• Minggu, 5 Februari 2023

Mudah dan Murah

- Senin, 17 Oktober 2022 | 07:53 WIB
Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi (Ist)
Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi (Ist)
 
Oleh Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi
 
SUARAKARYA.ID: Jumlah penduduk yang semakin banyak tentu tidak bisa terlepas dari
kebutuhan dari pasokan pangan. Oleh karena itu, peringatan Hari Pangan Sedunia - World Food Day tiap 16 Oktober tidak hanya mengacu kepastian pasokan pangan tapi juga komitmen terhadap harga pangan yang murah.
 
Selain itu, perlu juga dipertimbangkan distribusi yang mudah untuk dibeli rakyat. Terkait hal ini tema peringatan Hari Pangan Sedunia – World Food Day kali ini yaitu: “Leave NO ONE behind’ atau ‘Tidak Meninggalkan SIAPAPUN di belakang’. Artinya, pangan menjadi sensitif
jika dikaitkan distribusi di tahun politik menuju pilpres 2024 karena lawan politik pasti akan mencari peluang di balik isu pangan. politisasi isu pangan akan terus dikembangkan pada tahun politik karena ini juga berkaitan dengan upaya mendulang suara untuk pemenangan.
 
Yang juga menarik dicermati bahwa pangan tidak bisa terlepas dari pertanian pangan di sejumlah daerah. Argumen yang mendasari karena pertanian pangan akan menjadi sumber penghasil pasokan pangan. Ironisnya, pertanian pangan terkait dengan jumlah lahan  pertanian, sementara di sisi lain fakta lahan pertanian cenderung semakin redup karena dijual untuk kepentingan pemenuhan perumahan dan permukiman. Sinergi ini menjadi dasar bahwa mata rantai pasokan pangan merupakan akumulasi dari pasokan yang tidak terlepas dari pertanian pangan dan juga harga pangan itu sendiri.
 
 
Pertanian pangan sejatinya menjadi muara terhadap jaminan ketersediaan pangan yang mudah dan murah untuk rakyat. Hal ini menjadi penting karena pandemi dua tahun lalu jelas
berdampak sistemik terhadap sektor ekonomi bisnis, termasuk di sektor pangan.
 
Pandemi ternyata memang tidak hanya mereduksi di sektor kesehatan tetapi dampak riil dari pandemi tersebut ternyata juga menggerus di sektor pangan karena daya beli semakin  rendah sehingga harga pangan semakin tidak bisa terbeli oleh rakyat. Di sisi lain, daya  dukung sektor pertanian pangan juga semakin kecil karena faktor kompleks yang  mendasarinya, misalnya harga bibit dan pupuk yang terus naik, musim kemarau yang berkepanjangan dan curah hujan yang tinggi saat musim hujan.
 
Selain itu, fakta perubahan musim juga dijadikan kambing hitam dibalik kegagalan panen dari sektor pertanian pangan. Ironisnya, dalam ketidakseimbangan pangan tersebut justru harus dipenuhi dengan impor pangan yang akhirnya berdampak terhadap ketidakmampuan petani untuk kembali bergairah mengolah pertaniannya.
 
Baca Juga: Geliat Otomotif
 
Fakta lain yang juga menarik dicermati bahwa pemberlakuan era otda ternyata tidak mampu mereduksi migrasi ke perkotaan. Imbasnya pedesaan tetap saja tidak semakin berkembang dan pertanian pangan semakin ditinggalkan karena tidak menjanjikan dan tidak menarik untuk memperbaiki kehidupan. Implikasi dari fenomena ini dipastikan tidak akan ada regenerasi di sektor pertanian.
 
Generasi muda di pedesaan lari ke kota mencari penghidupan yang lebih baik, yang lebih
menjanjikan perbaikan hidup yang kemudian situasi di pedesaan semakin marginal. Oleh karena itu, ketika tidak terjadi regenerasi pertanian maka pertanian pangan terancam dengan peralihan fungsi lahan menjadi permukiman dan perumahan. Jadi, bisa dipastikan luas area pertanian pangan semakin menyusut dan imbasnya yaitu pasokan pangan  berkurang yang kemudian hal ini berpengaruh terhadap akumulasi impor pangan setiap tahun.
 
Refleksi dari semakin pudarnya daya tarik pertanian pangan maka harapan terhadap swasembada pangan nampaknya semakin jauh. Terkait hal ini peringatan Hari Pangan Sedunia atau World Food Day menjadi acuan untuk mengembangan strategi dan juga kebijakan agar pertanian pangan tidak semakin ditinggalkan. Bagaimanapun juga laju jumlah penduduk yang semakin tinggi pasti tetap membutuhkan pangan dan jika hal ini
tidak bisa dipenuhi maka akan berdampak negatif terhadap stabilitas sosial karena ancaman terhadap kriminalitas akan semakin meningkat. Oleh karena itu, janganlah mengabaikan pentingnya ketersediaan pangan yang mudah dan murah untuk rakyat. ***
 
* Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Surakarta
 

Editor: Gungde Ariwangsa

Sumber: Edy Purwo Saputro

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Wajah Angkutan Perkotaan dengan Skema Buy The Service

Kamis, 2 Februari 2023 | 15:40 WIB

Kedaulatan SDA dan Skema Ekspor

Kamis, 2 Februari 2023 | 01:35 WIB

Konflik Kepentingan

Senin, 30 Januari 2023 | 07:39 WIB

Pariwisata dalam Balutan Olahraga

Selasa, 24 Januari 2023 | 00:52 WIB

Tuntutan Kompetitif

Selasa, 24 Januari 2023 | 00:35 WIB

Pemerintahan Bersih

Minggu, 15 Januari 2023 | 17:01 WIB

Transjakarta Telah Menginspirasi

Minggu, 15 Januari 2023 | 09:33 WIB

Subsidi Layanan Transportasi

Minggu, 8 Januari 2023 | 15:58 WIB

Subsidi Tepat Sasaran KRL Jabodetabek

Rabu, 4 Januari 2023 | 16:25 WIB

Dibuang di UU Pers, Dipunggut ke dalam KUHP

Jumat, 30 Desember 2022 | 13:16 WIB

Konsep Kemanusiaan Dalam Sejarah Perang dan Konflik

Kamis, 29 Desember 2022 | 11:53 WIB

Intensif Kendaraan Listrik harus Tepat Sasaran

Selasa, 27 Desember 2022 | 16:34 WIB

Piala Dunia dan Islam

Senin, 26 Desember 2022 | 22:43 WIB

Keselamatan Transportasi di Penghujung Tahun

Rabu, 21 Desember 2022 | 18:29 WIB

Perlu Instruksi Presiden untuk Angkutan ODOL

Selasa, 20 Desember 2022 | 13:24 WIB

HIPMI dan UMKM

Senin, 19 Desember 2022 | 21:26 WIB

Skema Transisi Energi

Selasa, 13 Desember 2022 | 01:00 WIB
X