Batik Ku dan Batik Mu

- Senin, 10 Oktober 2022 | 23:45 WIB
Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi  (Ist)
Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi (Ist)
 
Oleh Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi
 
SUARAKARYA.ID: Keppres No.33/2009 menyebut bahwa pemerintah menetapkan 2  Oktober sebagai Hari Batik Nasional dan peringatan ke-13 kali ini bertemakan ‘Yang Terbaik Yang Terbatik’ sebagai apresiasi usulan dari Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) yang bertujuan untuk mengenalkan batik khas bangsa Indonesia.
 
Oleh karena itu, apresiasi dari peringatan Hari Batik Nasional pada dasarnya tidak hanya menjadikan batik sebagai citra rasa dan jati diri serta kebanggan tetapi juga merefleksikan batik sebagai salah satu industri yang menopang perekonomian nasional. Betapa tidak, sejumlah sentra industri batik tersebar di sejumlah daerah dan pastinya di setiap daerah memiliki model, corak dan pola yang unik, berbeda dan sekaligus menjadi penciri yang membedakan dengan made in batik dari daerah lain.
 
Industri batik merupakan sektor yang juga penting dalam menyumbang PDB, selain itu juga berkontribusi dalam penyerapan tenaga kerja. Hal ini karena industri batik bersifat padat karya dan didominasi kelompok industri kecil – menengah dan sektor informal di pedesaan, meski juga ada di perkotaan. Oleh karena itu, kebangkitan industri batik akan memberikan kontribusi terhadap perekonomian lokal dan nasional.
 
Data Kemenperin di tahun 2020 ekspor batik yaitu US$ 532,7 juta dan ini angka yang relatif besar di masa pandemi ketika perekonomian terpuruk. Selain itu, penyerapan tenaga kerja mencapai 200.000 orang yang tersebar di 101 sentra batik, termasuk tentunya di Yogya. Fakta ini menjadi tantangan untuk terus mengembangkan industri batik nasional karena mampu menyerap tenaga kerja dan berkontribusi terhadap perekonomian nasional.
 
Baca Juga: Geliat Otomotif
 
Komitmen menjadikan industri batik semakin kuat di masa endemi tentunya tidak dapat hanya mengandalkan peran pemerintah pusat, tapi harus juga didukung oleh pemerintah  daerah sehingga ada sinergi antara pusat dan daerah. Hal ini menjadi penting karena di era kekinian tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah pusat, sementara kebangkitan ekonomi juga harus didukung oleh potensi ekonomi di daerah.
 
Industri batik itu sendiri sejatinya merupakan salah satu bagian dari ekonomi daerah yang bercorakan kekuatan di semua aspek termasuk tentunya pertimbangan kearifan lokal yang muncul dari setiap industri batik nasional. Terkait hal ini, beralasan jika pemerintah  menciptakan roadmap perkembangan dan pembangunan industri batik nasional, termasuk
juga relevansinya di era kekinian yang memadukan dengan perkembangan industri 4.0 dengan tuntutan untuk memacu digitalisasi di semua lini dalam industri batik nasional.
 
Harapan digitalisasi perbatikan pastinya mempertimbangkan urgensi mereduksi limbah produksi batik seminimal mungkin sehingga ini menjadi salah satu daya saing. Betapa tidak limbah industri batik merupakan salah satu persoalan serius, apalagi industri batik selama ini juga dikenal sebagai salah satu penyumbang limbah cair. Oleh karena itu, di Yogya semakin familiar penggunaan bahan baku perbatikan yang ramah lingkungan dan diharapkan hasil batiknya tidak sekedar menarik dan laku dijual tetapi juga menjanjikan terhadap ramah lingkungan. Artinya, tahapan ini adalah proses adopsi teknologi sebagai bagian dari kesadaran kolektif terhadap industri batik yang semakin ramah lingkungan.
 
Urgensi membangun kesadaran kolektif dari perkembangan industri batik menjadi lebih bermakna jika kepentingannya adalah untuk masa depan. Argumen yang mendasarinya tidak terlepas dari perkembangan industri 4.0 yang semakin menuntut efisiensi di setiap proses produksi, termasuk pastinya bagi industri batik nasional. Oleh karena itu, Yogya
sebagai salah satu sentra industri batik nasional berkepentingan untuk mendukung bagi proses produksi yang ramah lingkungan meski di sisi lain tidak bisa mengelak memacu efisiensi dan produktivitas di semua lininya.
 
Baca Juga: Geliat Otomotif
 
Batik sejatinya bukan sekedar model, motif, corak dan pola dari canting yang tergores di kain tapi ada makna yang terkandung dalam setiap goresan canting itu sendiri. Oleh karena itu, menjadi tantangan untuk terus mengembangkan batik nasional karena justru dari sinilah
terbangun kesadaran kolektif untuk mencintai batik dan sekaligus menjadi jati diri dan kebanggaan nasional. ***
 
* Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo

Editor: Gungde Ariwangsa

Sumber: Edy Purwo Saputro

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kerawanan Dinasti Politik

Senin, 6 Februari 2023 | 00:45 WIB

Wajah Angkutan Perkotaan dengan Skema Buy The Service

Kamis, 2 Februari 2023 | 15:40 WIB

Kedaulatan SDA dan Skema Ekspor

Kamis, 2 Februari 2023 | 01:35 WIB

Konflik Kepentingan

Senin, 30 Januari 2023 | 07:39 WIB

Pariwisata dalam Balutan Olahraga

Selasa, 24 Januari 2023 | 00:52 WIB

Tuntutan Kompetitif

Selasa, 24 Januari 2023 | 00:35 WIB

Pemerintahan Bersih

Minggu, 15 Januari 2023 | 17:01 WIB

Transjakarta Telah Menginspirasi

Minggu, 15 Januari 2023 | 09:33 WIB

Subsidi Layanan Transportasi

Minggu, 8 Januari 2023 | 15:58 WIB

Subsidi Tepat Sasaran KRL Jabodetabek

Rabu, 4 Januari 2023 | 16:25 WIB

Dibuang di UU Pers, Dipunggut ke dalam KUHP

Jumat, 30 Desember 2022 | 13:16 WIB

Konsep Kemanusiaan Dalam Sejarah Perang dan Konflik

Kamis, 29 Desember 2022 | 11:53 WIB

Intensif Kendaraan Listrik harus Tepat Sasaran

Selasa, 27 Desember 2022 | 16:34 WIB

Piala Dunia dan Islam

Senin, 26 Desember 2022 | 22:43 WIB

Keselamatan Transportasi di Penghujung Tahun

Rabu, 21 Desember 2022 | 18:29 WIB

Perlu Instruksi Presiden untuk Angkutan ODOL

Selasa, 20 Desember 2022 | 13:24 WIB

HIPMI dan UMKM

Senin, 19 Desember 2022 | 21:26 WIB
X