• Sabtu, 25 Juni 2022

Tanggulangi Macet, Sepeda Motor Dimasukan Ganjil Genap Kenapa Tidak?

- Sabtu, 7 Mei 2022 | 19:13 WIB

Oleh: Wilmar Pasaribu

SUARAKARYA.ID: Berbagai jenis kendaraan bermotor terus menerus menyerbu kemudian memacetkan ruas-ruas jalan di Kota Jakarta. Sampai-sampai Ibukota Negara yang akan pindah ke Kaltim ini penuh sesak, sumpek nyaris tidak bisa "bernafas". Boleh jadi ratusan juta rupiah uang yang dibelikan BBM "terbakar" di jalan-jalan yang mandeg seperti tempat parkir super panjang. Belum lagi waktu dan tenaga yang terbuang sia-sia.

Sempat bisa "bernapas" sejenak sepanjang tahun 2020 – 2021 kala dikenakan  PSBB dan PPKM mengantisipasi merajalela Covid-19. Menyenangkan dan lancar berkendara di Kota Jakarta kurun waktu dua tahun tersebut. Jarak 60-80 KM bisa ditempuh dalam tempo satu jam. Dini hari, pagi hari, siang hari dan malam hari atau jam sibuk sekalipun sama saja. Nyaris hanya kala lampu merah di traffic light menyala pengendara berhenti.

Namun masa longgar jalan-jalan Jakarta selama Covid-19 tersebut telah tamat sejak awal 2022, kendati Covid-19 dengan varian barunya masih ada. Kemacetan kembali terjadi di mana-mana di Jakarta. Jalan-jalan Jakarta kembali menjadi "pembakar" uang setiap harinya melalui mesin-mesin kendaraan di jalan. Kondisi macet parah semakin menjadi-jadi jelang Idul Fitri 2022.

Dalam kondisi seperti itu, nyaris tidak ada solusi kecuali kebijakan spektakuler yang boleh jadi tidak populer bagi para pemilik kendaraan di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) yang menyerbu Jakarta setiap hari. Kondisi melelahkan ini tidak terhindarkan karena saat ini saja jumlah kendaraan yang berseliweran di Jakarta setiap harinya tercatat mencapai 16 juta;  terdiri dari 13 juta unit sepeda motor dan  3 juta unit mobil. Jumlah ini bakal segera bertambah lagi, karena dua tahun selama pandemi Covid-19 banyak warga yang urung membeli kendaraan akibat morat-maritnya ekonomi. Sekarang ekonomi sudah mulai membaik dan bergerak, mobil baru diprediksi bakal berdatangan kian memacetkan jalan-jalan di Jakarta lagi.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sendiri mengakui bahwa jumlah kendaraan 16 juta sudah sangat  memacetkan Jakarta. "Apa yang terjadi dengan 13 juta unit motor dan 3 juta unit mobil di Jakarta? Dengan penduduk 11 juta, ukurannya hanya 600 kilometer persegi. Jakarta itu 20 kali 30 kira-kira 600 kilometer persegi saja. Apa yang terjadi? Tentu saja kemacetan, kemampatan yang kita biasa saksikan di Jakarta khususnya jam-jam sibuk," demikian Anies dalam suatu kesempatan.

Kurangi Kemacetan Dengan Program JakLingko

Dia menyebut Pemprov DKI Jakarta telah berupaya mengurangi jumlah kendaraan pribadi dengan menambah jumlah kendaraan umum dan menjalankan program JakLingko. Program itu, katanya, membuat seluruh transportasi umum di Jakarta menjadi satu kesatuan. Setidaknya 27 operator transportasi umum terlibat.

Sistem JakLingko, katanya, bakal mengubah cara bertransaksi masyarakat dalam menggunakan transportasi publik. JakLingko menerapkan sistem satu tarif bagi masyarakat yang menggunakan transportasi umum. Warga tidak perlu bayar per kilometer. Warga bayarnya per 3 jam Rp5.000 untuk naik kendaraan umum 3 jam kendati gonta-ganti kendaraan tanpa ongkos tambahan.

Halaman:

Editor: Gungde Ariwangsa

Tags

Artikel Terkait

Terkini

SAJA, Langkah Awal Untuk Merekat Erat Konektivitas

Selasa, 21 Juni 2022 | 09:57 WIB

Ramah Lingkungan

Senin, 20 Juni 2022 | 01:05 WIB

Motor Matic Kuat Nanjak Tapi Tidak Kuat Turun

Jumat, 17 Juni 2022 | 08:00 WIB

Peran Generasi Milenial Dalam Ketahanan Pangan

Selasa, 14 Juni 2022 | 08:30 WIB

Sentimen & Stabilitas

Senin, 13 Juni 2022 | 22:11 WIB

Urgensi Pendanaan

Senin, 6 Juni 2022 | 00:05 WIB

Integrasi Dan Stasiun Sentral Manggarai

Minggu, 5 Juni 2022 | 11:57 WIB

ARB: "Jangan Ada Munaslub (Lagi) Di Golkar!"

Sabtu, 4 Juni 2022 | 23:33 WIB

Formula E Harus Didukung Semua Pihak, Mengapa?

Sabtu, 4 Juni 2022 | 12:00 WIB

Memaknai Hari Lahir Pancasila 2022

Rabu, 1 Juni 2022 | 15:34 WIB
X