• Minggu, 2 Oktober 2022

Ini Dia Sosok Danjen Kopassus Yang Baru - Sang "Pam Pam" Puncaki Korp Baret Merah

- Jumat, 8 April 2022 | 14:13 WIB
Penulis bersama Iwan Setiawan (Ist)
Penulis bersama Iwan Setiawan (Ist)

Saking tingginya, oksigen menjadi sangat-sangat tipis, nyaris tak ada. Tidak semua manusia bisa hidup di ketinggian 8.500 meter dengan suhu minus 50 derajat Celcius. Selama mendaki, Iwan menyaksikan banyak sekali jazad manusia di sepanjang jalur pendakian. Jazad mereka utuh, beku. Mereka adalah pendaki naas yang terjemput ajal sebelum sampai di puncak Everest.

Tak heran, atas prestasi itu, Iwan dan tim disambut luar biasa saat kembali ke Tanah Air. Iwan juga diundang khusus ke kediaman Presiden Soeharto dan diberi hadiah ke Tanah Suci. Untuk diketahui, inisiator dan pemberi tugas pendakian Mount Everest adalah Danjen Kopassus Mayjen TNI Prabowo Subianto (sekarang Menteri Pertahanan RI).

Saat menerima tugas dari Prabowo, Iwan sama sekali tidak memiliki bayangan tentang Mount Everest. Sekali pun ia belum pernah mendaki gunung. Lantas ia memberanikan diri untuk meminta satu syarat kepada Komandan Prabowo. Ia minta izin dan restu untuk menikah sebelum mendaki Everest.

Prabowo merestui. Iwan pun menikahi kekasih hati, Betty Siti Supartin. Sepulang dari menunaikan tugas “hidup dan mati” itu, Iwan dikaruniai putra yang langsung diberinya nama Arya Everest Setiawan.

Cerita panjang jika kita menguak drama pendakian Mount Everest yang memang luar biasa. Dari serangkaian aline di atas, hingga kata terakhir yang tengah Anda baca, tidak ada satu pun kata “menaklukkan”. Benar, dalam beberapa kali perjumpaan saya dengannya, ketika menyinggung soal Mount Everest, ia selalu menolak julukan “penakluk Mount Everest” atau kata-kata “berhasil menaklukkan Mount Everest”.

“Terlalu jumawa kalau kita sebut menaklukkan. Alam tak bisa ditaklukkan. Sebagai orang yang pernah berada dalam bekapan suhu minus 50 derajat Celcius, tanpa matras dan body bag, pilihannya hanya satu: kematian. Jika saya dan tim bisa menancapkan bendera merah putih di puncak Everest, seratus persen karena izin Tuhan,” ujar lelaki kelahiran Bandung, 16 Februari 1968.

Iwan memang prajurit komando sejati. Di darahnya meresap Himne Kopassus “Lebih baik pulang nama daripada gagal di Medan laga”. Setiap tugas adalah kehormatan. Karena itu, ketika ditugasi mendaki Mount Everest, Iwan hanya punya satu kata dalam kamus hariannya: Berlatih.

Jago Yel-yel

Ada satu lagi catatan menarik tentang sosok Danjen Kopassus yang baru ini. Di kalangan korp baret merah, Iwan Setiawan dikenal sebagai “jagoan yel-yel”. Ia terkenal sangat piawai membakar semangat pasukan dengan yel-yel atraktif, baik kata-kata maupun gerakannya.

Halaman:

Editor: Gungde Ariwangsa

Sumber: Rilis

Tags

Terkini

Digitalisasi Pertambangan

Senin, 26 September 2022 | 22:20 WIB

Daya Saing

Senin, 26 September 2022 | 17:07 WIB

Upaya Menekan Fatalitas Tabrak Belakang Truk

Minggu, 25 September 2022 | 19:06 WIB

Pariwisata Digital

Selasa, 20 September 2022 | 16:20 WIB

Daya Saing Teknologi

Selasa, 20 September 2022 | 09:50 WIB

Digital Senjata Pemulihan Ekonomi

Selasa, 20 September 2022 | 00:56 WIB

Keunggulan Kompetitif

Minggu, 11 September 2022 | 17:18 WIB

Dedikasi dan Urgensi

Jumat, 9 September 2022 | 12:39 WIB

Pesan Kebangkitan dari Mimbar Senayan

Minggu, 4 September 2022 | 14:45 WIB

Berharap Polisi Usut Tuntas Kasus Kecelakaan di Bekasi

Sabtu, 3 September 2022 | 17:04 WIB

Industri Kreatif

Sabtu, 27 Agustus 2022 | 11:06 WIB

Kurir dan UMKM Berkolaborasi, Bertahan di Era Pandemi

Minggu, 21 Agustus 2022 | 01:12 WIB

Kinerja Impresif Ekonomi, Kado Manis HUT ke-77 RI

Sabtu, 20 Agustus 2022 | 20:29 WIB

Transparansi APBN ala Kemenkeu

Kamis, 18 Agustus 2022 | 01:19 WIB
X