• Sabtu, 1 Oktober 2022

Urgensi Subsidi BBM Solar Terhadap Nelayan Indonesia

- Jumat, 22 Juli 2022 | 08:06 WIB
Bisman Nababan  (Dokumentasi )
Bisman Nababan (Dokumentasi )


Oleh: Bisman Nababan


SUARAKARYA.ID : Kapal nelayan di Pelabuhan Muara Angke, Rabu tanggal 15 Juli 2022 terlihat penuh sesak. Ini mengindikasikan para nelayan tidak melaut disebabkan tidak tersedianya atau tidak tercukupinya BBM solar subsidi dan mahalnya harga solar non-subsidi mulai tanggal 1 Juli 2022.

Harga baru solar non subsidi Rp. 19.875/liter. Harga baru ini bagi nelayan dengan kapal >30 GT dianggap kemahalan sehingga tidak bisa menutupi biaya melaut menyebabkan hampir 80% kapal >30 GT tidak melaut karena tidak mampu beli solar non-subsidi.

Nelayan dengan kapal >30 GT sangat terpukul dengan kenaikan harga BBM solar non subsidi karena biaya terbesar dalam operasi penangkapan ikan ada pada kebutuhan BBM.  Stok BBM solar non-subsidi di setiap Pelabuhan Perikanan juga masih sangat terbatas.

Baca Juga: Jangan Fokus Tangkapan Ikan Besar Saja, LaNyalla Ingatkan Pemerintah Pikirkan Nasib Nelayan Kecil

Nelayan dengan kapal

Operasional nelayan sangat bergantung kepada ketersediaan dan harga BBM solar. Mengingat nelayan kita majority adalah nelayan kecil dengan kapal

BBM solar subsidi dapat diperoleh nelayan di SPBN (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan), SPDN (Solar Packet Dealer Nelayan), dan SPBB (Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Bunker). Namun, jumlah SPBN/SPDN/SPBB di Pelabuhan Perikanan Indonesia sangat terbatas (baru +/- 45% Pelabuhan Perikanan di Indonesia yang sudah memiliki SPBN/SPDN/SPBB).

Baca Juga: PLN Perkenalkan Paving Dan Batako yang Lebih Kuat Berbahan FABA, Dukung Pembangunan Kampung Nelayan Maju

Berdasarkan data tahun 2019, untuk Provinsi DKI Jakarta, Pertamina baru dapat mengalokasikan BBM solar subsidi sebanyak 36.840 Kl/tahun melalui 2 SPBB dan 2 SPDN. Sedangkan kebutuhan minimum BBM solar untuk nelayan kecil di Provinsi DKI Jakarta (2.515 kapal ikan Dengan demikian, pasokan BBM solar subsidi untuk nelayan di Provinsi DKI Jakarta baru terpenuhi 52%. Umumnya solar subsidi ini sudah habis pada minggu kedua setiap bulan sehingga nelayan harus antri sampai satu bulan untuk mendapatkan solar subsidi. Kondisi ini mengakibatkan banyak nelayan yang tidak bisa melaut karena tidak kebagian BBM solar subsidi.

Halaman:

Editor: Markon Piliang

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Digitalisasi Pertambangan

Senin, 26 September 2022 | 22:20 WIB

Daya Saing

Senin, 26 September 2022 | 17:07 WIB

Upaya Menekan Fatalitas Tabrak Belakang Truk

Minggu, 25 September 2022 | 19:06 WIB

Pariwisata Digital

Selasa, 20 September 2022 | 16:20 WIB

Daya Saing Teknologi

Selasa, 20 September 2022 | 09:50 WIB

Digital Senjata Pemulihan Ekonomi

Selasa, 20 September 2022 | 00:56 WIB

Keunggulan Kompetitif

Minggu, 11 September 2022 | 17:18 WIB

Dedikasi dan Urgensi

Jumat, 9 September 2022 | 12:39 WIB

Pesan Kebangkitan dari Mimbar Senayan

Minggu, 4 September 2022 | 14:45 WIB

Berharap Polisi Usut Tuntas Kasus Kecelakaan di Bekasi

Sabtu, 3 September 2022 | 17:04 WIB

Industri Kreatif

Sabtu, 27 Agustus 2022 | 11:06 WIB

Kurir dan UMKM Berkolaborasi, Bertahan di Era Pandemi

Minggu, 21 Agustus 2022 | 01:12 WIB

Kinerja Impresif Ekonomi, Kado Manis HUT ke-77 RI

Sabtu, 20 Agustus 2022 | 20:29 WIB

Transparansi APBN ala Kemenkeu

Kamis, 18 Agustus 2022 | 01:19 WIB
X