• Selasa, 6 Desember 2022

Stabilitas Pangan

- Selasa, 5 April 2022 | 07:04 WIB
Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi (Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi)
Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi (Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi)
 
Oleh Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi
 
SUARAKARYA.ID: Awal ramadhan 2022 sudah diwarnai dengan kenaikan sejumlah harga,
termasuk juga misalnya kemarin heboh kelangkaan dan mahalnya harga minyak goreng. Belum lagi kasus minyak goreng reda sudah disusul kelangkaan solar dan info terbaru akan ada kenaikan harga BBM.
 
Padahal sebelumnya juga terjadi kasus mahalnya harga kedelai sehingga memicu keresahan publik karena imbas harga kedelai adalah ke produk tahu dan tempe yang tidak lain menjadi menu lauk keseharian di masyarakat. Oleh karena itu, kasus kelangkaan solar di beberapa daerah juga rawan memicu dampak kenaikan harga komoditas karena solar menjadi BBM  wajib bagi armada transportasi dan pasti juga untuk kepentingan distribusi. Jadi, dapat dipastikan awal ramadhan kali ini harga sejumlah komoditas sudah merangkak naik dan pastinya akan memicu inflasi.
 
Teoritis menyebut bahwa penetapan harga merupakan perpaduan antara permintaan dan penawaran sehingga pertemuan keduanya akan merefleksikan harga pasar yang disepakati. Oleh karena itu, mengacu teoritis ini, seharusnya problem kenaikan harga untuk sejumlah
komoditas bisa disiasati karena sejatinya pihak terkait memiliki data rinci, misal BPS, Bulog dan Tim Pengendali Inflasi Daerah. Argumen yang menjadi pertimbangan karena pihak terkait tersebut berkepentingan dengan pasokan produk di pasaran dan juga data inflasi per periodik. Artinya, mereka setidaknya memiliki data yang akurat terkait kepentingan masing-masing. Oleh karena itu, kalkulasi kebutuhan dari setiap komoditas pastinya diketahui dengan baik sehingga bisa dipertimbangkan berbagai kemungkinan yang terjadi.
 
Baca Juga: Kesejahteraan
 
Persoalan mendasar yang terjadi yaitu ancaman terjadinya inflasi musiman dan yang terjadi di republik ini sejatinya ada 2 inflasi musiman yaitu pertama inflasi musiman pada ramadhan-lebaran dan yang kedua: inflasi musiman pada natal-tahun baru. Jika 2 problem inflasi musiman ini mampu diantisipasi maka semestinya tidak keresahan yang terjadi di masyarakat. Betapa tidak, kasus minyak goreng kemarin saja memicu keresahan bagi sejumlah ibu rumah tangga, termasuk pastinya para penjual gorengan karena harus menaikan harga jual dan atau mengurangi ukuran gorengannya. Padahal fakta membuktikan bahwa selama pandemi 2 tahun ini daya beli masyarakat menurun dan belum lagi kasus
PHK massal dan peningkatan pengangguran yang berdampak ke akumulasi kemiskinan.
 
 
Data Kemenaker menyebut ada sekitar 72.983 karyawan menjadi korban PHK selama pandemi. Data ini berdasar survei yang dilakukan pada November 2021 kemarin dan angkanya pasti meningkat seiring dengan masih berlanjutnya pandemi dengan varian terbaru omicron. Fakta selama pandemi 4.156 perusahaan telah melakukan PHK yang dipicu karena problem keuangan sebagai imbas pandemi. Data lain menunjukan pada tahun 2018 jumlah PHK bisa dikurangi sampai 3.400 atau turun 95,67% tapi di tahun 2019 naik lagi menjadi 45.000 karyawan yang di PHK. Kondisinya semakin runyam ketika omicron datang sebagai varian baru sehingga pembatasan kembali dilakukan di sejumlah daerah. Padahal
regulasi pembatasan tersebut berdampak terhadap semua kegiatan ekonomi – bisnis dan pastinya mereduksi transaksi.
 
Baca Juga: Antisipasi Harga
 
Data lain dari LPEM FEB UI menegaskan bahwa pandemi berdampak sistemik untuk sektor sosial ekonomi, termasuk tentunya kemiskinan, pengangguran dan ketimpangan sehingga data per Maret 2020 dan per September 2020 terjadi perubahan signifikan. Fakta ini pastinya juga berpengaruh terhadap kemampuan pangan masyarakat. Oleh karena itu,
kenaikan harga sejumlah komoditas selama ramadhan tentunya dirasakan sangat berat oleh publik, terutama karena daya beli tergerus akibat pandemi. Realitas ini menjadi pembenar ketika publik berharap agar pemerintah dapat menjaga kondisi stabilitas pangan sehingga harapannya harga tidak terlalu melonjak. Implikasinya hal ini dapat mereduksi ancaman inflasi musiman selama ramadhan – lebaran. Meskipun ini tidak mudah tapi tidak ada alasan untuk tidak mengantisipasinya demi keadilan. ***
 
* Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo
 
 

Editor: Gungde Ariwangsa

Sumber: Edy Purwo Saputro

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kereta Cepat Membangun Sejarah dan Peradaban

Selasa, 29 November 2022 | 11:27 WIB

Perubahan Iklim

Senin, 28 November 2022 | 13:05 WIB

Kendaraan Listrik Jangan Berhenti Sampai KTT G20

Sabtu, 19 November 2022 | 06:53 WIB

Problem Sosial Migrasi

Jumat, 18 November 2022 | 08:23 WIB

Tunjangan dan Pengabdian

Sabtu, 12 November 2022 | 02:30 WIB

Sumpah Pemuda dan Dunia Baru

Rabu, 9 November 2022 | 15:32 WIB

Ancaman Krisis 2023

Rabu, 9 November 2022 | 15:14 WIB

Subsidi Angkutan Barang Perlu Ditambah

Senin, 31 Oktober 2022 | 22:26 WIB

Pandemi dan Resesi

Senin, 31 Oktober 2022 | 15:42 WIB

Kota Humanis

Senin, 24 Oktober 2022 | 23:15 WIB

Mendorong Industri Halal

Sabtu, 22 Oktober 2022 | 08:10 WIB

Transformasi Pariwisata

Kamis, 20 Oktober 2022 | 22:20 WIB

Mudah dan Murah

Senin, 17 Oktober 2022 | 07:53 WIB

Lokomotif Polri Bergerak

Kamis, 13 Oktober 2022 | 07:19 WIB

Tragedi Kanjuruhan dan Rendahnya Budaya Malu Bangsa 

Selasa, 11 Oktober 2022 | 23:39 WIB
X