Kepahlawanan NU: Gus Dur Pahlawan Anti Diskriminasi

- Selasa, 15 November 2022 | 05:39 WIB
Irwan Hidayat  (AG Sofyan )
Irwan Hidayat (AG Sofyan )
 
 
SUARAKARYA.ID: Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hasyim Asy'ari, memang layak menjadi Pahlawan Nasional. Kiai karismatik berjuluk Hadratus Syaikh yang berarti Maha Guru ini dikenal sebagai ahli ilmu agama, khususnya tafsir, hadits, dan fiqih.
 
Gelar Pahlawan Nasional, beliau dapatkan karena pada masa penjajahan Belanda, Hasyim Asy'ari ikut mendukung upaya kemerdekaan dengan menggerakkan rakyat melalui fatwa jihad. Yang kemudian dikenal sebagai Resolusi Jihad melawan penjajah Belanda pada 22 Oktober 1945.
 
 
Akibat fatwa itu, meledaklah perang hebat di Surabaya pada 10 November 1945. Pengaruhnya sungguh menyihir arek-arek Suroboyo bergerak cepat berani melawan tentara Belanda.
 
Tak hanya Hasyim Asy'ari. Sebenarnya, menurut penulis ada tokoh lain dari NU yang juga layak mendapat gelar Pahlawan Nasional, yaitu Abdurrahman Wahid.
 
 
Gus Dur, panggilan akrabnya,  salah satu tokoh muslim Indonesia dan pemimpin politik yang menjadi Presiden Indonesia yang keempat dari tahun 1999 hingga 2001.
 
Dan saat sekarang dengan desakan masyarakat agar pemerintah mengandalkan Pahlawan Nasional kepada Gus Dur, saat ini tak hanya datang dari kalangan keluarga besar nahdliyin, namun juga dari para warga Tionghoa.
 
 
Gus Dur dipandang sebagai Bapak Bangsa itu sangat berjasa bagi negeri ini. Putra KH Wahid Hasyim adalah sosok yang mampu menghapus diskriminasi SARA (Suku, Ras, Agama, dan Antar Golongan) dan membumihanguskan praktik-praktik intoleransi. 
 
Penulis selalu mengenang keberadaan Gus Dur saat merayakan Imlek. Imlek, sejatinya tidak sekadar merayakan dimulainya tahun baru Cina. Namun lebih dari itu adalah juga momentum mengungkapkan rasa syukur dan berkat Tuhan karena atas jasa baik Gus Dur ini, Imlek kembali bisa dirayakan dengan tanpa rasa cemas dan ketakutan dari seluruh masyarakat Tionghoa di Nusantara ini.
 
 
"Kami tidak hanya membicarakan tentang perayaan Tahun Baru Imlek saja. Tapi juga di semua lini. Mulai dari kecenderungan masyarakat untuk memilih lagu, pendidikan, berkesenian, dan berbudaya. Hingga penamaan hotel, simbol-simbol, makanan, atau tempat  hingga pemilihan baju pun, saat ini sudah sangat berbeda saat sebelum 
era Gus Dur," demikian ungkapan jamak dari warga Tionghoa.
 
"Jadi sudah sangat luar biasa apa yang dilakukannya untuk kami, para warga minoritas. Kebebasan untuk kami 
hidup, tinggal, dan mati di bumi pertiwi ini yang tidak bisa dilupakan karena jasa mulia Gus Dur," ungkap mereka.
 
 
Penulis menegaskan praktik diskriminasi ini sangat berbahaya dan menjadi ancaman bagi masa depan Indonesia jika dibiarkan, tanpa adanya keberanian untuk mengakhirinya.
 
Layaknya penyakit kanker, diskriminasi akan tumbuh berkembang secara pelan tapi pasti menyebar. Dan akhirnya akan terjadi self diskriminasi atau mendiskriminasi diri sendiri .
 
 
Mungkin awalnya diskriminasi pada etnis Tionghoa. Tapi bukan tidak mungkin, kalau saat itu Gus Dur tidak jadi Presiden, akan berbeda dengan keadaan saat sekarang.
Misalnya, yang hanya boleh jadi presiden itu etnis Jawa saja. Atau lebih parah lagi, yang berbau Barat saja yang boleh tampil. 
 
Dengan begitu, penulis berpendapat legacy yang dilakukan Gus Dur itu sangat fundamental dan strategis.
 
Tugas Tuhan
 
Ada kejadian saat penulis pernah bertanya kepada Gus Dur, ketika beliau sudah tidak menjadi Presiden dan mampir ke kantor SidoMuncul, Cipete, Jakarta.
 
 
"Saya bilang: Gus, njenengan (anda) adalah orang sangat jenius. Diberi tugas oleh Tuhan untuk menghilangkan diskriminasi di Indonesia selama 5 tahun, Gus malah bisa menyelesaikan lebih cepat dalam dua tahun."
 
Lalu apa yang terjadi dengan jawaban beliau?
 
Kata Gus Dur, "Yang benar itu cuma 18 bulan, Pak Irwan," jawab suami Sinta Nuriyah itu, seraya tertawa. 
 
 
Apa yang legacy tinggalkan Gus Dur, saat ini, sudah selayaknya kita saling membantu, saling menjaga, dan saling mendukung dalam melewati semua kesulitan yang dihadapi bangsa ini. 
 
Apalagi dunia saat ini dalam ancaman resesi global. Banyak negara-negara di belahan dunia di ambang kebangkrutan karena krisis pangan dan energi. Terlebih dengan perang Rusia dan Ukraina yang tak kunjung usai juga menjadi pemicu krisis global yang makin mengkhawatirkan.
 
 
Namun penulis percaya dan optimistis Indonesia tidak akan mengalami resesi. Bahwa terkena imbas krisis global, tentu tidak bisa dipungkiri.
 
Penulis yakin daya tahan ekonomi Indonesia masih mampu meredam inflasi. Ini karena 
fundamental ekonomi Indonesia kuat yang ditopang oleh jutaan UMKM, kekayaan alam dan SDM yang terkelola dengan baik.
 
Di samping itu, penulis juga mengingatkan bahwa pondasi kegotoroyongan yang dimiliki bangsa ini masih terjaga, yang menjadi modal Indonesia bisa bangkit dari terpaan pandemi Covid-19. Bahkan akan tetap tangguh dan menjadi bangsa besar karena teruji dengan segala cobaan dan tantangan.
 
 
Penulis melihat karya kehidupan Gus Dur telah memengaruhi tak hanya dalam lingkup keluarga, namun juga lintas keluarga, etnis dan iman. Tentu layaknya satu keluarga besar Indonesia, kita perlu senantiasa menggerakkan cinta kasih. Untuk menghapus bencana dunia dari diskriminasi, otoritarian kekuasaan, pelanggaraan hak azasi manusia dan lingkungan.
 
Gus Dur bukan saja berjasa bagi kaum etnis Tionghoa. Tetapi yang paling penting Gus Dur justru sangat berjasa bagi negeri ini.
 
Penulis mengatakan ini, karena diskriminasi yang dilakukan akan membuat negara tidak akan bisa maju.
 
 
Dengan hilangnya diskriminasi, saat ini Indonesia bisa lebih cepat maju dan berkembang lebih pesat lagi. 
 
Banyak perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat kita, setelah cita-cita dan perjuangan Gus Dur mampu mengubah kebijakan negara.
 
Penulis mendukung pernyataan Dai A’wan PWNU Jawa Timur H Babun Suharto dan Ketua PC Lembaga Kesehatan NU (LKNU) Jember, Akhmad Multazam. 
 
 
Menurut mereka, Gus Dur sebagai Guru Bangsa yang pengabdian dan kontribusi pemikirannya bagi kemajuan bangsa begitu besar, sehingga sangat layak mendapat gelar Pahlawan Nasional. 
 
Dikatakannya, Gus Dur mampu menjadi sosok pemersatu dari berbagai golongan. Gagasan dan pemikirannya mendunia. Bahkan hingga saat ini pengikut dan penerus perjuangannya masih banyak. 
 
Di antaranya yang tergabung dalam Gusdurian, yang anggotanya bukan cuma warga NU, tapi nonNU bahkan nonmmuslim. Itu menandakan, Gus Dur memayungi semua pemeluk agama.  Sehingga beliau memang layak dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
 
 
Salah satu alasannya adalah perjuangan Gus Dur dalam membela keberagaman dan pluralisme, sangat kental dan telah membumi di sanubari anak-anak Ibu Pertiwi.
 
Perjuangan kesetaraan manusia dalam berbangsa dan beragama dan kenegarawanannya telah melampaui batas 
kepentingan pribadi, kelompok (NU) maupun kekuasaannya.
 
 
Gus Dur sangat menghargai kelompok minoritas. Bahkan dalam kasus tertentu yang menimpa kaum minoritas, Gus Dur berada di garis terdepan untuk membelanya.
 
Sebab bagi Gus Dur, kaum minoritas juga mempunyai hak yang sama untuk hidup dan menikmati kehidupan di negeri ini. Dan membela harkat dan martabat NKRI karena sudah menjadi tumpah darahnya.
 
Sikap Gus Dur tersebut sungguh besar manfaatnya, sehingga terjalin kerukunan umat beragama, baik di Jawa maupun luar Jawa. 
 
 
Dari sinilah, penulis menegaskan Bangsa Indonesia harus berterima kasih kepada Gus Dur karena keberaniannya menghapus segala bentuk diskriminasi.
 
Kepahlawanan Gus Dur ini yang harus terus diwariskan dan dibumikan kepada segenap tumpah darah anak bangsa Indonesia.   
 
Selamat tinggal Gus, Tuhan akan menjadikan almarhum senantiasa damai di alam baka. Kami akan selalu mendoakanmu. ***
 
 
Irwan HidayatDirektur SidoMuncul dan Sociopreneur

Editor: Markon Piliang

Sumber: Liputan langsung narasumber

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kerawanan Dinasti Politik

Senin, 6 Februari 2023 | 00:45 WIB

Wajah Angkutan Perkotaan dengan Skema Buy The Service

Kamis, 2 Februari 2023 | 15:40 WIB

Kedaulatan SDA dan Skema Ekspor

Kamis, 2 Februari 2023 | 01:35 WIB

Konflik Kepentingan

Senin, 30 Januari 2023 | 07:39 WIB

Mengapresiasi Komitmen NU Jaga Keutuhan NKRI

Selasa, 24 Januari 2023 | 16:06 WIB

Pariwisata dalam Balutan Olahraga

Selasa, 24 Januari 2023 | 00:52 WIB

Tuntutan Kompetitif

Selasa, 24 Januari 2023 | 00:35 WIB

Mengapa Baru Sekarang Ridwan Kamil Masuk Parpol

Sabtu, 21 Januari 2023 | 13:41 WIB

Pemerintahan Bersih

Minggu, 15 Januari 2023 | 17:01 WIB

Transjakarta Telah Menginspirasi

Minggu, 15 Januari 2023 | 09:33 WIB

Laptoplisasi: ICT Terbarukan Dalam Pendidikan

Sabtu, 14 Januari 2023 | 12:32 WIB

Subsidi Layanan Transportasi

Minggu, 8 Januari 2023 | 15:58 WIB

Subsidi Tepat Sasaran KRL Jabodetabek

Rabu, 4 Januari 2023 | 16:25 WIB

Refleksi HUT 50 Tahun PDIP, Menolak Lupa

Senin, 2 Januari 2023 | 16:51 WIB

Dibuang di UU Pers, Dipunggut ke dalam KUHP

Jumat, 30 Desember 2022 | 13:16 WIB
X