• Sabtu, 25 Juni 2022

Lebaran

- Selasa, 3 Mei 2022 | 10:50 WIB
 Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi  (Ist)
Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi (Ist)
Oleh: Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi
 
SUARAKARYA.ID: Lebaran tiba dan euforia para pemudik tampak jelas di media. Betapa
kemacetan ada di mana-mana, yaitu tidak saja di berbagai ruas jalan tol, tetapi juga di sejumlah lalu lintas perkotaan. Bahkan tampak jelas karakteristik semua moda pemudik dengan tampilannya atap mobil penuh dengan barang bawaan.
 
Ironisnya, viral juga moda pemudik yang jelas membawa motor diatas mobil dan di belakang bagasi. Realitas ini sangat membahayakan keselamatan dan sepertinya banyak juga pemudik yang mengabaikan faktor keselamatan sehingga risiko menjadi semakin besar. Bisa saja ini dimaklumi karena dua lebaran tidak bisa mudik karena faktor larangan pemerintah mengacu ancaman sebaran pandemi. Lalu di tahun ini pemerintah mengizinkan mudik meski dengan syarat sudah booster. Terkait ini sangatlah beralasan jika kemudian euforia mudik terjadi dan kemacetan parah terjadi.
 
Baca Juga: Otda & Demokrasi
 
Berbondong-bondong moda transportasi meninggalkan Jakarta khususnya dan perkotaan pada umumnya menuju ke daerah asal. Meski diakui bahwa Jawa masih menjadi tujuan utama mudik sehingga hal ini menjadi pembenar bahwa pemerataan pembangunan tidak bisa diimplementasikan oleh pemerintah. Selain itu, meski juga sudah ada otda sejak 25 tahun lalu ternyata perekonomian di daerah pada umumnya dan di Jawa khususnya kini masih belum menunjukan hasil. 
 
Di sisi lain, meski era otda juga didukung dana desa dan dana kelurahan yang besarannya tidak kecil ternyata juga belum maksimal memacu geliat ekonomi di daerah dan di pedesaan. Imbasnya, migrasi ke perkotaan dan ke Jawa selalu saja masih ada. Hal ini cenderung berulang ketika arus balik terjadi sehingga pendatang di tanah perantauan semakin meningkat.
 
Baca Juga: Otda Gagal?
 
Jika dicermati sejatinya arus balik selalu menjadi persoalan baru di perantauan dan pasti juga di perkotaan. Setidaknya kehadiran para perantau dari arus balik membutuhkan ada perumahan, permukiman, kesejahteraan dan pekerjaan. Persoalannya yaitu semuanya itu tidak tersedia secara gratis di perkotaan dan di perantauan. Mereka para pendatang tentu harus berjuang untuk mampu mendapatkan itu semua tanpa terkecuali. Bahkan perantau sebelumnya saja belum tentu bisa mendapatkan itu semua.
 
Artinya tidak semua perantau bisa sukses di perkotaan dan di perantauan. Hal ini tidak bisa terlepas dari realitas bahwa survival of the quickest sehingga mereka yang proaktif dan menyadari potensi dan pasti peluang yang ada akan menjadi pemenang pada persaingan di perkotaan dan pastinya di perantauan. Sebaliknya, mereka yang tidak proaktif akan kalah bersaing dan tergusur di kancah kompetisi. Ironisnya, kelompok ini bisa menjadi pecundang.
 
Baca Juga: Reog
 
Belajar bijak dari perantau maka para pendatang sebaiknya memang harus berbekal ilmu dan keterampilan, jangan hanya modal dengkul. Jika ini yang terjadi maka akan menjadi beban di perkotaan dan di perantauan. Setidaknya ancaman masalah sosial akan semakin banyak muncul di perkotaan dan di perantauan, misal peningkatan sektor informal, aksi
kriminalitas, konflik sosial – horizontal dan juga pastinya kekumuhan dan kemiskinan di perkotaan dan di perantauan. Oleh karena itu sebaiknya para calon pendatang yang nanti akan menjadi bagian dari arus balik sebaiknya berpikir ulang sehingga dia tidak menjadi beban baru dan beban tambahan di perkotaan dan di perantauan.
 
Pemerintah daerah sebaiknya juga wajib melakukan himbauan untuk tidak memberikan ijin bagi warganya merantau ke perkotaan dan perantauan jika tidak berbekal skill sebab akan mempersulit dirinya sendiri dan memicu ancaman konflik di perkotaan. Meskipun ini tidak mudah, bukan berarti tidak bisa dilakukan, setidaknya untuk antisipasi berbagai ancaman sosial yang mungkin muncul. Selain itu, pemerintah daerah juga penting untuk mengembangkan daerahnya sesuai arahan dan komitmen otda, apalagi ada alokasi dana desa dan dana kelurahan yang bisa dimanfaatkan untuk membangun BUMDes sehingga geliat ekonomi di daerah berkembang dan meningkatkan kesejahteraan sehingga mampu mereduksi arus balik dan migrasi ke perkotaan dan daerah perantauan. ***
 
* Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo
 
 

Editor: Gungde Ariwangsa

Sumber: Edy Purwo Saputro

Tags

Artikel Terkait

Terkini

SAJA, Langkah Awal Untuk Merekat Erat Konektivitas

Selasa, 21 Juni 2022 | 09:57 WIB

Ramah Lingkungan

Senin, 20 Juni 2022 | 01:05 WIB

Motor Matic Kuat Nanjak Tapi Tidak Kuat Turun

Jumat, 17 Juni 2022 | 08:00 WIB

Sentimen & Stabilitas

Senin, 13 Juni 2022 | 22:11 WIB

Urgensi Pendanaan

Senin, 6 Juni 2022 | 00:05 WIB

Integrasi Dan Stasiun Sentral Manggarai

Minggu, 5 Juni 2022 | 11:57 WIB

ARB: "Jangan Ada Munaslub (Lagi) Di Golkar!"

Sabtu, 4 Juni 2022 | 23:33 WIB

Memaknai Hari Lahir Pancasila 2022

Rabu, 1 Juni 2022 | 15:34 WIB

Kepemimpinan Perempuan

Senin, 30 Mei 2022 | 09:55 WIB

Antisipasi Kelelahan Pengemudi Angkutan Umum

Sabtu, 28 Mei 2022 | 12:46 WIB

24 Tahun Reformasi

Senin, 23 Mei 2022 | 01:00 WIB

Pasca Lebaran

Selasa, 17 Mei 2022 | 17:35 WIB

Arus Balik

Senin, 9 Mei 2022 | 08:31 WIB
X