• Selasa, 28 Juni 2022

Buka Forum B20, Jokowi Singgung Investasi Telekomunikasi Bawah Laut Indonesia-AS

- Jumat, 28 Januari 2022 | 15:28 WIB
Presiden Jokowi (Tangkapan layar YouTube Sekretariat Presiden.)
Presiden Jokowi (Tangkapan layar YouTube Sekretariat Presiden.)

Covid-19 mengajarkan kepada kita bahwa pandemi bukan hanya menjadi masalah, namun sekaligus menjadi peluang, peluang untuk tumbuh lebih baik. Kita harus memanfaatkan peluang ini untuk mewujudkan tata kelola dunia yang lebih adil, yang memberikan kesejahteraan dan kemakmuran, serta menjamin pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Presidensi G20 Indonesia mengajak G20 dan B20 untuk berkolaborasi menciptakan terobosan-terobosan dan aksi nyata untuk berkontribusi lebih besar bagi pemulihan ekonomi global. Sejalan dengan fokus utama Presidensi G20 Indonesia, ada tiga hal peluang utama yang harus kita manfaatkan.

Pertama, transisi menuju green economy, kedua, tren digital ekonomi yang semakin pesat, dan yang ketiga, perbaikan arsitektur kesehatan global yang lebih responsif dalam menghadapi pandemi global. 

Bapak, Ibu, dan hadirin yang saya hormati,

Transisi menuju ekonomi hijau yang berkelanjutan merupakan tanggung jawab besar dan sekaligus memberikan peluang besar. Potensi di sektor energi terbarukan harus diikuti dengan skenario dan peta jalan yang jelas, termasuk pendanaan dan investasi.

Indonesia memiliki potensi energi baru terbarukan sebesar 418 gigawatt, baik yang bersumber dari air, panas bumi, angin maupun matahari. Indonesia memiliki kekayaan sumber daya mineral logam yang dibutuhkan untuk mendorong transisi menuju ekonomi hijau yang berkelanjutan. Kami kaya akan nikel, bauksit, timah, dan tembaga. Kami memastikan akan menyuplai cukup bahan-bahan tersebut untuk kebutuhan dunia. Namun, bukan dalam bentuk bahan mentah, tetapi dalam bentuk barang jadi atau setengah jadi yang bernilai tambah tinggi.

Hilirisasi nikel yang telah kita lakukan sejak 2015 sudah memberikan dampak, tidak hanya dalam penciptaan lapangan kerja tapi juga dalam sisi ekspor maupun neraca perdagangan Indonesia. Nilai ekspor Indonesia 230 miliar US dollar, di mana besi baja berperan sangat besar peningkatannya. Ekspor besi baja di tahun 2021 mencapai 20,9 miliar US dollar, meningkat dari sebelumnya hanya 1,1 miliar US Dollar di tahun 2014. Tahun 2022 ini, saya kira bisa mencapai 28-30 miliar US dollar.

Setelah nikel, kita akan mendorong investasi di sektor bauksit, tembaga, dan timah. Kebijakan kami tentang mekanisme transisi energi dari fossil fuel ke energi baru terbarukan juga akan menjamin kepastian investasi. Di Jawa dan Sumatra, kita mendorong 
early retirement PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) ke energi baru terbarukan, seperti geotermal dan solar panel, dan kita akan membuka partisipasi di sektor swasta untuk berinvestasi di transisi energi ini. Saat ini, ada 5,5 gigawatt PLTU yang siap untuk program early retirement ini.

Dekarbonisasi di sektor transportasi juga menjadi perhatian serius kami. Elektrifikasi secara besar-besaran di sektor transportasi dimulai dengan pembangunan mass urban transport 
seperti LRT (Lintas Rel Terpadu) dan MRT (Moda Raya Terpadu) di Jakarta, serta mendorong investasi untuk pabrik mobil listrik.

Kami mengharapkan kontribusi B20 untuk mempercepat transformasi energi yang mulus tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap masyarakat kecil. Solusi global dalam hal pendanaan dan kemitraan merupakan agenda yang harus menjadi perhatian utama kita, termasuk alih teknologi untuk mendorong produksi berbasis ekonomi hijau. Kita mengundang investasi yang bisa mendorong nilai tambah yang saling menguntungkan.

Halaman:

Editor: Pudja Rukmana

Tags

Terkini

X