• Kamis, 30 Juni 2022

Ketaatan Tumbuhkan Rasa Kekuatan Manisnya Iman

- Sabtu, 23 April 2022 | 21:03 WIB
Rektor IAIN Sorong Dr. Hamzah Khaeriyah  (Istimewa)
Rektor IAIN Sorong Dr. Hamzah Khaeriyah (Istimewa)

SUARAKARYA.ID: “Ada tiga perangai atau sifat yang jika ada pada diri seseorang, maka orang tersebut akan merasakan manisnya iman, (1) Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya, (2) Mencintai seseorang, yang dia tidak mencintai orang tersebut kecuali karena Allah, (3) Membenci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan dia dari kekufuran tersebut sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam api neraka,” (HR. Bukhari Muslim)


Ketatan seseorang kepada Allah dan Rasulnya melalui Alqur’an dan Hadist tumbuhkan manisnya Iman. Dalam riwayat yang lain disebutkan dengan lafazh: “Tidaklah seseorang mendapatkan manisnya iman sampai dia mencintai seseorang, dan tidaklah kecintaannya itu kecuali karena  ketaatannya Allah.

Mungkin bagi sebagian orang iman itu terasa pahit. Harus lolos dalam berbagai ujian hidup, harus mengekang hawa nafsu, syahwat, serta istiqomah dalam kesabaran.

Baca Juga: Polres Sorong Lancarkan Upaya Vaksinasi Booster

Bukankah ini adalah konsekuensi yang ‘pahit’ untuk sebuah pengakuan keimanan?

Bagaimanapun, orang beriman pastilah diuji, sebagaimana seorang murid yang menyatakan “Saya sudah mengerti Bu“.

Pastilah gurunya akan menguji untuk mencari tahu kejujuran sang murid. Dia benar sudah mengerti atau hanya pura-pura bisa.

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja mengatakan: “Kami telah beriman, sedangkan mereka tidak diuji?” (QS. Al Ankabut: 2)

Maka, iman baru bisa terasa manis apabila kita memiliki 3 hal berikut:

Pertama,  mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari apapun juga. Sebagaimana tabiat cinta pada umumnya, seseorang yang jatuh cinta akan rela berkorban, rela melakukan apapun demi yang dicintainya.

Dan perjuangan apapun yang dilakukan, akan terasa begitu manis.

Seorang ibu yang melahirkan dengan rasa sakit luar biasa, remuk, sobek, dan berdarah-darah, langsung tersenyum begitu sang bayi terlahir. Itulah cinta.

Baca Juga: Karantina Pertanian Sorong Musnahkan 14.400 Telur  Ayam Ilegal

Maka demikianlah jika kita telah mencintai Allah dan Rasul-Nya, segala yang kita korbankan akan terasa lezat, manis.

Menahan diri dari harta yang haram, se-menggiurkan apapun tawarannya, manis. Mengeluarkan sebagian harta di waktu lapang maupun sempit, manis. Berpuasa menahan lapar dan haus selama sebulan penuh, manis.

Kedua, Mencintai seseorang karena  ketaatan Allah, dan kita tidak mungkin mencintai orang tersebut jika bukan karena Allah.

Sulit memang mengenali apa yang dimaksud dengan cinta karena Allah SWT.

 Sebagai contoh, seorang ulama shaleh bernama Abu Utsman An Naisaburi, ia hidup melajang hingga ada seorang wanita yang menyatakan jatuh hati padanya.

Wanita itu berasal dari keluarga miskin sehingga Abu Utsman tergerak menikahinya.

Namun setelah menikah, ia baru tahu bahwa mata sang istri juling, wajahnya begitu buruk dan ada cacat di kakinya.

Apakah ia merasa tertipu dan lantas menceraikan istrinya tersebut?

Tidak, Abu Utsman senantiasa menjaga perasaan istrinya dan terus membina rumah tangga hingga ajal memisahkan mereka. Yakni sampai istrinya meninggal setelah 15 tahun pernikahannya. Abu Utsman melakukan itu semua karena ia mencintai istrinya karena  ketaatannya kepada Allah SWT.

 Jika ia mencintai nafsunya, tidaklah mungkin ia bisa bertahan dengan istri semacam itu barang semalam.

Pria yang menjaga perasaan istrinya selama 15 tahun itu berharap Allah SWT memantaskannya untuk masuk syurgaNya karena hal tersebut.

Bisa terlihat kesungguhan cinta pada Allah menjadikannya menganggap baik setiap takdir yang terjadi pada dirinya.

Ketiga, Membenci untuk kembali pada kekufuran setelah bertaubat.


Setiap orang memiliki kesalahan, ada yang berupa perbuatan maksiat, ada yang berupa kekufuran. Apapun itu, ketika ketaatannya tinggi  kepada  Allah SWT memberi petunjukNya dan kita telah bertaubat.

Maka ketika kita membenci kembali pada hal buruk tersebut. Disaat itulah kita bisa mengenali manisnya iman. Wallahualam.

Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong, Dr. Hamzah Khaeriyah, mengatakan,  Agama hendak dinikmati, dirasakan dan dipikirkan. Hanya dengan itulah agama dapat menyatu di dalam kehidupan  kita.

Melalui siaran langsung dari kanal Facebook Masjid Qoba Kota Sorong yang berdurasi lebih kurang sebelas menit, Hamzah Khaeriyah mengangkat tema ceramah dengan judul merasakan manisnya iman.

Menurut Dr. Hamzah Khaeriyah, iman merupakan hidayah paling tinggi di dalam Islam, tidak ada hidayah yang lebih tinggi lagi dari iman.

Oleh karena itu, hendaknya iman dijadikan sebagai arah, petunjuk. Dipupuk dan senantiasa dievaluasi.

Hal tersebut dilatarbelakangi oleh adanya pasang surut atau jauh dan dekatnya keimanan.

Ketika  seorang Muslim merasakan kenikmatan pada saat beribadah, maka hal tersebut merupakan salah satu indikator keimanan seseorang sedang bertambah.

Sebaliknya, ibadah menjadi suatu beban maka hal itu menandakan iman seseorang sedang lemah.

Atas dasar inilah yang kemudian menjadi tugas seorang muslim agar memastikan kualitas imannya senantiasa terjaga.

Dijelaskan Hamzah, iman merupakan pintu masuk menuju Allah  SWT. Dan sarana memperoleh ganjaran pahala dari seluruh amalan seorang Muslim.

“Apabila seorang Muslim telah  beriman, dalam arti imannya semakin dekat kepada Allah maka seluruh perilaku dan ibadahnya adalah kebaikan. Inilah yang kemudian dikenal sebagai kekuatan iman. Iman inilah pintu masuk menuju Sang Pencipta serta sebagai sebab diberikan pahala,” katanya.

Baca Juga: BRI Kanca Abepura Berbagi Migor Dan Sembako Kepada Panti Asuhan Muhammadiyah Arso X Papua

Halaman:

Editor: Markon Piliang

Tags

Terkini

X