• Senin, 28 November 2022

Dedikasi dan Urgensi

- Jumat, 9 September 2022 | 12:39 WIB
Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi  (Ist)
Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi (Ist)
 
Oleh Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi
 
SUARAKARYA.ID: Muhammadiyah akan mempunyai agenda besar yaitu Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah ke-48 pada 18-20 November 2022 di Solo. Acara itu
berkaitan dengan agenda pemilihan Ketua Umum PP Muhammadiyah, laporan
pertanggungjawaban 2015-2022, program kerja Muhammadiyah 2022-2027 dan
risalah Islam Berkemajuan. Meskipun demikian, juga akan ada pembahasan
tentang isu-isu umat dan kemanusiaan global. Hal ini menjadi benar
jika kemudian temanya adalah “Memajukan Indonesia, Mencerahkan
Semesta”. Intinya, Muhammadiyah berusaha berkhidmat memberikan
pelayanan dan melaksanakan program yang bermanfaat bagi masyarakat.
 
Pencapaian dari semua program itu ternyata juga diwarnai duka, misal
awal tahun 2020 meninggalnya Ketua PP Muhammadiyah, Yunahar Ilyas di
RS Sardjito Yogya 2 Januari 2020. Sebelumnya, pada Rabu 20 November
2019 tokoh Muhammadiyah dan Ketua PP Muhammadiyah Bahtiar Effendy
meninggal. Hal ini menjadi luka menjelang Muktamar Muhammadiyah dan
Aisyiyah ke-48 di Universitas Muhammadiyah Surakarta bertemakan
‘Memajukan Indonesia, Mencerahkan Semesta’ sesuai dengan SK PP
Muhammadiyah No.218/Kep/1.0/B/2017.
 
Rentang waktu meninggalnya kedua tokoh penting Muhammadiyah tentu
menimbulkan duka mendalam, tidak hanya bagi Muhammadiyah khususnya
tetapi juga bagi republik ini. Eksistensi kedua tokoh tersebut diakui
publik tidak hanya di dalam negeri tapi juga di luar. Oleh karena itu,
beralasan jika warisan beliau tentang berbagai dakwah dan juga
nilai-nilai pemikiran keIslaman dan keMuhammadiyahan menjadi sesuatu
yang aspek pertimbanganya bernilai strategis, tidak hanya untuk saat
ini tapi juga demi masa depan keagamaan dan keIslaman secara makro.
 
Kilas balik kiprah beliau di Muhammadiyah dimulai sejak 1986 dan
pernah menduduki sejumlah jabatan penting misalnya sebagai Ketua
Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus PP Muhammadiyah (2000-2005), Ketua
PP Muhammadiyah (2005-2010 / 2010-2015), Ketua Pimpinan Pusat
Muhammadiyah (2015-2020) dan Wakil Ketua MUI 2015-2020, setelah
sebelumnya menjabat sebagai Ketua MUI Pusat (2005-2010 / 2010-2015).
Dari segudang jabatan yang diamanahkan kepada beliau ternyata masih
sempat berdakwah di berbagai masjid, kampus, majelis taklim dan area
pengajian di mana saja. Salah satu hal yang menarik adalah penegasan
beliau bahwa kriteria ulama itu ada tiga, pertama: seorang alim yang
berilmu, kedua: memiliki rasa takut kepada Allah SWT dan ketiga:
keberadaannya di tengah masyarakat adalah sebagai pembimbing.
 
Nasehat wejangan tentang ulama itu menjadi dasar penting ditengah
dakwa yang penuh dengan realitas kemajemukan masyarakat. Betapa tidak,
saat ini disinyalir bermunculan banyak tokoh ulama karbitan atau
dadakan hanya bermodal medsos sehingga keilmuan yang dikuasainya tidak
mumpuni atau belum cukup matang. Namun sayangnya dakwah yang
dilakukannya justru menyebar dengan berbagai bumbu medsos yang
terkadang bisa menimbulkan fitnah dan ancaman konflik sosial –
keagamaan. Tentu ini tidak bisa ditolerir karena ancaman yang terjadi
yaitu perpecahan umat dan realitas ragam umat yang pecah bisa sangat
fatal. Oleh karena itu, benar adanya jika penyebutan ustadz atau ulama
- tokoh agama harus mengacu pertimbangan kemaslahatan karena
ancamannya juga bersifat massal yaitu keumatan yang majemuk yang bisa
saja sangat rentan konflik apalagi menuju pilpres 2024 yang bisa
memicu konflik horizontal dan vertikal. Jadi, pemikiran kedua tokoh
tersebut sebenarnya selaras dengan topik muktamar yaitu ‘Memajukan
Indonesia Mencerahkan Semesta’.
 
Jika dicermati sejatinya ada banyak pemikiran beliau yang masih sangat
relevan dengan mengacu fenomena dan persoalan yang muncul dan
berkembang saat ini dan tentu di masa depan. Setidaknya realitas
tentang ikhtilaf yang terjadi antar umat di era kekinian jelas masih
sangat relevan terutama dikaitkan dengan semakin banyaknya dan beragam
umat yang ada di masyarakat dengan bekal keilmuan yang juga beragam.
Oleh karena itu, Muhammadiyah pada khususnya dan NU pada umumnya serta
semua kalangan dari tokoh umat dan agama perlu bersatu padu terus
membangun kearifan lokal untuk dapat memberikan pemikiran terbaik bagi
republik ini sehingga kehidupan keagamaan bisa lebih harmonis di
tengah keberagamannya. Jadi berbagai wawasan dan pemikiran beliau
sejatinya menjawab semua problem keagamaan yang kini berkembang
sehingga logis jika Muhammadiyah berduka atas meninggalnya beliau
meskipun pemikirannya masih sangat relevan untuk menjawab tantangan
sosial keagamaan di saat ini dan masa depan. ***
 
* Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo
 

Editor: Gungde Ariwangsa

Sumber: Edy Purwo Saputro

Tags

Terkini

Kendaraan Listrik Jangan Berhenti Sampai KTT G20

Sabtu, 19 November 2022 | 06:53 WIB

Problem Sosial Migrasi

Jumat, 18 November 2022 | 08:23 WIB

Tunjangan dan Pengabdian

Sabtu, 12 November 2022 | 02:30 WIB

Sumpah Pemuda dan Dunia Baru

Rabu, 9 November 2022 | 15:32 WIB

Ancaman Krisis 2023

Rabu, 9 November 2022 | 15:14 WIB

Subsidi Angkutan Barang Perlu Ditambah

Senin, 31 Oktober 2022 | 22:26 WIB

Pandemi dan Resesi

Senin, 31 Oktober 2022 | 15:42 WIB

Kota Humanis

Senin, 24 Oktober 2022 | 23:15 WIB

Mendorong Industri Halal

Sabtu, 22 Oktober 2022 | 08:10 WIB

Transformasi Pariwisata

Kamis, 20 Oktober 2022 | 22:20 WIB

Mudah dan Murah

Senin, 17 Oktober 2022 | 07:53 WIB

Lokomotif Polri Bergerak

Kamis, 13 Oktober 2022 | 07:19 WIB

Tragedi Kanjuruhan dan Rendahnya Budaya Malu Bangsa 

Selasa, 11 Oktober 2022 | 23:39 WIB

Ketidakpastian Vs Kenyataan

Selasa, 11 Oktober 2022 | 00:46 WIB

Batik Ku dan Batik Mu

Senin, 10 Oktober 2022 | 23:45 WIB
X