• Rabu, 30 November 2022

Keunggulan Kompetitif

- Minggu, 11 September 2022 | 17:18 WIB
Dr Edy Purwo Saputro SE, MSi (Ist)
Dr Edy Purwo Saputro SE, MSi (Ist)
 
Oleh Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi
 
SUARAKARYA.ID: Habibie adalah tokoh kebangkitan teknologi yang juga menjadi Presiden
ke-3 dan Wakil Presiden ke-7 di republik ini. Meski sudah meninggal pada 11 September 2019 tepat 3 tahun lalu tetapi perjuangan dan kiprah serta dedikasinya di bidang teknologi tidak ada yang meragukan, terutama di bidang kedirgantaraan.
 
Oleh karena itu, Habibie yang lahir di Parepare, Sulawesi Selatan 25 Juni 1936 menjadi spirit untuk dapat membangun dan mengembangkan teknologi, tidak hanya di bidang  kedirgantaraan tapi juga iptek secara umum. Argumen yang mendasari karena daya saing suatu negara di masa depan sangat tergantung kepada penguasaan teknologi. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak secepatnya membangun dan mengembangkan teknologi.
 
Komitmen terhadap penumbuhkembangan teknologi di masa depan menjadi tantangan di era kekinian dan karenanya generasi milenial, generasi z atau generasi tik tok haruslah sadar bahwa penguasaan teknologi menjadi kebutuhan mendesak. Terkait ini realita juga menegaskan bahwa digitalisasi dan internet menjadikan semua telah berubah, termasuk
juga keperilakuan keseharian di masyarakat. Selain itu, pandemi 2 tahun terakhir secara tidak langsung juga mendukung terhadap semua proses dan progres perubahan perilaku di masyarakat.
 
 
Betapa tidak, kini layanan dan transaksi digitalisasi semakin jamak untuk dilakukan
dan semuanya dianggap sebagai keperilakuan yang sah. Oleh karena itu, pasar di era kekinian tidak lagi pertemuan antara penjual dan penjual tapi pasar adalah model transaksi karena penjual dan pembeli tidak perlu lagi bertemu secara fisik atau face to face contact tapi bisa secara virtual dan digital. Bahkan pembayaran juga bisa secara non tunai karena cashless society saat ini semakin berkembang, termasuk juga penggunaan QR code yang semakin familiar di manfaatkan oleh generasi muda – milenial.
 
Ekonomi era digital tidak bisa dihindari dan sinergi antara produsen – konsumen perlu edukasi secara sistematis dan berkelanjutan. Argumen yang mendasari adalah mereduksi gap persepsian sehingga aspek kemudahan, keamanan dan kenyamanan transaksi dan operasional bisa diterima semua pihak. Oleh karena itu, ke depan model transaksi digital yang memanfaatkan jejaring internet secara real time online akan semakin berkembang yang kemudian berdampak sistemik terhadap model bisnis - keperilakuan.
 
Yang menjadi pertanyaan yaitu bagaimana proses edukasi yang dilakukan? Bagaimana jejaring ekonomi – bisnis menyikapi perubahan keperilakuan transaksi di era digital? Apakah
regulasi di era kekinian sudah melakukan transformasi ke arah digitalisasi semua keperilakuan? Hal ini harus juga dicermati karena fakta kehadiran Generasi Milenial dan Generasi Z dalam struktur kependudukan di Indonesia sesuai hasil SP 2020. Fakta ini secara
memberikan gambaran bahwa transaksi digital dan dunia maya sudah menjadi realita dan nyata. 
 
Baca Juga: Industri Kreatif
 
Ironi dari pembangunan dan pengembangan teknologi adalah tergantikannya peran SDM sehingga hal in disebut sebagai dehumanisasi karena peran manusia semakin tergantikan.  Persepsian tentang ‘dehumanisasi’ mengacu pemahaman tentang pengambilalihan peran manusia oleh mesin sebagai konsekuensi dari perkembangan teknologi dan internet di semua lini pekerjaan manusia. Oleh karena itu, robotisasi, elektronisasi dan otomatisasi yang terus berkembang seiring kekuatan inovasi teknologi yang didukung tarif internet yang semakin murah secara perlahan pasti akan menggeser dan menggantikan pekerjaan  manusia di semua bidang tanpa terkecuali. 
 
Apa yang terjadi dengan rasionalisasi untuk digitalisasi pembayaran hanyalah bagian kecil dari ancaman transformasi keperilakuan dan dehumanisasi secara sistematis dan berkelanjutan. Oleh karena itu, mau tidak mau semua harus bersiap untuk membekali diri dengan kompetensi dan keahlian lain yang sekiranya tidak tergerus - tergusur oleh adopsi teknologi yang memang bermata dua dan memicu dualisme bagi kehidupan.
 
Fakta pembangunan, pengembangan dan kebangkitan teknologi tidak terlepas dari kepentingan melakukan edukasi kepada masyarakat secara sistematis berkelanjutan karena mereka tidak hanya menjadi obyek tapi juga subyek dan user yang memberikan keleluasaan untuk sekedar gesek dan klik. Hal ini dimungkinkan karena ada dukungan perkembangan pengembangan kecerdasan buatan di semua sektor. ***
 
* Dr Edy Purwo Saputro SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo
 
 

Editor: Gungde Ariwangsa

Sumber: Edy Purwo Saputro

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kereta Cepat Membangun Sejarah dan Peradaban

Selasa, 29 November 2022 | 11:27 WIB

Perubahan Iklim

Senin, 28 November 2022 | 13:05 WIB

Kendaraan Listrik Jangan Berhenti Sampai KTT G20

Sabtu, 19 November 2022 | 06:53 WIB

Problem Sosial Migrasi

Jumat, 18 November 2022 | 08:23 WIB

Tunjangan dan Pengabdian

Sabtu, 12 November 2022 | 02:30 WIB

Sumpah Pemuda dan Dunia Baru

Rabu, 9 November 2022 | 15:32 WIB

Ancaman Krisis 2023

Rabu, 9 November 2022 | 15:14 WIB

Subsidi Angkutan Barang Perlu Ditambah

Senin, 31 Oktober 2022 | 22:26 WIB

Pandemi dan Resesi

Senin, 31 Oktober 2022 | 15:42 WIB

Kota Humanis

Senin, 24 Oktober 2022 | 23:15 WIB

Mendorong Industri Halal

Sabtu, 22 Oktober 2022 | 08:10 WIB

Transformasi Pariwisata

Kamis, 20 Oktober 2022 | 22:20 WIB

Mudah dan Murah

Senin, 17 Oktober 2022 | 07:53 WIB

Lokomotif Polri Bergerak

Kamis, 13 Oktober 2022 | 07:19 WIB

Tragedi Kanjuruhan dan Rendahnya Budaya Malu Bangsa 

Selasa, 11 Oktober 2022 | 23:39 WIB
X