• Selasa, 16 Agustus 2022

Tanggulangi Macet, Sepeda Motor Dimasukan Ganjil Genap Kenapa Tidak?

- Sabtu, 7 Mei 2022 | 19:13 WIB

Penambahan armada dan rute untuk kota-kota penyangga seperti Bekasi, misalnya, dirasakan sangat penting dan bermanfaat. Ketika selama Covid-19 2020 – 2021 distop sementara trayek busway dari dan ke Bekasi dapat dirasakan sulit dan mahalnya apabila bekerja setiap hari menggunakan kendaraan umum ke Jakarta. Naik Patas ke Blok M atau ke mana saja dari Bekasi tarifnya Rp15 ribu. Maka bisa dihitung pengeluaran satu orang mencapai Rp50 – Rp60 ribu. Ketika jalan-jalan masih lancar selama Covid-19, pengeluaran sebesar itu sudah cukup untuk kendaraan pribadi (mobil). Oleh karena itu, sangat disarankan jika rute busway sampai Cikarang dan Terminal Bekasi lewat Sepanjang Jaya - Rawapanjang sehingga menjadi empat trayek/rute yang niscaya akan semakin mengurangi penggunaan kendaraan pribadi setiap hari kerja. Berkebetulan shelter busway sudah ada di Rawapanjang dan sudah pernah dilayani. Sayangnya, entah alasan apa rute/trayek itu tidak dilayani hingga tetap diisi bus-bus dari PO swasta.

Jika trayek-trayek baru terus diperbanyak di kota-kota penyangga Jakarta, niscaya penggunaan kendaraan pribadi akan semakin berkurang. Kalau ternyata masih terikat nikmat gunakan mobil pribadi, maka alternatif berikutnya mengurangi kemacetan Jakarta dengan memperluas/memperbanyak ruas-ruas jalan yang termasuk kawasan ganjil genap. Kalau sebelumnya baru 13 mengapa tidak dinaikan menjadi 20 ruas jalan. Bahkan bila perlu langsung dilipat dua menjadi 26 ruas jalan.

Tidak itu saja, untuk mewujudkan asas persamaan di hadapan hukum atau equality before the law dalam perlalulintasan dimana setiap warga negara dan tentunya yang masuk kendaraan bersamaan kedudukannya di hadapan hukum dan tanpa ada pengecualian,  maka perlu pula diterapkan persamaan kedudukan kendaraan di jalan-jalan di Kota Jakarta. Jika terhadap mobil diberlakukan ganjil genap mengapa tidak diberlakukan pula hal sama terhadap sepeda motor. Apalagi jumlah sepeda motor atau roda dua ini berlipat-lipat dari mobil. Pemberlakukan ganjil genap terhadap sepeda motor niscaya akan menekan kemacetan yang selama ini sudah mengular di Jakarta.

Kebijakan ini boleh jadi sangat ditentang warga di Jabodetabek. Ganjil genap untuk mobil saja diprotes warga Bekasi dengan menggugat Gubernur DKI Anies Baswedan. Tetapi tanpa keputusan penanggulangan kemacetan termasuk yang radikal seperti itu hal sulit mengatasi kemacetan Jakarta yang sudah sangat mengkhawatirkan. Dan alternatif penanggulangan apa saja pun dilakukan; ganjil genap mobil dan motor, peningkatan moda transportasi umum mulai dari busway, KRL, angkutan umum bawah tanah, tidak akan mencapai sasaran apabila tidak saling mendukung dan saling berkaitan. Sosialisasi terhadap warga pun perlu terus menerus dilakukan bahwa untuk menghindari stres menyetir mobil dan mengendarai sepeda motor di belantara kemacetan Jakarta, maka pilihlah angkutan umum busway full AC  dan KRL/Commuter Line yang bebas macet  dan tepat waktu atau moda transportasi umum lainnya yang juga menyuguhkan kenyamanan serta ketertiban bagi penggunanya.***

*Wilmar Pasaribu - wartawan senior Suara Karya.id

Halaman:

Editor: Gungde Ariwangsa

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ironi Buruh

Kamis, 11 Agustus 2022 | 10:43 WIB

Jiwa Korsa, Pedang Bermata Dua.

Rabu, 10 Agustus 2022 | 12:14 WIB

Ekonomi Politik

Selasa, 2 Agustus 2022 | 22:29 WIB

Memaknai Tahun Baru Islam 1 Muharram 1444 H

Sabtu, 30 Juli 2022 | 11:18 WIB

Rencana Layanan Perkeretaapian di IKN

Sabtu, 30 Juli 2022 | 05:34 WIB

Manusia dan Teknologi 5.0

Selasa, 26 Juli 2022 | 19:23 WIB

Harga Pangan

Selasa, 26 Juli 2022 | 10:21 WIB

Haji Mabrur

Senin, 18 Juli 2022 | 01:00 WIB

Tugas Negara

Minggu, 17 Juli 2022 | 15:00 WIB

Kurban dan Endemi

Minggu, 17 Juli 2022 | 00:49 WIB

Ketahanan Pangan

Senin, 11 Juli 2022 | 01:00 WIB

Jalan Tol: Infrastruktur Rakyat Dan Divestasi

Sabtu, 9 Juli 2022 | 01:15 WIB
X