• Sabtu, 8 Oktober 2022

Otda Gagal?

- Senin, 18 April 2022 | 07:24 WIB
Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi (Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi)
Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi (Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi)
 
 
Oleh: Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi
 
 
SUARAKARYA.ID: Euforia menyambut arus mudik sepertinya mulai terasa dan pemerintah  memberi lampu hijau untuk mudik pada lebaran kali ini, setidaknya karena sudah 2 kali lebaran kemarin pemerintah melarang mudik karena faktor pandemi.
 
Bahkan, BI  memprediksi lebaran ini perputaran uang akan semakin meningkat seiring dengan semakin membaiknya ekonomi meski di sisi lain ada ancaman daya beli karena sejumlah komoditas sudah naik duluan dan pastinya ini juga akan mengancam belit inflasi musiman. Meski ada ancaman daya beli tapi faktanya antusiasme publik untuk mudik semakin terlihat dan sejumlah daerah juga sudah mempersiapkan mudik gratis dengan sejumlah ketentuan.
 
Pemerintah juga tidak tinggal diam menyambut euforia mudik nasional pada lebaran ini, termasuk misalnya kebijakan tentang penetapan tarif batas atas dan tarif batas bawah di sejumlah armada, baik darat, laut dan udara untuk memberikan kepastian kepada calon pemudik dan bisnis armada. Bagaimanapun juga, setelah 2 kali lebaran dilarang mudik, maka lebaran kali ini akan terasa semakin ramai sehingga prediksi arus mudik semakin ramai sehingga perlu ada koordinasi yang lebih sistemik untuk mengantisipasi ancaman di balik ketidaklancaran dari arus mudik itu sendiri. Pastinya perbaikan sejumlah ruas jalan di berbagai daerah sudah dikebut untuk memberikan keamanan - kenyamanan berkendara,
termasuk juga regulasi bahwa berkendara di jalan tol dibatasi kecepatannya untuk dapat mencegah kecelakaan di jalan tol.
 
Baca Juga: Reog
 
Arus mudik dipastikan akan mulai bergerak minggu ini terutama pekan ketiga ramadhan karena pertimbangan kelancaran. Meski sejumlah calon pemudik juga dipastikan mudik mendekati H-1 karena sejumlah faktor misalnya pertimbangan izin cuti dan pekerjaannya yang harus diselesaikan sebelum mudik. Selain itu, pertimbangan lain adalah menunggu pencairan THR. Betapa tidak, pembayaran THR selama ini masih dianggap sebagai satu stimulus atau amunisi yang mendukung kelancaran mudik, termasuk misalnya untuk beli tiket dan buah tangan di daerah.
 
Ironisnya, pandemi mungkin membuyarkan impian dari pembayaran THR karena bisa jadi ada sejumlah perusahaan yang akan mengajukan bisa menunda dan atau mungkin tidak membayarkan THR karena pertimbangan kerugiannya selama pandemi. Jika ini terjadi maka akan ada kerawanan dan konflik buruh - korporasi di sejumlah daerah sehingga perlu
antisipasi sedari dini.
 
 
Fakta membuktikan bahwa selama pandemi 2 tahun terakhir banyak terjadi PHK sebagai antisipasi ketidakmampuan dunia usaha di dera pandemi sehingga berdampak terhadap akumulasi pengangguran dan pastinya juga kemiskinan. Oleh karena itu, bisa jadi kasus ini akan memungkinkan terjadinya peningkatan migrasi ke perkotaan melalui arus balik habis
lebaran nanti. Oleh karena itu perkotaan juga perlu mengantisipasi hal ini sehingga tidak berdampak sistemik terhadap kesejahteraan, kemakmuran dan pastinya keamanan di  perkotaan secara umum. Argumen yang mendasarinya ketika para pendatang semakin banyak maka akan berpengaruh terhadap persaingan di dunia kerja dan pastinya kondisi
ekonomi bisnis juga akan berpengaruh. Jika warga asli kalah bersaing dengan pendatang maka bisa memicu kecemburuan sosial dan akhirnya berdampak konflik horizontal.
 
 
Arus mudik dan balik memang menjadi persoalan klasik setiap lebaran dengan sejumlah konsekuensi yang tidak simpel, baik itu positif atau negatif. Oleh karena itu, tingginya arus mudik menjadi pertanda kegagalan otda karena ekonomi di daerah masih tidak bisa memberikan kesejahteraan dan kemakmuran bagi warganya sehingga bermigrasi ke kota
mencari perbaikan hidup dan kehidupan. Begitu juga alokasi dana desa dan kelurahan di era otda juga tidak berdampak signifikan terhadap perbaikan ekonomi sehingga realitas ini perlu dicermati lagi sehingga ketimpangan tidak melebar dan ekonomi di daerah juga bisa berkembang sehingga setiap tahun tidak direpotkan dengan arus mudik dan balik. ***
 
* Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo

Editor: Gungde Ariwangsa

Sumber: Edy Purwo Saputro

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sanksi Malaka Gate Setengah Hati PSSI

Jumat, 7 Oktober 2022 | 15:59 WIB

Situasi Kanjuruhan Seharusnya Bisa Diantisipasi

Senin, 3 Oktober 2022 | 18:55 WIB

Pertanggungjawaban Insiden Kanjuruhan

Senin, 3 Oktober 2022 | 18:51 WIB

Ledakan Bom Sosial dalam Kekerasan Sepak Bola

Senin, 3 Oktober 2022 | 15:50 WIB

Geliat Otomotif

Senin, 3 Oktober 2022 | 01:26 WIB

Digitalisasi Pertambangan

Senin, 26 September 2022 | 22:20 WIB

Daya Saing

Senin, 26 September 2022 | 17:07 WIB

Upaya Menekan Fatalitas Tabrak Belakang Truk

Minggu, 25 September 2022 | 19:06 WIB

Pariwisata Digital

Selasa, 20 September 2022 | 16:20 WIB

Daya Saing Teknologi

Selasa, 20 September 2022 | 09:50 WIB

Digital Senjata Pemulihan Ekonomi

Selasa, 20 September 2022 | 00:56 WIB

Keunggulan Kompetitif

Minggu, 11 September 2022 | 17:18 WIB

Dedikasi dan Urgensi

Jumat, 9 September 2022 | 12:39 WIB

Pesan Kebangkitan dari Mimbar Senayan

Minggu, 4 September 2022 | 14:45 WIB
X