• Selasa, 16 Agustus 2022

Soal Pertanian, Giliran Kita Belajar Dari Malaysia

- Jumat, 3 Juni 2022 | 13:26 WIB
Ketua Umum PWI Pusat Atal Sembiring Depari menyerah cendera mata kepada Perdana Menteri Malaysia Dato’ Ismail Sabri Yakoob (Ist)
Ketua Umum PWI Pusat Atal Sembiring Depari menyerah cendera mata kepada Perdana Menteri Malaysia Dato’ Ismail Sabri Yakoob (Ist)

Oleh: Atal S Depari

SUARAKARYA.ID:  Sambutan itu menarik, tidak hanya karena saya menemukan beberapa kata dalam Bahasa Melayu yang artinya hanya saya kira-kira, sesuai pertautan maknanya dengan kata-kata lain dalam kalimat. Yang lebih mengesankan, pidato pendek itu membawa saya kepada kenangan pertengahan tahun 1980-an, tatkala saya mulai menjadi wartawan.

Waktu itu, yang paling saya ingat adalah kutipan pernyataan Malcolm X, tentang kuasa media massa. “Media massa adalah entitas paling kuat di muka bumi ini. Mereka memiliki kuasa untuk membuat pihak yang tidak bersalah menjadi bersalah, dan membuat yang bersalah menjadi tidak bersalah. Itu karena mereka mengendalikan pikiran massa.”

Pernyataan Malcolm benar-benar memberikan pengaruh kuat terhadap saya, sekaligus rasa bangga akan pekerjaan saya sebagai wartawan. Tidak hanya karena pernyataannya sendiri begitu dalam dan tegas, kekaguman saya kepada figur tokoh pergerakan Muslim Amerika Serikat-- yang mengaku terkesan akan Dasa Sila Bandung tahun 1955-- itu memang begitu kuat.

Bagi saya, Malcolm yang semula penjahat jalanan namun mampu mengubah diri menjadi seorang Muslim taat dan tokoh pergerakan masyarakat sipil terkemuka di dunia itu, benar-benar menginspirasi.  

Itu yang dalam bahasa dan redaksional lain saya temukan kembali pada sambutan Perdana Menteri Malaysia Dato’ Ismail Sabri Yakoob, pada perhelatan Hari Wartawan Nasional (Hawana) Malaysia, Minggu (29/5/2022) lalu, di Melaka, Malaysia. Sebagai Ketua Umum PWI Pusat, saya hadir bersama 14 pimpinan media massa Indonesia lainnya yang diundang dalam acara tersebut. 

Sejatinya, pribadi PM Malaysia itu pun sudah mengesankan. Datang tanpa pengawalan yang berarti, Dato’ Ismail Sabri terkesan muncul mendadak. Kedatangan Beliau bahkan tak membuat kami sadar, misalnya, karena raungan sirene plus konvoi kendaraan (voorijder) yang mendahuluinya.    

“Peranan media ini bisa memburukkan, atau sebaliknya, membaikkan keadaan," ujar PM Ismail Sabri, dalam Bahasa Melayu yang khas. Peran media itu pula menurut Beliau, yang pernah menggoreskan sejarah mendung dalam hubungan Indonesia-Malaysia

“Kalau media memerankan diri sebagai pelaku perpecahan, perpecahanlah yang terjadi. Tapi kalau media membawa perkara penyatuan, kita akan bersatu," katanya. Beliau mencontohkan berita seputar tarian Jawa, Reog, yang sempat disebut-sebut diklaim sebagai milik Malaysia

Halaman:

Editor: Gungde Ariwangsa

Tags

Terkini

Ironi Buruh

Kamis, 11 Agustus 2022 | 10:43 WIB

Jiwa Korsa, Pedang Bermata Dua.

Rabu, 10 Agustus 2022 | 12:14 WIB

Ekonomi Politik

Selasa, 2 Agustus 2022 | 22:29 WIB

Rencana Layanan Perkeretaapian di IKN

Sabtu, 30 Juli 2022 | 05:34 WIB

Manusia dan Teknologi 5.0

Selasa, 26 Juli 2022 | 19:23 WIB

Harga Pangan

Selasa, 26 Juli 2022 | 10:21 WIB

Haji Mabrur

Senin, 18 Juli 2022 | 01:00 WIB

Kurban dan Endemi

Minggu, 17 Juli 2022 | 00:49 WIB

Ketahanan Pangan

Senin, 11 Juli 2022 | 01:00 WIB

Jalan Tol: Infrastruktur Rakyat Dan Divestasi

Sabtu, 9 Juli 2022 | 01:15 WIB

Keberpihakan Pada Transportasi Umum

Selasa, 5 Juli 2022 | 11:08 WIB

Produktivitas Dan Efisiensi

Senin, 4 Juli 2022 | 09:30 WIB

Ganja Medis, Bagaimana Di Indonesia?

Sabtu, 2 Juli 2022 | 08:15 WIB
X