• Selasa, 16 Agustus 2022

Tanggulangi Macet, Sepeda Motor Dimasukan Ganjil Genap Kenapa Tidak?

- Sabtu, 7 Mei 2022 | 19:13 WIB

Anies mengklaim cara itu sudah membuahkan hasil. Saat ini jumlah warga yang menggunakan transportasi umum meningkat dari 350 ribu menjadi 1 juta orang perhari sejak Jaklingko diterapkan. "Harapannya nanti 2 juta, 3 juta, 4 juta jiwa. Kalau sudah 4 juta, baru kita bisa bilang mission accomplished. Kalau sekarang menuju mission accomplished, karena sekarang sudah naik, naiknya tiga kali lipat," jelas Anies.

Kendati demikian, Anies yang disebut-sebut bakal mencalon diri sebagai Presiden RI pada Pilpres 2024  juga mengklaim tingkat kemacetan Jakarta sudah berkurang lantaran semakin banyak warga yang memakai angkutan umum.  Dia merujuk hasil penelitian Tomtom Index yang menyatakan bahwa saat ini Jakarta keluar dari 10 besar kota termacet dunia berkat transportasi umum.

Data TomTom Traffic Index menunjukan bahwa kemacetan Jakarta sejak 2017-2021 terus membaik. Pada tahun 2017, Jakarta berada di posisi ke 4 kota termacet di dunia dengan tingkat kemacetan 61 persen. Tahun berikutnya posisi Jakarta turun ke posisi 7 dengan tingkat kemacetan 53 persen pada 2018. Selanjutnya tahun 2019 posisi Jakarta kembali membaik dengan turun ke posisi 10.

Posisi Jakarta di peringkat tersebut kian membaik  lagi tahun 2020. Jakarta keluar dari posisi 10 besar dan menempati posisi ke-31 dengan tingkat kemacetan 36 persen. Selanjutnya, pada tahun 2021, Jakarta berada di ranking ke-46 dari total 404 kota termacet di dunia.

Bagaimana kenyataan di lapangan dirasakan warga Jakarta sendiri? Jawabannya masih macet dan macet. Dari panjang jalan yang ada di Jakarta sendiri menunjukkan macet tidak bisa terhindarkan. Berdasarkan data dari statistik.jakarta.go.id, panjang jalan yang ada di lima kota DKI Jakarta pada tahun 2019 yakni, 6.652.679 meter.

Berdasarkan tingkat kewenangan pemerintah, ada dua kewenangan pada ruas-ruas  jalan di Jakarta. Yakni, jalan milik negara dan provinsi. Jalan negara di DKI Jakarta dikategorikan menjadi dua jenis yaitu, jalan tol dan jalan negara. Jumlah panjang jalan tol di DKI Jakarta 160.350 meter. Dengan jumlah panjang jalan tol terpanjang berada di Jakarta Timur yaitu 52.450 meter. Adapun jumlah panjang jalan tol terpendek di Jakarta Pusat yaitu 2.500 meter.

Sedangkan jumlah panjang jalan negara di lima kota DKI Jakarta adalah 59.856 meter. Dengan jumlah jalan nasional terpanjang di Jakarta Timur yaitu 22.306 meter dan tidak adanya jalan nasional kategori negara di wilayah Jakarta Pusat. Wilayah Jakarta Selatan ternyata memiliki panjang jalan terpanjang dibandingkan dengan lima wilayah kota lainnya. Panjang jalan di Jakarta Selatan yakni 2.028.618 meter. Dengan rincian, jalan kewenangan negara sepanjang 42.461 meter dan panjang jalan dalam kewenangan provinsi yakni, 1.986.157 meter. Wilayah Jakarta Timur mempunyai jumlah jalan tol dan jalan negara terluas yaitu 1.451.550 m2 dan 367.404 m2. Menurut jenisnya, jalan di DKI Jakarta dikategorikan menjadi 6 jenis yaitu tol, arteri primer, kolektor primer, arteri sekunder, kolektor sekunder, dan lokal.

Berdasarkan jenis tersebut, 74,4 persen atau 4.949.394 meter jalan di DKI Jakarta masuk dalam kategori jenis jalan lokal. Sedangkan 0,9 persen atau 57.696 meter jalan di provinsi ini merupakan jalan kolektor primer. Jalan lokal merupakan jenis jalan di DKI Jakarta terluas dibandingkan dengan jenis jalan lainnya yaitu 23.546.835 m2 dan jalan berjenis kolektor primer mempunyai luas paling kecil yaitu 31.540 m2.

Itu berarti dengan panjang seluruh jalan itu belum memungkinkan  arus lalu lintas lancar di Jakarta kalau tidak mau dikatakan masih akan terus terjebak kemacetan apabila tidak ada pembatasan secara radikal. Diakui pemberlakuan ganjil-genap untuk mobil cukup mengurangi kemacetan dan kepadatan. Namun lambat tetapi pasti ruas jalan yang sempat bisa bernafas dipadatkan dan dimacetkan lagi oleh sepeda motor yang jumlahnya terus membludak dan memuncaki jenis kendaraan yang ada. Pemilik mobil yang pelat mobilnya ganjil pada tanggal ganjil menempuh alternatif membawa sepeda motor. Begitu pula waktu tanggal genap, yang mobilnya berpelat genap naik sepeda motor ke tempat kerjanya. Maka ketika suatu ruas jalan di ibu kota macet yang tampak memadati bahkan menyemutinya adalah sepeda motor. Ditambah lagi perilaku berkendara (sepeda motor) yang kerap seenaknya, dan kehadiran yang bukan kendaraan bermotor menjadikan jalan raya Jakarta menjadi pemicu mengubunnya gula darah.

Beragam Ulah Menambah Macet

Halaman:

Editor: Gungde Ariwangsa

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ironi Buruh

Kamis, 11 Agustus 2022 | 10:43 WIB

Jiwa Korsa, Pedang Bermata Dua.

Rabu, 10 Agustus 2022 | 12:14 WIB

Ekonomi Politik

Selasa, 2 Agustus 2022 | 22:29 WIB

Memaknai Tahun Baru Islam 1 Muharram 1444 H

Sabtu, 30 Juli 2022 | 11:18 WIB

Rencana Layanan Perkeretaapian di IKN

Sabtu, 30 Juli 2022 | 05:34 WIB

Manusia dan Teknologi 5.0

Selasa, 26 Juli 2022 | 19:23 WIB

Harga Pangan

Selasa, 26 Juli 2022 | 10:21 WIB

Haji Mabrur

Senin, 18 Juli 2022 | 01:00 WIB

Tugas Negara

Minggu, 17 Juli 2022 | 15:00 WIB

Kurban dan Endemi

Minggu, 17 Juli 2022 | 00:49 WIB

Ketahanan Pangan

Senin, 11 Juli 2022 | 01:00 WIB

Jalan Tol: Infrastruktur Rakyat Dan Divestasi

Sabtu, 9 Juli 2022 | 01:15 WIB
X