Jokowi Geregetan Uang Rakyat Untuk Beli Barang Impor, Bodoh Banget Kita Ini!

- Jumat, 25 Maret 2022 | 23:19 WIB
Presiden Jokowi. (Tangkapan layar YouTube Sekretariat Presiden.)
Presiden Jokowi. (Tangkapan layar YouTube Sekretariat Presiden.)

Bismillahirahmanirahim.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Shalom,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam Kebajikan.

Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Maju,

Yang saya hormati para gubernur, bupati, dan wali kota dari seluruh tanah air Indonesia, para direktur utama BUMN,

Bapak-Ibu, hadirin undangan yang berbahagia,

Kita tahu saat ini semua negara, semua negara berada pada kesulitan ekonomi. Kesulitan ekonomi semuanya, baik karena pandemi Covid-19, baik karena disrupsi teknologi, dan terakhir ditambah babak belur lagi karena perang, sehingga semuanya menjadi tidak pasti, semuanya tidak bisa dihitung dengan angka-angka yang pasti. Semua negara betul-betul sekarang ini pusing semuanya.

Dalam dua minggu ini, saya mendapatkan telepon beberapa kepala negara, kepala pemerintahan. Kemarin Presiden Macron telepon, sebelumnya Presiden Xi Jinping telepon, sebelumnya Perdana Menteri Justin Trudeau telepon, sebelumnya Kanselir Olaf Scholz, kanselir yang baru dari Jerman telepon. Semuanya sama, bingung menyelesaikan persoalan-persoalan yang kita alami bersama.

Baik karena kelangkaan energi, coba kita lihat naik dari yang dulu hanya 50-60 US dollar per barel sekarang 118 (US dollar), dua kali lipat. Sehingga, negara-negara yang tidak menyubsidi BBM-nya, naik langsung dua kali lipat. Bayangkan, kita naik kadang-kadang 10 persen saja, demonya tiga bulan. Ini naik dua kali lipat, artinya 100 persen naik. Gas naik, harga pangan naik, kelangkaan harga pangan naik, termasuk yang terseret harga kedelai misalnya, harga gandum misalnya, karena penyuplai gandum dunia itu Ukraina, Rusia, Belarusia, semuanya lari ke mana-mana.

Kelangkaan energi, kelangkaan pangan, lari lagi ada kelangkaan kontainer. Jangan main-main dengan kelangkaan kontainer, harganya sampai lima sampai enam kali lipat dari harga normal. Dulu-dulu pada keadaan normal, Bapak-Ibu mau cari kontainer seribu kontainer sehari aja bisa, dua ribu kontainer gampang carinya. Sekarang, cari satu saja sulit sekali karena ada disrupsi, kekacauan, yang dampaknya jangan main-main. Karena kelangkaan kontainer, distribusi logistik/distribusi barang semuanya terganggu, baik dari negara satu ke negara lain, baik dari provinsi satu ke provinsi yang lain, pulau satu ke pulau yang lain. Trade cost-nya, ongkosnya, biayanya menjadi naik enam kali lipat. Bayangkan. Artinya apa? Beban barang itu juga akan naik, terbebani oleh trade cost, biaya kontainer.

Yang akhirnya nanti, konsumen membeli jauh lebih mahal, artinya harga-harga akan naik. Hati-hati, hal-hal seperti ini semua kita harus mengerti, ini akan larinya ke mana harus mengerti. Yang nanti titik akhirnya kenaikan inflasi. Hati-hati, kita sekarang masih bisa mengendalikan inflasi di angka 2,2 persen. Amerika yang biasanya tidak pernah lewat dari 1 persen, sekarang sudah di angka 7,5 persen. Dan, semua negara sekarang naik, naik, naik, naik, naik semuanya, bahkan Turki sampai hampir 50 persen.

Halaman:

Editor: Pudja Rukmana

Tags

Terkini

X