merdeka lepas dari penjajahan bangsa lain dan ibu pertiwi tetap terjaga dengan NKRI yang menjadi spirit perjuangan bangsa ini tetap kuat, tegar, besar, dan jaya.
 
"Legacy para Pahlawan ini yang harus dijaga dan diteruskan oleh generasi sekarang dan yang akan datang," tegas Hariara Tambunan.
 
 
Ketua umum organisasi putra putri  TNI Angkatan Darat ini memaknai dua peristiwa penting bag semestinya harus pandai bersyukur bahwa negeri ini dikaruniai sumber daya alam dan manusia yang luar biasa, dan tidak dipunyai negara lain.
 
"Selain karena kita memiliki resources yang kaya, kita juga patut bangga karena negeri ini telah memiliki pemimpin nasional yang tetap bisa menjaga, melindungi, dan memberikan karya nyata sehingga Indonesia bisa menjadi negeri yang damai, aman, dan sentosa," ujarnya.
 
 
Jokowi Role Model Ideal 
 
Namun tokoh pemuda berdarah Batak ini menilai Presiden Joko Widodo sebagai Presiden RI ke 7 bisa menjadi role model pemimpin nasional yang cukup istimewa. 
 
"Pak Jokowi adalah contoh putra Indonesia yang telah banyak berbuat untuk kemanfaan rakyatnya. Perubahan fundamental dari kesenjangan ekonomi akibat disparitas infrastruktur dari zaman sebelumnya, berhasil beliau wujudkan. Bahkan segudang  karya dan prestasinya pun diakui  di tingkat internasional," tegas Hariara yang dikenal juga sebagian politisi senior Golkar DKI Jakarta ini.
 
 
Lebih lanjut, Hariara mengutip pernyataan Menko Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan (LBP) yang  menyebut banyak negara-negara besar meminta bantuan Presiden Joko Widodo soal perdamaian dunia.
 
"Padahal, kata Jenderal Luhut, Pak Presiden Jokowi dulunya hanya seorang tukang kayu. Oleh sebab itu, Pak Luhut mengingatkan bangsa ini agar jangan pernah meremehkan orang lain yang bukan dari trah atau garis keturunan elit,' ucap Hariara.
 
 
Dia sangat percaya kepada Pembina di TNI AD tersebut karena Luhut adalah sosok yang sangat dipercaya oleh Jokowi dan hubungan kedua tokoh bangsa ini sudah terjalin sangat lama. Jauh sebelum Jokowi jadi Presiden RI.
 
"Jadi kalau Pak Luhut bilang bahwa Pak Jokowi dimintai tolong oleh  Negara-negara yang kita lihat super besar itu, bukan bohong. Mereka ngirim utusannya ke Pak Luhut. Jadi ya kesimpulannya Pak Luhut itu saksi hidup Presiden," kata Hariara.
 
 
Bahkan, ungkap Hariara, Menko Marves itu diminta mengaturnya agar Jokowi bisa memenuhi keinginan negara-negara besar yang tak disebut Luhut itu.
 
Jadi sekelas Pak Luhut saja, kata Hariara, merasa keheranan dan tak percaya kalau Kepala Negara dipercaya banyak negara besar untuk dimintai tolong sementara  jika dikaitkan dengan latar belakang Pak Jokowi yang hanya pengusaha mebel saja,
 
 
"Siapa yang tak heran tukang kayu bisa begitu dipercaya lho. This is a mistery of life. Jadi pelajaran yang berharga dari story Pak Jokowi, jangan pernah meremehkan orang lain. Setiap orang tidak pernah tahu akan menjadi apa kita kelak. Termasuk saya juga dan orang lain," imbuh Ketua Ikatan Alumni FEB UKI ini.
 
Keluarga Sederhana 
 
Terlahir dari keluarga biasa dan bersahaja Jokowi selama menjalani hidupnya tentu tak semulus yang dibayangkan orang.
 
 
Jokowi pernah menceritakan kisah hidupnya kepada LBP saat masih berada di kalangan bawah. 
 
Kepada Menteri Senior di dua Kabinet Jokowi, mantan Gubernur DKI ini bercerita jika dirinya sempat mengalami penggusuran sebanyak tiga kali saat masih belia.
 
"Pak Jokowi bilang, 'tiga kali, Pak Luhut, saya itu digusur di bantaran kali. Jadi orang jangan ajari saya soal kemiskinan, saya ngalamin sendiri," ucap Jokowi.
 
 
Melihat kisah hidup Jokowi, ujar Hariara, rasanya permintaan bantuan negara-negara sahabat Indonesia, tidak menjadi persoalan bagi mantan Wali Kota Solo dua periode ini.
 
Wabendum DPP Partai Golkar ini  meyakini akan ada banyak negara yang meminta bantuan kepada Jokowi.
 
"Di G20 nanti itu, saya meyakini akan terjadi banyak sekali orang yang minta tolong ke Presiden Jokowi, dan sekarang sedang terjadi, untuk perdamaian dunia," tandasnya.
 
 
Hariara salut dengan karier politik Presiden Jokowi. Berawal dari Wali Kota Solo, kemudian terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta. Dan lantas maju dalam pilpres, dan berhasil menjadi presiden selama dua periode.
 
Menurut Hariara, keberhasilan Jokowi dalam memenangkan kontestasi politik itu, karena dukungan signifikan dari rakyat.
 
"Meski memang butuh perjuangan keras untuk meraih posisi tersebut. Dan memang tidak mudah untuk meraih suara mayoritas jika dilihat latar belakang Pak Jokowi yang bukan pengurus Partai apalagi yang punya saham besar di parpol. Tidak pernah orang mengira beliau bisa jadi Presiden sementara tokoh-tokoh nasional sudah antri dan berjuang super keras untuk menjadi RI 1," urai Hariara.
 
 
Jokowi menjadi Wali Kota Surakarta ke-16 pada periode 2005-20012, diusung PDI Perjuangan.Jokowi yang berpasangan dengan Hadi Rudyatmo, saat itu memperoleh 36,62 persen suara.
 
Sewaktu mengikuti Pilgub DKI Jakarta pada tahun 2012, Jokowi dan Ahok di putaran kedua, mampu  mengungguli perolehan suara Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli dengan memperoleh 53,82 persen suara. 
 
 
Sedang di pilpres 2014, Jokowi yang berpasangan dengan Jusuf Kalla Yang tak lain mantan Ketua Umum Golkar, menang atas lawannya Prabowo dan Hatta Rajasa dengan perolehan suara yang hampir sama saat Pilgub DKI, yaitu 53,15 persen suara.
 
Dan di pilpres 2019, kembali Jokowi mengalahkan Prabowo, kali ini dengan mendulang suara yang lebih besar, yaitu 55,5 persen.  
 
 
Diungkapkan Hariara, dari perjalanan politik Jokowi, kita bisa mengetahui bagaimana cara putra Solo dari keluarga yang sederhana itu, bisa meraih kekuasaan dan mempertahankannya. Yaitu dengan mengutamakan kepentingan rakyat, bangsa dan negara.
 
"Misalnya, sebelum diberlakukan kenaikan BBM, pemerintah sudah memberikan subsidi kepada warga yang kurang mampu. Jokowi juga membatalkan program kompor listrik, karena waktunya kurang tepat. Karena pemakai kompor listrik tak lagi memakai 450 VA, namun di atas 1.800 VA, yang tentunya akan semakin memberatkan masyarakat yang kurang mampu," jelas putra pejuang Almarhum Letda TNI AD Fritz Tambunan ini. ***
 
 
 

Editor: Markon Piliang

Sumber: Liputan langsung narasumber

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Tuan Guru Kocak ini Pimpin DPD Bamusi NTB

Selasa, 24 Januari 2023 | 18:59 WIB
X