• Selasa, 16 Agustus 2022

Urgensi Pendanaan

- Senin, 6 Juni 2022 | 00:05 WIB
Dr Edy Purwo Saputro, MSi  (Ist)
Dr Edy Purwo Saputro, MSi (Ist)

 

Oleh: Dr Edy Purwo Saputro, MSi  

SUARAKARYA.ID: Pasar modal Indonesia telah menapaki usia 70 tahun pada 3 Juni kemarin  dan tentu ada banyak peluang dan tantangan untuk mendukung pendanaan pembangunan. Di satu sisi, tidak bisa dipungkiri ada problem dari capital market minded, meski di sisi lain faktanya di mayoritas negara miskin berkembang cenderung berpaham banking minded sehingga hal ini berdampak sistemik terhadap urgensi edukasi dan literasi capital market minded. Jadi beralasan jika di tahap perkembangan pasar modal ternyata responnya sangat minim sehingga pemerintah mengeluarkan Paket Desember 1987 atau Pakdes 87. 

Progres dari Pakdes 87 yaitu di tahun 1990-an jumlah perusahaan yang melakukan IPO meningkat drastis mencapai 225 perusahaan. Hebatnya lagi di tahun ini dikenal dengan ‘IPO boom’ karena maraknya perusahaan melakukan IPO untuk memikat investor yang pastinya berdampak positif terhadap perputaran uang dan pendanaan pembangunan untuk mendukung semua kegiatan operasional bisnis. Selain itu, untuk mendukung transaksi di pasar modal semakin bergairah pemerintah mengeluarkan Paket Desember 1988 - Pakdes 88 yang bertujuan untuk mempermudah perusahaan melakukan go public, termasuk juga sejumlah kebijakan yang proaktif untuk mendukung kelancaran operasional pasar modal yang dalam hal ini juga komitmen pemerintah memberikan izin operasional BES di tahun 1989. Imbasnya adalah terjadinya peningkatan transaksi bursa yang kemudian menjadi dasar pentingnya transaksi otomatisasi.  

Konsekuensi dari penggunaan transaksi otomatisasi tidak bisa lepas dari semakin banyak transaksi yang terjadi di bursa. Oleh karena itu tuntutan kebutuhan terhadap penggunaan perangkat komputer menjadi mendesak dan hal ini juga selaras dengan kehadiran broker di bursa, termasuk juga kehadiran trader workstations untuk mempermudah interaksi di semua jejaring transaksi dan jejaring broker di lantai bursa. Sayangnya geliat di tahun ini harus terbentur dengan krisis keuangan di tahun 1997 sehingga tidak banyak perusahaan yang melakukan IPO dan imbasnya adalah meredupnya transaksi di bursa. Otomatis hal ini berdampak sistemik terhadap kegiatan bursa. Situasinya diperparah akibat penurunan mata uang akibat spekulasi perdagangan valas secara global sehingga kian memperkeruh perekonomian dan lesunya transaksi di bursa 

Bagaimanapun juga krisis harus dihadapi dan bursa tetap harus hidup sehingga regulasi yang mendukung semua transaksi bursa dibentuk, termasuk misal perubahan peran dari Bapepam dari badan pelaksana menjadi badan pengawas. Selain itu, pada 22 Mei 1995 dilakukan penerapan sistem otomatisasi (Jakarta Automated Trading Systems – JATS). Perlahan tapi pasti akhirnya persepsian publik terhadap pasar modal mulai terbuka yang ditandai semakin banyaknya IPO dan perusahaan yang go public. Data menunjukan pada awal Januari 2003 ternyata IHSG mencapai 4005,44 lalu di awal Januari 2004 menjadi sudah menembus 1000 yang kemudian di akhir 30 Desember 2004 IHSG ditutup di level 1000,23.

Implikasi dari kepentingan untuk mendukung efektivitas perdagangan maka di tanggal 30 November 1977 dilakukan penggabungan BEJ dan BES menjadi BEI. Tindak lanjutnya yaitu pemberlakuan suspensi perdagangan pada tahun 2008. Prospek memacu kinerja dan daya tarik bursa maka BEI mengkampanyekan “Yuk Nabung Saham” yang secara tidak langsung menjadi edukasi terkait urgensi peran pasar modal dalam ekonomi  

Tagline atau kampanye “Yuk Nabung Saham” bukan tanpa alasan, meski di sisi lain hal ini juga selaras dengan semangat memerangi investasi bodong yang cenderung marak di beberapa tahun terakhir. Hebatnya lagi, pertumbuhan pasar modal meningkat signifikan, meski diterpa pandemi 2 tahun terakhir. Data menunjukan jumlah investor pasar modal mengalami pertumbuhan 12,13% yaitu menjadi 8,39 juta Single Investor Identification – SID pada Maret 2022 dibanding akhir 2021 yaitu 7,48 juta SID. Jumlah investor reksa dana naik 13,12% menjadi 7,737,334 dari sebelumnya 6,840,234 dan jumlah investor Surat Berharga Negara (SBN) tumbuh 10% menjadi 672,242 dari semula 611,143. Yang juga  menarik dicermati ternyata pertumbuhan itu didominasi generasi milenial (di bawah usia 30 tahun) yaitu 60,18%, usia 31-40 tahun (21,61%), usia 41-50 tahun (10,39%), 51–60 tahun (5,04%) dan di atas usia 60 tahun (2,79%). Fakta ini menjadi sentimen positif bahwa  generasi muda – milenial kian melek investasi. Harapannya agar investor tidak hanya berburu cuan semata tapi juga perlu mempertimbangkan risiko dan pastinya tidak terjebak investasi bodong. ***

 

  • Dr Edy Purwo Saputro, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo

Editor: Gungde Ariwangsa

Sumber: Edy Purwo Saputro

Tags

Terkini

Ironi Buruh

Kamis, 11 Agustus 2022 | 10:43 WIB

Jiwa Korsa, Pedang Bermata Dua.

Rabu, 10 Agustus 2022 | 12:14 WIB

Ekonomi Politik

Selasa, 2 Agustus 2022 | 22:29 WIB

Rencana Layanan Perkeretaapian di IKN

Sabtu, 30 Juli 2022 | 05:34 WIB

Manusia dan Teknologi 5.0

Selasa, 26 Juli 2022 | 19:23 WIB

Harga Pangan

Selasa, 26 Juli 2022 | 10:21 WIB

Haji Mabrur

Senin, 18 Juli 2022 | 01:00 WIB

Kurban dan Endemi

Minggu, 17 Juli 2022 | 00:49 WIB

Ketahanan Pangan

Senin, 11 Juli 2022 | 01:00 WIB

Jalan Tol: Infrastruktur Rakyat Dan Divestasi

Sabtu, 9 Juli 2022 | 01:15 WIB

Keberpihakan Pada Transportasi Umum

Selasa, 5 Juli 2022 | 11:08 WIB

Produktivitas Dan Efisiensi

Senin, 4 Juli 2022 | 09:30 WIB

Ganja Medis, Bagaimana Di Indonesia?

Sabtu, 2 Juli 2022 | 08:15 WIB
X