• Jumat, 7 Oktober 2022

Presiden Soeharto Bersihkan Indonesia dari Ajaran Komunis, Rakyat Bangga

- Senin, 19 September 2022 | 23:24 WIB
Presiden Soeharto (Istimewa)
Presiden Soeharto (Istimewa)

 

SUARAKARYA.IDPresiden ke-2 Republik Indonesia  Jenderal (Pur) H. Mouhammad Soeharto selain bapa pembangunan tapi juga seorang yang mengikis habis ajaran komunis di negeri ini.

Presiden Soeharto tak ingin  generasi Indonesia ke depan berideologi bukan Pancasila.

Indonesia harus tetap berlandaskan Pancasila UU 1945. Dan penduduk Indonesia memeluk agama sesuai kepercayaan dan keyakinannya masing- masing.

Baca Juga: BCA Jual 1 Juta Saham Rp8 725 Per Saham

Sejarah Komunis tercatat dua kali melakukan kudeta di Indonesia. Yaitu tahun 40-an. Dan di tahun 1965.

Dan kedua petistiwa itu paling paling parah di  tahun 1965. Korbannya 7 putra terbaik bangsa gugur dibunuh PKI. Lalu dimasukkan di lobang buaya.

Karena itu Presiden Soeharto memerintahkan bakar buku-buku terkait ajaran Komunis di Indonesia yang dilabeli PKI.

Sesuai catatan, Kejaksaan Agung membakar buku-buku komunisme sebanyak sepuluh ton pada Oktober 1972. Koran Ekspres, 1 September 1972.

Setelah menerima Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar), Letjen TNI Soeharto membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Baca Juga: Asmara Wilona - Varell  dan  Profil Keduanya

Tidak hanya itu. Organisasi-organisasi di bawahnya dibubarkan. Berdasarkan Keputusan Presiden No. 1/3/1966 PKI ditumpas hingga ke akar-akarnya.

Pembubaran PKI dan pelarangan penyebaran komunisme ditetapkan dalam TAP MPRS No. XXV/1966 tanggal 5 Juli 1966 yang masih berlaku hingga kini.

 Berdasarkan ketetapan tersebut dan UU No. 4/PNPS/1963 tentang Pengamanan Terhadap Barang-barang Cetakan.

 Kejaksaan Agung memiliki wewenang untuk menyita dan memusnahkan karya-karya tentang komunisme.

“Dengan pemusnahan inilah wewenang Kejaksaan Agung dilaksanakan,” kata Susanto Kartoatmodjo, jaksa dari Kejaksaan Agung, kepada Ekspres 1 September 1972. Hasil razia Kejaksaan Agung selama empat bulan (April-Juli 1972) sangat fantastis," katanya.

Baca Juga: BCA Jual 1 Juta Saham Rp8 725 Per Saham

“Hari Kamis minggu yang lalu (Oktober 1972), ratusan karung berisi buku, majalah, buletin, pamflet, komunisme dengan bobot 10 ton dimusnahkan menjadi abu,” lanjut Ekspres.

 “Untuk setiap karung yang hendak dilemparkan ke dalam tungku raksasa, kepada wartawan yang jadi saksinya dibukakan dahulu (buku-buku itu).”

Sebelumnya, Kejaksaan Agung telah membakar delapan ton buku, brosur, majalah, pamflet tentang komunisme. Selain dibakar.

Kejaksaan Agung pernah mendaur ulang menjadi kertas baru di pabrik kertas Padalarang.

Karya-karya yang disita dan dibakar antara lain Socialist Thought and Practice. Discovering Soviet Union, Socialist Realism, Peace Freedom and Socialism, Selected Works of Mao Tse Tung, Revolutionary Activities of Comrade Kim Il Sung, majalah Tekad Rakjat yang diterbitkan Perhimpunan Pelajar Indonesia di Moskow, brosur Marhaen Menang. Dan puluhan judul lainnya dalam berbagai bahasa, dari Rusia, Cina, Inggris, Jerman,
sampai Arab.

Baca Juga: Nikita Dibilang  Beda Kelas Ketika Lancarkan Kritikan Kapada Najwa Shihab

“Yang Arab ini ditulis dengan lazim. Dimulaidengan bismillahirochmanirrochim…dilanjutkan dengan ajaran komunisme, sekalipun kalau diamati keseluruhannya sang pembuka saling membantah dengan kelanjutan isi,” tulis Ekspres.

Kejaksaan Agung melaksanakan wewenang menyita dan melarang buku-buku yang dianggap akan mengganggu keamanan negara.

Seperti komunisme, bertahan hingga tahun 2010. Mahkamah Konstitusi membatalkan UU No. 4/PNPS/1963 yang memberikan kewenangan Kejaksaan Agung untuk melarang peredaran buku.

MK memutuskan UU tersebut bertentangan dengan konstitusi karena pelarangan buku harus melalui proses peradilan.

Baca Juga: Raja Charles III  Pecat 100 Staf yang Bekerja Untuknya Bikin Pusing Rakyat Inggris

Kejaksaan Agung hanya memiliki wewenang untuk meneliti apakah sebuah buku dikategorikan buku terlarang atau tidak. ***

Editor: Dwi Putro Agus Asianto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X