• Sabtu, 1 Oktober 2022

Harga Pangan

- Selasa, 26 Juli 2022 | 10:21 WIB
Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi  (Ist)
Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi (Ist)
 
Oleh: Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi
 
SUARAKARYA.ID: Data BPS inflasi per Juni 2022 sebesar 0,61% dan inflasi tahunan
4,35%. Jika dicermati pergerakan harga sejatinya memang dipengaruhi
banyak faktor, bisa dari internal atau eksternal. Meski demikian,
gejolak harga harus diantisipasi agar tidak semakin liar yang
mereduksi daya beli, apalagi saat ini baru menapaki endemi setelah 2
tahun lalu terjadi pandemi. Oleh karena itu komitmen untuk bangkit
harus mendapat dukungan stabilisasi harga, termasuk tentu harga
pangan. Artinya, lonjakan yang terjadi pada Juni 2022 harus
dikendalikan. Argumen yang mendasari karena laju inflasi kelompok
harga bergejolak melebihi target BI dan pemerintah yaitu 4-5%. Sebagai
data inflasi inti pada Juni 0,19% (mtm) dan 2,63% (yoy) padahal
inflasi harga diatur oleh pemerintah 0,27% (mtm) dan 5,33% (yoy).
Kondisi ini tentu menjadi rentan jika dikaitkan dengan komitmen
bangkit pasca pandemi karena memang kini menuju endemi
 
Baca Juga: Haji Mabrur
 
Fakta belit inflasi memang harus dicermati karena sisa semester II
2022 masih akan ada ancaman dari inflasi musiman akhir tahun yang
biasanya sepaket dengan natal dan tahun baru. Meski tidak sebesar
ancaman inflasi musiman ramadhan – lebaran, tetapi ancaman inflasi
musiman tetap harus diantisipasi agar target inflasi tahunan sesuai
arahan APBN tidak jebol terutama imbas dari supply shock untuk
komoditas pangan - sembako. Selain itu, imbas dari komoditas lokal dan
impor juga tidak dapat diabaikan terhadap pengaruh inflasi. Argumen
yang mendasarinya bahwa pada kasus tertentu bisa saja besaran inflasi
dipicu oleh fluktuasi harga global, terutama untuk komoditas yang
diimpor sehingga ini sangatlah rentan terhadap berbagai kemungkinan
pasokan ke dalam negeri, termasuk juga misal dengan kebijakan kuota
impor. Di sisi lain, pengaruh pasokan untuk dalam negeri juga perlu
dicermati karena misalnya perubahan musim dan ketdakseimbangan yang
ada di tingkat petani. Jadi kepastian pasokan komoditas impor dan
lokal tetap harus dipantau agar tidak memicu gejolak harga yang rentan
berdampak terhadap inflasi.
 
Fakta lain yang tidak bisa diabaikan bahwa pemulihan ekonomi di masa
endemi pasca 2 tahun pandemi pastinya berdampak positif terhadap
geliat ekonomi bisnis sehingga fakta ini juga berpengaruh terhadap
kenaikan permintaan secara agregat. Argumen ini secara tidak langsung
menjadi prediksi bahwa laju inflasi pada semester II 2022 dipastikan
bisa tetap tinggi karena ada tekanan dari sisi permintaan akibat
endemi. Catatan lain ancaman inflasi di semester II 2022 adalah dampak
kenaikan listrik untuk kelompok menengah – atas yang mulai berlaku
Juli 2022 sehingga hal ini pasti berdampak terhadap ancaman laju
inflasi. Di sisi lain, musim ajaran baru pada Juli-Agustus 2022 secara
tidak langsung juga mengancam inflasi, terutama dari aspek sekunder
karena ada permintaan agregat di semua daerah. Jadi, setidaknya ada 3
faktor yang berpengaruh terhadap ancaman inflasi di semester II 2022
yaitu kenaikan tarif listrik, musim ajaran baru dan musiman nataru di
akhir tahun.
 
Baca Juga: Ketahanan Pangan
 
Inflasi memang bukan sekedar kenaikan harga semata tapi imbas dari
banyak faktor dari inflasi itu sendiri sangat rentan terhadap daya
beli. Oleh karena itu geliat ekonomi bisnis di masa endemi menjadi
stimulus untuk menggerakan roda perekonomian. Meskipun hal ini juga
masih terancam dengan stabilitas pasokan dan permintaan terhadap
komoditi di sejumlah daerah. Artinya, meski pemerintah dan BI meyakini
inflasi masih aman tetapi harus diantisipasi pergerakannya agar tidak
semakin liar menjerat daya beli masyarakat. Jadi, mengamankan inflasi
pada semester II 2022 tidak bisa diabaikan, terutama dampak dari
ancaman cost push inflation sebagai pengaruh dari kelompok pangan,
terutama saat Presiden Jokowi dalam KTT G20 kemarin menegaskan
pentingnya pasokan pangan di tingkat global. Faktor kerentanan di
sektor pangan yang bisa memicu inflasi menjadikan isu pangan global
semakin penting, bukan hanya dari aspek kuantitas tapi juga kualitas.
 
Yang justru menjadi pertanyaan berapa inflasi yang aman? Terkait ini
prediksi BI untuk inflasi tahun 2022 di kisaran 4-4,6% dan keyakinan
bahwa produsen masih berhati-hati mencermati perkembangan konsumsi
sampai akhir semester I 2022 tentu menjadi acuan untuk melihat potensi
produksi di semester II 2022. Oleh karena itu, 3 pertimbangan dari
ancaman inflasi di semester II 2022 tentang kenaikan tarif listrik,
musim ajaran baru dan inflasi musiman nataru di akhir tahun tetap
harus dipertimbangan secara seksama untuk mereduksi laju inflasi yang
menggerus daya beli. Argumen yang mendasari tidak dapat terlepas dari
pergerakan inflasi inti yang naik di Juni 2022 kemarin. Identifikasi
per kota inflasi Juni yang terendah di Pontianak (0,07%) dan tertinggi
di Gunungsitoli (2,27% karena imbas cabai merah 1,42%, cabai rawit
0,28% dan bawang merah 0,27%). Fakta ini memberi gambaran pentingnya
sinergi Tim Pengendalian Inflasi di Pusat dan Daerah untuk terus
memantau pergerakan harga sejumlah komoditas pangan. ***
 
* Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo

Editor: Gungde Ariwangsa

Sumber: Edy Purwo Saputro

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Digitalisasi Pertambangan

Senin, 26 September 2022 | 22:20 WIB

Daya Saing

Senin, 26 September 2022 | 17:07 WIB

Upaya Menekan Fatalitas Tabrak Belakang Truk

Minggu, 25 September 2022 | 19:06 WIB

Pariwisata Digital

Selasa, 20 September 2022 | 16:20 WIB

Daya Saing Teknologi

Selasa, 20 September 2022 | 09:50 WIB

Digital Senjata Pemulihan Ekonomi

Selasa, 20 September 2022 | 00:56 WIB

Keunggulan Kompetitif

Minggu, 11 September 2022 | 17:18 WIB

Dedikasi dan Urgensi

Jumat, 9 September 2022 | 12:39 WIB

Pesan Kebangkitan dari Mimbar Senayan

Minggu, 4 September 2022 | 14:45 WIB

Berharap Polisi Usut Tuntas Kasus Kecelakaan di Bekasi

Sabtu, 3 September 2022 | 17:04 WIB

Industri Kreatif

Sabtu, 27 Agustus 2022 | 11:06 WIB

Kurir dan UMKM Berkolaborasi, Bertahan di Era Pandemi

Minggu, 21 Agustus 2022 | 01:12 WIB

Kinerja Impresif Ekonomi, Kado Manis HUT ke-77 RI

Sabtu, 20 Agustus 2022 | 20:29 WIB

Transparansi APBN ala Kemenkeu

Kamis, 18 Agustus 2022 | 01:19 WIB
X