• Kamis, 30 Juni 2022

Peluncuran Buku, Media Perlu Bangun Kemandirian Hadapi Platfom Digital

- Rabu, 6 April 2022 | 06:48 WIB
Peluncuran Buku Dialektika Digital melalui  virtual FMB 9, Selasa (5/4/2922). (Liputan virtual)
Peluncuran Buku Dialektika Digital melalui virtual FMB 9, Selasa (5/4/2922). (Liputan virtual)



SUARAKARYA.ID: Melalui buku "Dialektika Digital" yang ditulis Agus Sudibyo, dirinya menawarkan cara bagaimana media nasional mampu membangun kemandirian relatif terhadap platform digital.

"Buku ini menawarkan bukan sikap anti platfom, bukan menolak transformasi digital karena transformasi digital itu suatu keniscayaan yang tidak bisa dihindari, namun bagaimana media nasional mampu membangun kemandirian relatif terhadap platfom digital, kemandirian secara teknologi, secara bisnis dan secara jurnalistik," ujar penulis buku "Dialektika Digital: Kolaborasi dan Kompetisi Media Massa Vs Digital Platform".

 Anggota Dewan Pers, Agus Sudibyo dalam acara bedah buku yang digelar FMB9, Selasa (5/4/22).

Kemandirian relatif ini, jelas Agus, artinya tidak putus secara total dalam menjalin kerja sama dengan platfom digital ini, namun sebuah sikap untuk tidak terlalu tergantung pada paltfom dalam mendistribusikan konten, memproduksi jurnalisme dan juga dalam berbisnis.

Namun kemandirian relatif ini, lanjut Agus menerangkan, juga harus didukung dengan kebijakan yang memadai dari pemerintah.
Sehingga, lanjutnya, publisher right, serta undang-undang perlindungan data pribadi, sosial media dan lain-lain yang dibuat oleh pemerintah adalah unsur- unsur regulasi di mana negara hadir untuk menyehatkan ekosistem media dan menjaga ruang publik yang beradab.

 "Karena model periklanan yang didorong oleh platform ini menunjukan bukanlah model periklanan yang bagus untuk ruang publik media, karena yang menonjol adalah iklan-iklan yang jelek," tuturnya.

Di era digital ini, media massa dituntut untuk menghadirkan informasi yang lebih cepat, variatif, personal dan interaktif. Ketidakmampuan media konvensional dalam memenuhi hal tersebut membuat masyarakat meninggalkannya dan beralih ke platform digital.

Kehadiran platform digital global seperti google, facebook dan lain sebagainya merupakan teman sekaligus lawan atau friend sekaligus enenemy bagi masyarakat, utamanya mereka yang bergerak di media konvensional.

 Hal inilah yang menyulitkan dalam menghadapi kehadiran platfom digital.

"Menghadapi platfom digital ini juga tidak gampang. Mereka adalah teman sekaligus musuh (frenemy).

<span;> Publisher dengan mereka hubungannya bukan hanya kompetisi tapi juga coopertaion," kata Agus di sela-sela pemaparannya.

Menurut Agus, kita tidak bisa mengelak bahwa jurnalis selaku publisher banyak terbantu oleh platfrom-platform seperti google, facebook dan lainnya dalam memproduksi konten dan mendistribusikan.

"Jadi ini yang susah, kalau mereka lawan seratus persen, itu mereka mudah menghadapinya. Tetapi yang mereka lawan adalah musuh sekaligus teman. Ini sulit dihadapi," ucap Agus.

Namun, Agus menjelaskan, dalam banyak data yang diperoleh, menunjukan bahwa keberadaan serta kehadiran platform digital ini bersifat disruptif terhadap daya hidup industri media massa konvensional.

"Dan bagaimana keadaan, dalam ekosistem yang disruptif itu, industri media massa di situ jurnalisme harus bisa bertahan hidup," karanya.

Sementara itu, Anggota BPIP Rikard Bagun yang hadir secara virtual, mengawali pemaparannya dengan menyampaikan apresiasi atas diterbitkannya buku berjudul "Dialektika Digital" ini. Menurutnya, penulis buku ini sangat dipengaruhi pemikiran hegelian.

"Jadi sampai pada suatu keinginan untuk berkolaborasi dan itulah sintesa. Bung Agus mengatakan perlu sintesa atau bahasa bisnisnya itu kolaborasi," kata Rikard.

Pengaruh yang kedua, terang Rikard, adalah secara kultur. Menurutnya, penulis buku ini sangat Bhineka Tunggal Ika. Bahwa kendati ada perbedaan, namun disatukan dalam sebuah kerja sama.

"Jadi berbeda-beda tapi kita bisa disatukan dalam sebauh kerja sama. Tetapi saya melihat, syarat-syarat kerjasamanya tidak terpenuhi. Karena apa, media konvensional sudah dihajar habis oleh yang namanya gangguan dan guncangan digital. Jadi digital disruption," katanya lagi.

Rikard menjelaskan, digital tranformation atau transformasi digital bukan hanya menyangkut bentuk atau form, namun juga isi atau konten.

"Seluruh ekosistem media konvensinal itu tidak hanya diganggu bahkan boleh dikatakan dirusak," tuturnya.

Ibarat sebuah kerajaan, konten adalah rajanya atau the king, sedangkan distribusi dan periklanannya adalah sang ratu.

Jika industri media itu dianggap sebagai kerjaaan, maka content is the king itu mengalami gangguan, disorientasi. Karena sekarang di sana bertaruh dengan hoaks, fake news.

"Kalau rajanya sudah diganggu, kemudian kuenya juga terganggu tinggal istananya," katanya.


 Rikard lantas bertanya apakah kehadiran platfrom digital dapat berjalan paralel dengan media konvesional? Sebab menurutnya, kalau berbicara kompentisi media konvensinal selalu mengacu pada tiga prinsip dasar. Pertama adalah rasionalitas tentang benar dan salah.

"Kedua adalah etika tentang baik dan buruk dan ketiga adalah estetika. Apakah ada seni yang tidak vulgar? Karena di situlah daya sugesti," ucapnya.

Sementara itu, di pihak lain, kata Rikard, kita melihat rasionalitas itu sudah digeser. Di mana yang benar bisa disalahkan dan yang salah bisa dibenarkan. Kemudian hoaks bisa diagungkan dan yang agung bisa di-hoaks-an.


"Lalu quantity is our quality. Jadi yang dikejar jumlah. Kemudian yang dikejar adalah kecepatan. Jadi the survival is the fastest. Jadi siapa yang cepat dia yang dapat," tuturnya.


"Lalu digital dalam telaahan itu menghasilkan budaya dangkal. Dia tidak dapat fokus karena ia bertarung dengan kecepatan. Dan tidak heran jika banyak orang menggunakan sosial media untuk memperjuangkan ide-ide intoleran," ucapnya. ***

Editor: Dwi Putro Agus Asianto

Sumber: Virtual

Tags

Terkini

X