• Jumat, 12 Agustus 2022

Tanggulangi Macet, Sepeda Motor Dimasukan Ganjil Genap Kenapa Tidak?

- Sabtu, 7 Mei 2022 | 19:13 WIB

Sesungguhnya berbagai aturan, terutama UU Lalu Lintas Nomor 22 Tahun 2009 yang telah lama dibuat pemerintah harus benar-benar ditegakan. Apalagi, dalam salah satu pasal pada aturan itu dengan tegas diwajibkan pengendara  mengamati kondisi lalu lintas sekitar dan memberikan isyarat saat akan berbelok atau berpindah lajur. Artinya, tidak ditolelir perbuatan melawan arus. Kendaraan sendiri pun telah dilengkapi dengan lampu sein kiri dan kanan. Namun masih banyak kendaraan yang tiba-tiba belok atau berbalik arah tanpa menyalakan lampu sein. Padahal jarak aman dianjurkan untuk memberi isyarat 10-20 meter sebelum belokan, tergantung kecepatan.

Pada dasarnya pelanggaran terjadi karena nekat. Kebanyakan pelanggaran semacam ini dilakukan oleh pesepeda motor. Bukan hanya melawan arus, tetapi menerobos jalur, sampai menggunakan trotoar yang seharusnya untuk pejalan kaki.  Padahal mereka tahu bahwa perbuatan tersebut menimbulkan kemacetan, membahayakan dan meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas.

Kemacetan arus lalu lintas selain merugikan dari segi materi yaitu membuang BBM sia-sia dan waktu juga  bisa menyebabkan stress atau emosional. Tetapi apa hendak dikata, adalah fakta jumlah kendaraan meningkat 8 persen per tahun, sedangkan penambahan ruas jalan hanyalah 0,01 persen per tahun. Itu berarti jutaan kendaraan berebut 42,3km² luas jalan setiap harinya, dan sebanyak 98,8 persen dari jumlah ini adalah kendaraan pribadi.

Ganjil Genap Untuk Sepeda Motor

Mengapa mereka sampai harus menggunakan kendaraan pribadi, terutama mobil, karena harus mengeluarkan biaya lebih besar belum lagi capeknya kala terjadi macet? Bukankah lebih nyaman menggunakan busway atau KRL? Faktanya tidak sesederhana itu. Untuk warga di kota-kota penyangga Jakarta seperti Bekasi misalnya, untuk menjangkau busway atau Stasiun Kereta Api, butuh angkutan umum lagi. Seringkali harus sambung menyambung dahulu baru bisa naik kereta api atau busway. Akhirnya mereka memilih menggunakan kendaraan sendiri yang selanjutnya ikut andil buat kemacetan.

Lantas langkah-langkah apalah yang dapat dilakukan untuk atasi kemacetan lalu lintas di Jakarta? Bagusnya semuanya saling mendukung dan bersinergi. Salah satunya dengan menambah moda transportasi umum yang mudah dan gampang dijangkau warga masyarakat. Hal ini, katanya, tengah dilakukan Pemprov DKI Jakarta antara lain dengan membangun proyek MRT sebagai alternatif moda transportasi umum.

MRT Jakarta yang berbasis rel rencananya akan membentang kurang lebih ±110.8 KM yang terdiri dari Koridor Selatan-Utara (Koridor Lebak Bulus-Kampung Bandan) sepanjang kurang lebih ±23.8 KM dan Koridor Timur-Barat sepanjang kurang lebih ±87 KM.

Mega proyek MRT dilengkapi dengan CCTV yang akan terintegrasi langsung dengan portal Jakarta Smart City. Harapannya, dengan adanya MRT, Kota Jakarta berhasil mencapai indikator smart mobility. Tidak itu saja, perlu dibuat dan digalakan sistem transportasi bawah tanah berupa terowongan untuk jalur kereta api atau bus. Bahkan bila perlu dan memungkinkan membuat sistem transportasi air pada sungai Banjir Kanal Barat (BKB) dan Banjir Kanal Timur (BKT).

Busway yang saat ini sudah dirasakan warga manfaat dan kenikmatannya sangat perlu dilakukan penambahan armada dan rute-rute, termasuk untuk membuka rute di daerah penyangga seperti Depok, Tangerang, Bekasi, Serpong bahkan sampai Bogor. Saat ini, total jumlah armada bus Transjakarta atau busway yang beroperasi sebanyak 1.233 unit.

Jumlah armada busway tersebut sudah termasuk milik PT Transjakarta dan 8 operator yang bermitra dengan PT Transjakarta. Tercatat jumlah armada milik PT Transjakarta itu sebanyak 244 unit. Terdiri dari 172 bus gandeng, 66 bus single dan 6 unit bus tingkat. Selain itu, Kementerian Perhubungan juga memberikan bantuan Bus Rapid Transit single sebanyak 600 unit.

Halaman:

Editor: Gungde Ariwangsa

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ironi Buruh

Kamis, 11 Agustus 2022 | 10:43 WIB

Jiwa Korsa, Pedang Bermata Dua.

Rabu, 10 Agustus 2022 | 12:14 WIB

Ekonomi Politik

Selasa, 2 Agustus 2022 | 22:29 WIB

Memaknai Tahun Baru Islam 1 Muharram 1444 H

Sabtu, 30 Juli 2022 | 11:18 WIB

Rencana Layanan Perkeretaapian di IKN

Sabtu, 30 Juli 2022 | 05:34 WIB

Manusia dan Teknologi 5.0

Selasa, 26 Juli 2022 | 19:23 WIB

Harga Pangan

Selasa, 26 Juli 2022 | 10:21 WIB

Haji Mabrur

Senin, 18 Juli 2022 | 01:00 WIB

Tugas Negara

Minggu, 17 Juli 2022 | 15:00 WIB

Kurban dan Endemi

Minggu, 17 Juli 2022 | 00:49 WIB

Ketahanan Pangan

Senin, 11 Juli 2022 | 01:00 WIB

Jalan Tol: Infrastruktur Rakyat Dan Divestasi

Sabtu, 9 Juli 2022 | 01:15 WIB

Halaman 74 Putusan MK

Jumat, 8 Juli 2022 | 15:58 WIB

Keberpihakan Pada Transportasi Umum

Selasa, 5 Juli 2022 | 11:08 WIB
X