• Sabtu, 1 Oktober 2022

Ketahanan Pangan

- Senin, 11 Juli 2022 | 01:00 WIB
Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi (Ist)
Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi (Ist)
 
 
Oleh Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi
 
SUARAKARYA.IDPresiden Jokowi pada KTT G7 sesi II tentang Ketahanan Pangan dan
Kesetaraan Gender di Elmau, Jerman, Senin 27 Juni 2022 kemarin menegaskan urgensi ketahanan pangan secara global. Hal ini tidak saja mengacu kebutuhan pangan yang  semakin meningkat di semua negara tetapi juga keterbatasan lahan dan ancaman berbagai bencana yang terjadi.
 
Oleh karena itu, membangun kesadaran kolektif terhadap ketahanan pangan tidak dapat diabaikan karena menyangkut kepentingan global. Indonesia juga berkepentingan dengan ketahanan pangan, termasuk peran otda untuk memacu produksi pangan secara nasional.
 
Peran penting otda dalam pangan nasional dan global selaras dengan pemekaran daerah yang terjadi sehingga tidak bisa lepas dari komitmen daerah memacu pertanian pangan sesuai kemampuan daerah. Hal ini dasarnya menunjukan sinergi pusat dan daerah dalam membangun ketahanan pangan, terciptanya produksi, nutrisi, lingkungan dan kehidupan yang lebih baik. Pandemi yang berlanjut PPKM darurat berdampak sistemik bagi semua sektor, termasuk pertanian pangan.
 
 
Oleh karena itu, beralasan jika kecenderungan impor pangan meningkat dan diperparah dengan rendahnya daya beli. Impor beras yang kian meningkat pada dasarnya menunjukan ironi republik ini karena sektor pertanian pangan
tergerus sehingga pemenuhan kuantitas - kualitas pangan kian kecil. Migrasi pertanian  pangan ke sektor non-pertanian dan jasa menjadi pembenar dan juga diperkuat migrasi pedesaan ke perkotaan karena pertanian tidak bisa menjanjikan kesejahteraan. Pertanian pangan harus menjadi perhatian Kepala Daerah agar daerah dapat memproduksi pangan  lebih banyak sehingga berkontribusi secara nasional - global karena kebutuhan pangan  cenderung semakin meningkat.
 
Kekhawatiran itu mengacu pandemi sehingga kepastian terhadap ketersediaan pangan untuk pemenuhan pangan menjadi penting. Pendanaan pemulihan ekonomi (PEN) pada dasarnya juga mengacu komitmen memberikan kepastian terhadap keterjangkauan harga pangan. Pasokan pangan terkait tuntutan ketahanan pangan karena di masa depan salah satu hal mendasar yaitu menjaga ketahanan pangan.
 
Di satu sisi aspek ketahanan pangan terkait pembangunan pertanian, luas area pertanian pedesaan dan menjaga konsistensi rumah tangga pertanian. Di sisi lain, tuntutan modernitas - gaya hidup rentan mereduksi sektor pertanian karena nilai tukar pertanian cenderung lemah sehingga memicu migrasi ke  perkotaan dan ini berdampak negatif bagi jumlah rumah tangga pertanian di pedesaan dan ini menjadi tantangan pelik secara global. Intinya redupnya daya tarik pertanian bisa memicu migrasi dan pertanian pangan semakin terbengkalai.
 
 
Ironi impor pangan memberikan gambaran bahwa salah satu tantangan ekonomi adalah pembangunan sektor unggulan di bidang kedaulatan pangan yaitu target produksi padi. Urgensi target ini adalah untuk meminimalisasi ancaman impor pangan, termasuk risiko defisit pangan. Defisit pangan menjadi ironi bagi Indonesia yang dikenal sebagai negara agraris dan ini ditandai dengan impor pertanian pangan yang trend-nya terus meningkat. Fakta ini secara tidak langsung menjadi warning tentang urgensi meningkatkan produksi pangan yang sekaligus berdampak positif terhadap ketersediaan pangan dengan harga  murah untuk rakyat.
 
Persoalan pangan adalah faktor penting untuk mendukung stabilitas karena ini terkait dengan kemampuan daya beli masyarakat dan produktivitas. Jika harga pangan kian mahal maka ini memicu kerawanan sosial apalagi pandemi pasti berdampak sistemik terhadap sosial - ekonomi - bisnis. Otda harus menciptakan ladang pangan di
daerah sesuai karakteristik dan berkontribusi secara nasional dan juga global.
 
Persoalan tentang pangan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaannya tetapi juga aspek produktivitas lahan pertanian. Padahal, persoalan alih fungsi lahan saat ini menjadi isu global. Fakta tentang alih fungsi lahan tentu tidak bisa terlepas dari problem mendasar tentang tuntutan ketersediaan perumahan - permukiman. Oleh karena itu, ledakan jumlah penduduk secara tidak langsung berpengaruh negatif terhadap aspek kepemilikan lahan.
 
Baca Juga: Ramah Lingkungan
 
Artinya, ketika jumlah penduduk mencapai lebih 200 juta jiwa dan kini masih menjadi yang terbesar ke-4 di dunia maka ini membutuhkan perumahan dan permukiman. Hal ini menjadi
pembenar dari ancaman swasembada dan ketahanan pangan sementara ancaman yang muncul adalah ketidakberdayaan masyarakat terhadap pangan.
 
Harapan swasembada pangan tampaknya kian jauh dari harapan dan akibatnya fluktuasi harga pangan tidak bisa lagi dihindari. Oleh karena itu, mekanisme pasar yang terbentuk dari kekuatan permintaan dan penawaran akan menentukan harga wajar di tingkat pasar.
Konsekuensi dari situasi ini adalah fluktuasi harga yang cenderung tidak bisa dikontrol, meski terkadang dirasa memberatkan industri kecil.
 
Paling tidak, hal ini bisa terlihat dari kelangkaan kedelai setiap tahun. Meskipun pemerintah menetapkan swasembada kedelai tapi target gagal diraih. Selain itu fakta mahalnya harga pangan setelah lebaran juga bisa menjadi indikasi buruk terkait stabilitas harga pangan secara nasional dan global. ***
 
* Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo
 
 

Editor: Gungde Ariwangsa

Sumber: Edy Purwo Saputro

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Digitalisasi Pertambangan

Senin, 26 September 2022 | 22:20 WIB

Daya Saing

Senin, 26 September 2022 | 17:07 WIB

Upaya Menekan Fatalitas Tabrak Belakang Truk

Minggu, 25 September 2022 | 19:06 WIB

Pariwisata Digital

Selasa, 20 September 2022 | 16:20 WIB

Daya Saing Teknologi

Selasa, 20 September 2022 | 09:50 WIB

Digital Senjata Pemulihan Ekonomi

Selasa, 20 September 2022 | 00:56 WIB

Keunggulan Kompetitif

Minggu, 11 September 2022 | 17:18 WIB

Dedikasi dan Urgensi

Jumat, 9 September 2022 | 12:39 WIB

Pesan Kebangkitan dari Mimbar Senayan

Minggu, 4 September 2022 | 14:45 WIB

Berharap Polisi Usut Tuntas Kasus Kecelakaan di Bekasi

Sabtu, 3 September 2022 | 17:04 WIB

Industri Kreatif

Sabtu, 27 Agustus 2022 | 11:06 WIB

Kurir dan UMKM Berkolaborasi, Bertahan di Era Pandemi

Minggu, 21 Agustus 2022 | 01:12 WIB

Kinerja Impresif Ekonomi, Kado Manis HUT ke-77 RI

Sabtu, 20 Agustus 2022 | 20:29 WIB

Transparansi APBN ala Kemenkeu

Kamis, 18 Agustus 2022 | 01:19 WIB
X