• Rabu, 7 Desember 2022

Presiden Jokowi Menolak Didaulat Jadi Bapak Pembangunan Desa,

- Rabu, 30 Maret 2022 | 05:54 WIB
Presiden Jokowi. (Tangkapan layar YouTube Sekretariat Presiden.)
Presiden Jokowi. (Tangkapan layar YouTube Sekretariat Presiden.)

Beli apa-apa semuanya dari desa kita, apa pun. Mau beli telur, misalnya tambahan gizi untuk anak, enggak perlu lah harus ke kota. Cari, mungkin terpaut harganya, terpaut, tapi tetap beli di desa kita, karena nanti uangnya berputar di situ terus, itulah yang akan menghidupi masyarakat kita, masyarakat desa. Pada akhirnya nanti akan menurunkan angka kemiskinan di desa, dan sudah kelihatan. Coba dilihat kurvanya sudah turun, turun, turun, turun terus, turun terus. Kita harapkan ini kalau enggak pandemi sepertinya sudah agak tajam, tapi karena ada pandemi, naik sedikit lagi. Ini yang kita harapkan, kenapa pembangunan itu dimulai dari desa.

Baca Juga: DivHubinter Polri Berkontribusi Kembangkan Strategi Keamanan Regional Melanesian Spearhead Group

Kemudian untuk tahun ini, tahun ini total yang ditransfer nantinya Rp68 triliun. Ini sampai pagi tadi saya cek sudah berapa sih serapannya? Masih 13,5 persen. Mungkin juga tadi keluhan dikarenakan laporan SPJ-nya yang terlalu ruwet dan bertele-tele, betul?

Pak Mendagri, ini coba diurus dengan Kementerian Keuangan agar yang namanya SPJ itu tidak ruwet-ruwet lah. Nanti para kepala desa ini, tidak ngecek jalan, tidak ngecek irigasi, tidak ngecek posyandu, malah urusan buat SPJ saja. Saya itu lihat SPJ sudah pusing juga. Saya aja yang ngeliat aja pusing, apalagi yang melaksanakan. Tapi saya sudah bolak-balik perintah mengenai ini, ternyata enggak mudah juga mengubah sistem akuntansi kita. Tapi moga-moga setelah keluhan ini nanti ditindaklanjuti oleh Mendagri, agar semuanya lebih simpel dan lebih mudah, lebih sederhana.

Kemudian, yang berkaitan dengan BLT Desa. Tadi Pak Ketua Apdesi menyampaikan, jangan minimal 40 persen tapi maksimal 40 persen. Ya, saya setuju. Sehingga kepala desa bisa mengkreasi anggaran yang ada juga untuk kemungkinan keperluan-keperluan lain yang mendesak, yang di antara desa dengan desa satu itu berbeda-beda. Diskresi itu yang kita berikan kepada kepala desa.

Kemudian yang terakhir, mengenai stempel. Saya terus terang juga baru tahu, tadi di depan diberitahu Pak Surta, tadi diberitahu, kaget juga saya. Terus gambarnya apa kalau enggak.. Hanya tulisan saja?

Pak Menteri Dalam Negeri, ini dibuatin aja Instruksi Mendagri, capnya pakai burung garuda. Lho itu memang lambang negara kita kok, kalau dipakai oleh kepala desa ya wajar dan wajib toh. Clear semuanya.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Saya sangat menghargai sekali kerja keras Bapak-Ibu semuanya dalam pembangunan di desa-desa yang kita miliki, dan kita harapkan kesejahteraan, kemakmuran di desa-desa kita segera bisa kita wujudkan.

Apa? Apa? Oh, gajinya sebulan sekali. Pak Mendagri, ini masih satu yang belum dijawab. Setiap bulan, sudah. Saya terus terang enggak tahu, masa gaji diberikan tiga bulan sekali. Saya enggak ngerti, saya enggak ngerti. Tapi baru ya sudah, akan segera kita ubah, akan kita usahakan setiap bulan ya.

Masih ada lagi sebelum saya mundur? Aduh ini usulannya banyak sekali, nanti saya jawab, saya jawab. Nanti dikumpulin saja di Pak Ketua Apdesi, Pak Surta. Nanti kita kaji semuanya satu-satu, hal-hal yang menyebabkan desa tidak lincah, desa tidak cepat. Kemudian keputusan-keputusan yang bisa didelegasikan ke desa apa, nanti akan kita, semuanya kita ubah.

Halaman:

Editor: Pudja Rukmana

Tags

Terkini

X