• Selasa, 28 Juni 2022

Beban Hidup Makin Berat, Nelayan Gorontalo Minta Subsidi Pangan Dan Tunda Pemilu

- Jumat, 8 April 2022 | 13:20 WIB
Komunitas nelayan di Gotontalo minta pemerintah, DPR RI dan KPU untuk tidak memaksakan membahas anggaran Pemilu 2024, lebih baik untuk subsidi BBM yang  langka. (Siaran pers)
Komunitas nelayan di Gotontalo minta pemerintah, DPR RI dan KPU untuk tidak memaksakan membahas anggaran Pemilu 2024, lebih baik untuk subsidi BBM yang langka. (Siaran pers)





SUARAKARYA.ID: Komunitas nelayan di wilayah pesisir Kecamatan Huonthalangi, Kota Gorontalo, meminta penyelenggaraan pemilu tidak dipaksakan mengikuti jadwal, yakni 14 Februari 2024.

Sebab, mereka menilai hingga saat ini ekonomi masyarakat masih sulit akibat terdampak pandemi Covid-19.

 Ditambah lagi masalah kelangkaan dan kenaikan harga pangan beserta bahan bakar minyak (BBM) yang dampaknya sangat terasa oleh mereka.

“Tolonglah bantu rakyat dulu, karena ini sangat berat, dua tahun kami begini (susah), mana sekarang minyak goreng mahal, BBM langka,” kata perwakilan nelayan Abdul Kadir, Jumat (8/4/2022).

Abdul Kadir menambahkan, pemerintah, DPR, dan elite politik seharusnya lebih peka terhadap penderitaan yang dialami rakyat bawah.

 Semua energi dan waktu yang ada, sambungnya, lebih baik digunakan untuk bersama-sama mengatasi masalah riil masyarakat.

“Yang dibutuhkan sekarang ini subsidi minyak, bantuan langsung, bukan pemilu,” ucap Kadir menegaskan.

Menurutnya, masyarakat dirugikan jika pemilu tetap dilaksanakan sesuai jadwal.  Pasalnya, pemerintah dan segenap elemen bangsa akan fokus dengan persiapan pemilu, minimal satu tahun sebelum hari pemilihan.

“Sibuk kampanye, rakyat diabaikan,” tuturnya.
Hal senada disampaikan Nurmin Mohamad (45). Pemilu yang merupakan ajang partai politik berkontestasi meraih kekuasaan dipandang akan membuat kerja-kerja kenegaraan terabaikan.

Terlebih ia mendengar jadwal penyelenggaraan Pilkada serentak juga berdekatan dengan pemilu. Ia yakin akan banyak agenda pembangunan di tingkat pusat maupun daerah yang berjalan tidak maksimal.

 "Bisa lupa semua sama rakyat,” ucapnya. 
Atas dasar itu, ia menyayangkan sikap dan perilaku elite politik yang terkesan mengutamakan kepentingan dirinya dengan tetap ingin membahas anggaran dan tahapan pemilu.

Alih-alih mendukung, ia dan para nelayan justru minta elite politik berkolaborasi dengan pemerintah dalam mengendalikan harga pangan serta menambah kuota solar subsidi. 

“Bagi kami, harga-harga buat makan sehari-hari itulah yang didahulukan, kalau pemilu kan demi kepentingan mereka saja,” kata Nurmin.

Seperti diketahui, wacana penundaan pemilu dan perpanjangan masa jabatan presiden terus bergulir di tengah masyarakat. Pro dan kontra makin tak terelakkan seiring belum disepakatinya anggaran pemilu oleh pemerintah, DPR, dan KPU. ***

Editor: Dwi Putro Agus Asianto

Sumber: Siaran Pers

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X