• Selasa, 16 Agustus 2022

Sentimen & Stabilitas

- Senin, 13 Juni 2022 | 22:11 WIB
Dr Edy Purwo Saputro, MSi (Ist)
Dr Edy Purwo Saputro, MSi (Ist)
Oleh: Dr Edy Purwo Saputro, MSi
 
SUARAKARYA.ID: Kehadiran pasar modal di Indonesia sudah menapaki usia 70 tahun dan
pastinya sangat bermanfaat dalam mendukung pendanaan nasional. Setidaknya asa pembukaan kembali oleh Presiden Soekarno pada 3 Juni 1952 terhadap bursa memang sangatlah diharapkan mampu mendukung terhadap interaksi investasi.
 
Hal ini menjadi penting karena APBN memang cenderung terbatas anggarannya sehingga interaksi antara pemilik modal untuk mendukung pihak yang membutuhkan modal untuk
pembangunan dan investasi menjadi sangat penting. Oleh karena itu, kehadiran pasar modal menjadi salah satu aspek penting tidak hanya di negara miskin berkembang tapi juga di negara industri maju. Fakta secara konkret menunjukan bahwa mayoritas di negara miskin berkembang cenderung banking minded sedangkan di negara industri maju sudah selaras antara banking minded dan juga capital market minded.
 
Mengacu data Kustodian Sentral Efek Indonesia bahwa per Maret 2022 jumlah investor 8,39 juta investor. Angka ini naik 12,13% dibanding periode yang sama 2021 yaitu 7,49 juta. Data ini menarik dikaji karena terkait kepercayaan investor dan stabilitas nasional. Dari data
tersebut investor reksadana naik 13,12% menjadi 7,74 juta (tahun 2021 yaitu 6,84 juta), investor surat berharga negara – SBN naik 10% yaitu 672,2 ribu (tahun 2021 yaitu 611,1 ribu), investor c-best atau investor saham naik 6,57%  menjadi 3,75 juta (tahun 2021 yaitu 3,45 juta).
 
Data diatas memberikan gambaran perilaku investasi dapat dikelompokan sesuai dengan karakteristik instrumen yang ada di pasar modal. Meski demikian, jumlah investor tidak dapat digabungkan antara investor reksa dana, SBN dan saham karena keperilakuan dari investor cenderung membagi dalam berbagai portofolio investasinya sehingga jika data itu
dijumlahkan maka akan cenderung memicu bias data. Artinya investor cenderungnya menyebar investasi di sejumlah pilihan yang sekiranya memberikan keuntungan paling tinggi bagi investasinya sehingga jika dijumlahkan antara pilihan beragam investasi itu akan tidak
mencerminkan jumlah investor yang sebenarnya.
 
Deskripsi menarik dari data investor juga menunjukan bahwa investor pria masih lebih dominan mencapai 62,9%. Hal ini secara tidak langsung masih menunjukan adanya bias gender dalam keperilakuan investasi di pasar modal. Oleh karena itu, perlu ada edukasi dan literasi karena potensi profit dari pasar modal sangat terbuka bagi semua, tidak saja pria tetapi juga wanita. Selain itu, kaum wanita yang berpenghasilan juga semakin tinggi dan kontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan dan kesehatan finansial keluarga dari pasar modal memang sangat memungkinkan. Jadi tidak ada salahnya ‘bermain’ di bursa karena memang potensinya memang ada dan juga sangat menjanjikan cuan dari bursa.
 
Fakta lainnya yang juga menarik dicermati adalah rentang usia investor di pasar modal yang didominasi usia dibawah 30 tahun yang mencapai 60%. Meskipun aset dari rentang usia itu cenderung masih kecil tetapi ketertarikan terhadap bursa menjadi catatan penting untuk tahapan edukasi dan literasi secara sistematis dan berkelanjutan. Artinya, aset itu memang masih jauh dibandingkan investor yang berusia di atas usia 60 tahun yang hanya 2,7% tapi kumulatif asetnya mencapai Rp.539 triliun sedangkan yang dibawah 30 tahun asetnya mencapai Rp.49,77 triliun. Data ini menjadi catatan menarik tentang potensi dari bursa
untuk memacu peningkatan kesejahteraan dan kesehatan finansial dalam tahapan jangka panjang dan berkelanjutan, meski harus juga dicermati terkait risiko yang ada.
 
Proses panjang 70 tahun pasar modal menjadi acuan tentang sinergi pendanaan, baik itu dari perbankan (banking minded) maupun dari pasar modal (capital market minded). Hal ini juga menjadi pertimbangan bahwa income tidaklah harus dihabiskan untuk konsumsi semata tapi juga perlu pertimbangan untuk tabungan dan investasi. Pilihan investasi saat ini  cenderung semakin beragam, termasuk misalnya di pasar modal dengan pilihan yang sangat beragam untuk instrumennya. Selain itu, kesadaran kolektif untuk dapat bermain di bursa juga diharapkan mereduksi risiko, termasuk tentunya risiko investasi bodong di berbagai tawaran yang ada. Jadi tidak ada salahnya jika masyarakat semakin melek pada pilihan investasi di pasar modal karena juga menjanjikan profit, meski juga ada risiko. ***
 
* Dr Edy Purwo Saputro, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo

Editor: Gungde Ariwangsa

Sumber: Edy Purwo Saputro

Tags

Terkini

Ironi Buruh

Kamis, 11 Agustus 2022 | 10:43 WIB

Jiwa Korsa, Pedang Bermata Dua.

Rabu, 10 Agustus 2022 | 12:14 WIB

Ekonomi Politik

Selasa, 2 Agustus 2022 | 22:29 WIB

Rencana Layanan Perkeretaapian di IKN

Sabtu, 30 Juli 2022 | 05:34 WIB

Manusia dan Teknologi 5.0

Selasa, 26 Juli 2022 | 19:23 WIB

Harga Pangan

Selasa, 26 Juli 2022 | 10:21 WIB

Haji Mabrur

Senin, 18 Juli 2022 | 01:00 WIB

Kurban dan Endemi

Minggu, 17 Juli 2022 | 00:49 WIB

Ketahanan Pangan

Senin, 11 Juli 2022 | 01:00 WIB

Jalan Tol: Infrastruktur Rakyat Dan Divestasi

Sabtu, 9 Juli 2022 | 01:15 WIB

Keberpihakan Pada Transportasi Umum

Selasa, 5 Juli 2022 | 11:08 WIB

Produktivitas Dan Efisiensi

Senin, 4 Juli 2022 | 09:30 WIB

Ganja Medis, Bagaimana Di Indonesia?

Sabtu, 2 Juli 2022 | 08:15 WIB
X