Memanfaatkan Kereta Api di Sulawesi Selatan

- Kamis, 8 Desember 2022 | 07:15 WIB
Djoko Setijowarno
Djoko Setijowarno

Oleh: Djoko Setijowarno*

SUARAKARYA.ID: _Keberadaan perkeretaapian di Sulawesi Selatan sudah ada sejak era Pemerintahan Hindia Belanda tahun 1922. Kemudian berlanjut studi kelayakan, perencanaan dan grounbreaking jalur KA Makassar – Parepare di era Presiden Susilo Bambang Yudoyono tahun 2014. Tahun 2015 dimulai pengerjaan konstruksi di masa Presiden Joko Widodo, sehingga dapat beroperasi tahun 2022._

Pada 1 Juli 1922, Pemerintah Hindai Belanda selesai membangun jalan rel antara Makassar (Stasiun Pasar Butung)–Takalar sejauh 47 km dan setahun kemudian trem uap resmi dibuka untuk umum. Lintas ini menjadi yang pertama sekaligus terakhir yang dibangun pemerintah Hindia Belanda.

Pada akhirnya, sejak 1930 layanan kereta tremOlee uap terpaksa ditutup karena subsidi dari Staatsspoor en Tramwegen (jawatan kereta api dan trem negara di Jawa) untuk Staatstramwegen op Celebes dihentikan akibat krisis ekonomi dunia Depresi Besar pada 1929.

Baca Juga: Kereta Cepat Membangun Sejarah dan Peradaban

Pembangunan dimulai kembali di masa Presiden Susilo Bambang Yudoyono. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian melakukan groundbreaking proyek Kereta Api Trans Sulawesi di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan pada 12 Agustus 2014. Hadir dalam acara tersebut Menteri Perhubungan, EE Mangindaan dan Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo.

Pemancangan tiang pertama Trans-Sulawesi untuk jalur Makassar-Parepare dilakukan pada 12 Agustus 2014. Lokasinya di Desa Siawung, Kecamatan Barru, Kabupaten Barru.

Proyek ini merupakan jalan Kereta Api (KA) Trans Sulawesi tahap I (Makassar-Parepare) sepanjang 143 km yang juga merupakan bagian awal dari pengembangan perkeretaapian Trans Sulawesi yang ditargetkan sepanjang 2.000 km dari Makassar ke Manado.

Baca Juga: Menhub Tinjau Operasional Terbatas Jalur Kereta Api Pangkep - Maros

Halaman:

Editor: Markon Piliang

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kerawanan Dinasti Politik

Senin, 6 Februari 2023 | 00:45 WIB

Wajah Angkutan Perkotaan dengan Skema Buy The Service

Kamis, 2 Februari 2023 | 15:40 WIB

Kedaulatan SDA dan Skema Ekspor

Kamis, 2 Februari 2023 | 01:35 WIB

Konflik Kepentingan

Senin, 30 Januari 2023 | 07:39 WIB

Pariwisata dalam Balutan Olahraga

Selasa, 24 Januari 2023 | 00:52 WIB

Tuntutan Kompetitif

Selasa, 24 Januari 2023 | 00:35 WIB

Pemerintahan Bersih

Minggu, 15 Januari 2023 | 17:01 WIB

Transjakarta Telah Menginspirasi

Minggu, 15 Januari 2023 | 09:33 WIB

Subsidi Layanan Transportasi

Minggu, 8 Januari 2023 | 15:58 WIB

Subsidi Tepat Sasaran KRL Jabodetabek

Rabu, 4 Januari 2023 | 16:25 WIB

Dibuang di UU Pers, Dipunggut ke dalam KUHP

Jumat, 30 Desember 2022 | 13:16 WIB

Konsep Kemanusiaan Dalam Sejarah Perang dan Konflik

Kamis, 29 Desember 2022 | 11:53 WIB

Intensif Kendaraan Listrik harus Tepat Sasaran

Selasa, 27 Desember 2022 | 16:34 WIB

Piala Dunia dan Islam

Senin, 26 Desember 2022 | 22:43 WIB

Keselamatan Transportasi di Penghujung Tahun

Rabu, 21 Desember 2022 | 18:29 WIB

Perlu Instruksi Presiden untuk Angkutan ODOL

Selasa, 20 Desember 2022 | 13:24 WIB

HIPMI dan UMKM

Senin, 19 Desember 2022 | 21:26 WIB
X