• Selasa, 16 Agustus 2022

Ramah Lingkungan

- Senin, 20 Juni 2022 | 01:05 WIB
Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi (Ist)
Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi (Ist)
 
Oleh: Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi
 
SUARAKARYA.ID: Presiden Jokowi menegaskan balap formula E menjadi ajang balap di masa depan. Hal yang mendasari karena balap mobil listrik cenderung ramah lingkungan sehingga bisa dipastikan tidak memicu pencemaran yang berdampak sistemik kepada  keseimbangan ekosistem.
 
Selain itu, sukses Jakarta E-Prix juga diwarnai dengan tidak adanya sponsor bir, termasuk selebrasi kemenangan yang selama ini identik dengan bir. Oleh karena itu logis jika hajatan Jakarta E-Prix kemarin juga bisa disebut sebagai Hajatan Balapan Syariah karena tidak ada aroma alkohol, baik dalam iklan dan selebrasi  kemenangan.
 
Persepsian tentang ramah lingkungan sepertinya bukan hanya dari ajang balapan tetapi juga di sektor pariwisata. Betapa tidak fakta ini terlihat dari Kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah yang ditetapkan Pemerintah pusat sebagai destinasi wisata ramah
lingkungan berkelanjutan. Terkait ini, Pemerintah pusat menggelontorkan anggaran hingga Rp6,8 triliun. Konsekuensi dari penetapan ini dilakukan oleh Menteri Koordinator Maritim dan Investasi - Marinves, Luhut Binsar Pandjaitan, di kompleks Candi Borobudur, pada Sabtu (4/6/2002). Faktor pendukung dari penetapan tersebut bisa dilihat dari kehadiran bus listrik produksi INKA yang akan menjadi moda transportasi di area Candi Borobudur.
 
Jika dicermati sejatinya perhatian dan komitmen terhadap produk ramah lingkungan saat ini semakin menguat. Hal ini tidak saja terjadi karena kesadaran kolektif tapi juga sukses dari edukasi dan literasi tentang pentingnya persepsian ramah lingkungan di masa depan sehingga semua produk melalui proses produksinya harus benar-benar ramah lingkungan.
Oleh karena itu, penetapan Candi Borobudur sebagai daerah tujuan wisata yang ramah lingkungan harus didukung oleh semua aspek, termasuk moda transportasinya. Terkait ini, sejumlah ojol juga dilibatkan untuk memperkuat ekosistem ramah lingkungan yang ada di kawasan Candi Borobudur. Jadi, beralasan jika semua ojol di kawasan tersebut nantinya diwajibkan menggunakan motor listrik. Sarpras yang ada juga harus siap untuk mendukungnya, termasuk juga kehadiran tempat pengisian daya listrik atau stasiun penyedia listrik umum – SPLU perlu diperbanyak sehingga mendukung program itu.
 
Komitmen pemerintah terkait kawasan ramah lingkungan tidak hanya di kawasan Candi Borobudur, tapi juga di kawasan Candi Prambanan. Bagaimanapun juga kawasan Candi Borobudur dan Prambanan adalah serangkai sebagai bentuk kawasan wisata sejarah. Hal ini memungkinkan untuk dikembangkan secara bersamaan, meski keduanya berada di 2 
provinsi yang berbeda, yaitu Jawa Tengah dan Yogyakarta. Jadi, pengembangan kedua kawasan wisata berbasis sejarah tersebut mengacu kepentingan green tourism. Realia ini secara tidak langsung membenarkan bahwa perubahan paradigma tentang tuntutan ramah
lingkungan memang harus dimulai sedari dini dan dimanapun bisa dimulai rintisannya, termasuk tentunya dari sektor kepariwisataan yang dimulai dari Candi Borobudur dan Prambanan. Jika keduanya berhasil maka akan berlanjut ke kawasan wisata lainnya.
 
Optimisme terhadap pengembangan kawasan wisata hijau atau ramah lingkungan maka ke depan semua moda transportasi yang masuk ke kawasan Candi Borobudur dan juga Prambanan harus mobil-motor listrik. Jadi perlahan tapi pasti orientasi ke arah sana juga bisa mulai dilaksanakan dan pastinya semua harus sepakat untuk mendukung demi
tahap pencapaian kesejahteraan dari sektor pariwisata yang ramah lingkungan yang kemudian ini dikenal sebagai green tourism. 
 
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menegaskan bahwa Pemprov Jawa Tengah siap mendukung program ini. Oleh karena itu, semua pemenuhan sarana prasarana akan terus ditingkatkan termasuk pekerjaan rumah yang harus segera terselesaikan misalnya sarana  pengelolaan sampah, membereskan soal tanah, teknologi Refuse Derived Fuel atau RDF yang
lebih baik dan lainnya. Selain itu, sosialisasi penggunaan moda transportasi ramah lingkungan juga harus digencarkan akan membangun kesadaran kolektif terhadap moda ini bagi masyarakat dan juga pengunjung di kedua kawasan candi tersebut. Artinya, jika pemerintah pusat berkomitmen menetapkan kawasan Borobudur sebagai destinasi
wisata super prioritas maka masyarakat dan pengunjung juga wajib mendukung dan pemprov Jawa Tengah akan membuat sejumlah event yang bisa untuk menarik sebanyak mungkin wisatawan, baik dari domestik atau manca negara. ***
 
* Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo

Editor: Gungde Ariwangsa

Sumber: Edy Purwo Saputro

Tags

Terkini

Ironi Buruh

Kamis, 11 Agustus 2022 | 10:43 WIB

Jiwa Korsa, Pedang Bermata Dua.

Rabu, 10 Agustus 2022 | 12:14 WIB

Ekonomi Politik

Selasa, 2 Agustus 2022 | 22:29 WIB

Rencana Layanan Perkeretaapian di IKN

Sabtu, 30 Juli 2022 | 05:34 WIB

Manusia dan Teknologi 5.0

Selasa, 26 Juli 2022 | 19:23 WIB

Harga Pangan

Selasa, 26 Juli 2022 | 10:21 WIB

Haji Mabrur

Senin, 18 Juli 2022 | 01:00 WIB

Kurban dan Endemi

Minggu, 17 Juli 2022 | 00:49 WIB

Ketahanan Pangan

Senin, 11 Juli 2022 | 01:00 WIB

Jalan Tol: Infrastruktur Rakyat Dan Divestasi

Sabtu, 9 Juli 2022 | 01:15 WIB

Keberpihakan Pada Transportasi Umum

Selasa, 5 Juli 2022 | 11:08 WIB

Produktivitas Dan Efisiensi

Senin, 4 Juli 2022 | 09:30 WIB

Ganja Medis, Bagaimana Di Indonesia?

Sabtu, 2 Juli 2022 | 08:15 WIB
X