• Minggu, 5 Februari 2023

Perubahan Iklim

- Senin, 28 November 2022 | 13:05 WIB
Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Surakarta (Ist)
Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Surakarta (Ist)
 
Oleh Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi
 
SUARAKARYA.ID: Pemanasan global dan perubahan iklim merupakan dua istilah yang marak untuk dikaji seiring dengan pesatnya era pembangunan dan industrialisasi. Secara teoritis pemanasan global adalah terjadinya peningkatan suhu rerata atmosfer sedangkan perubahan iklim (climate change) adalah terjadinya perubahan iklim secara sistematis,
komprehensif dan signifikan.
 
Persepsian umum menegaskan bahwa perubahan iklim merupakan imbas dari pemanasan global. Data menegaskan pada seabad terakhir terjadi peningkatan suhu yaitu antara 0,74 – 0,18 derajat celcius (secara global) dan untuk kasus di Indonesia mengacu data Bappenas terjadi kenaikan 0,5 derajat celcius. Konsekuensi dari perubahan tersebut adalah terjadinya berbagai perubahan misalnya kecenderungan iklim yang kurang stabil, permukaan air laut meningkat, kondisi ekologis yang mengalami gangguan dan ancaman  kerusakan  infrastruktur karena terjadi ketidakseimbangan ekosistem, termasuk tentunya mata rantai kehidupan yang berubah drastis.
 
Selaras dengan ancaman perubahan iklim dan imbasnya terhadap mata rantai kehidupan, maka agenda KTT PBB untuk perubahan iklim (Conference of the Parties – COP) ke-27 berlangsung di Sharm el-Sheikh Mesir pada 6-18 November 2022 kemarin. Hasil dari KTT ini yaitu dirumuskannya tindakan konkret untuk mereduksi perubahan iklim sebagai imbas dari pemanasan global. Memang tidak mudah karena ada banyak kepentingan dibalik itu semua tetapi bukan tidak mungkin untuk secepatnya dilakukan secara bersama, terutama sinergi antara negara industri maju dan miskin berkembang. Oleh karena itu, nilai utama dari  agenda pentingnya adalah pembahasan tentang ancaman perubahan iklim era global termasuk juga implikasinya terhadap pembangunan berkelanjutan.
 
 
Tidak bisa dipungkiri bahwa pembangunan berkelanjutan yang bersinergi dengan acuan industrialisasi berdampak sistemik terhadap semua aspek. Oleh karena itu, tuntutan daya saing melalui efisiensi dan produktivitas ternyata tidak bisa terlepas dari kepentingan riil untuk tetap menjaga keseimbangan alam - iklim. Betapa tidak, ‘pelacuran’ industrialisasi telah memicu sejumlah dampak yang tidak kecil, termasuk misalnya terjadinya sejumlah bencana di berbagai daerah dan negara.
 
Terkait hal ini, mencari kambing hitam berdalih penyalahan terhadap subyek - obyek pembangunan tentu tidak relevan karena bencana itu sendiri merupakan konsekuensi dari pesatnya pembangunan dan industrialisasi. Fakta lain bahwa bencana yang terjadi  merupakan hubungan sebab – akibat sehingga menjadi tidak relevan jika masih terus mencari kambing hitam dibalik pembenaran sepihak.
 
Fakta pemanasan global juga tidak bisa terlepas dari produksi gas rumah kaca sehingga emisi karbondioksida di Indonesia diprediksi mencapai 800 juta ton dan emisi dari alih fungsi lahan juga sekitar 600 juta ton. Oleh karena itu, beralasan jika Indonesia termasuk negara di urutan ketiga yang menyumbang emisi tersebut. Jadi, perlu adanya strategi jitu untuk mereduksi emisi tersebut dan pastinya tidak bisa hanya dibebankan kepada dunia usaha dan industri tetapi juga harus selaras dengan pelibatan semua elemen masyarakat. Terkait ini
maka edukasi, literasi dan reduksi menjadi sangat penting sehingga tuntutan terhadap pengurangannya menjadi semakin konkret, bukan sekedar seremonial semata.
 
 
Dunia usaha dan industri pastinya berkepentingan untuk mereduksinya sementara dunia akademis juga tidak bisa diabaikan peran untuk mendukung terhadap keselarasan dalam pembangunan berkelanjutan sehingga emisi yang dihasilkan bisa semakin minimal. Oleh karena itu logis jika kemudian muncul seruan secara global untuk bersatu memeranginya karena memang dampaknya sangat menakutkan. Fakta dari pembangunan berkelanjutan - industrialisasi ternyata berdampak sistemik terhadap iklim dan lingkungan. Di satu sisi, pembangunan - industrialisasi penting untuk kesejahteraan, tetapi disisi lain imbasnya juga harus diperhatikan. Oleh karena itu kepedulian global dari pesatnya pembangunan - industrialisasi menjadi penting. Terkait fakta ini hasil dari COP ke-27 sangat diharapkan memberikan kontribusi terhadap pembangunan dan industrialisasi yang bisa lebih ramah
lingkungan dan iklim sehingga dampak negatifnya dapat direduksi.
 
* Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Surakarta

Editor: Gungde Ariwangsa

Sumber: Edy Purwo Saputro

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Wajah Angkutan Perkotaan dengan Skema Buy The Service

Kamis, 2 Februari 2023 | 15:40 WIB

Kedaulatan SDA dan Skema Ekspor

Kamis, 2 Februari 2023 | 01:35 WIB

Konflik Kepentingan

Senin, 30 Januari 2023 | 07:39 WIB

Pariwisata dalam Balutan Olahraga

Selasa, 24 Januari 2023 | 00:52 WIB

Tuntutan Kompetitif

Selasa, 24 Januari 2023 | 00:35 WIB

Pemerintahan Bersih

Minggu, 15 Januari 2023 | 17:01 WIB

Transjakarta Telah Menginspirasi

Minggu, 15 Januari 2023 | 09:33 WIB

Subsidi Layanan Transportasi

Minggu, 8 Januari 2023 | 15:58 WIB

Subsidi Tepat Sasaran KRL Jabodetabek

Rabu, 4 Januari 2023 | 16:25 WIB

Dibuang di UU Pers, Dipunggut ke dalam KUHP

Jumat, 30 Desember 2022 | 13:16 WIB

Konsep Kemanusiaan Dalam Sejarah Perang dan Konflik

Kamis, 29 Desember 2022 | 11:53 WIB

Intensif Kendaraan Listrik harus Tepat Sasaran

Selasa, 27 Desember 2022 | 16:34 WIB

Piala Dunia dan Islam

Senin, 26 Desember 2022 | 22:43 WIB

Keselamatan Transportasi di Penghujung Tahun

Rabu, 21 Desember 2022 | 18:29 WIB

Perlu Instruksi Presiden untuk Angkutan ODOL

Selasa, 20 Desember 2022 | 13:24 WIB

HIPMI dan UMKM

Senin, 19 Desember 2022 | 21:26 WIB

Skema Transisi Energi

Selasa, 13 Desember 2022 | 01:00 WIB
X