• Minggu, 4 Desember 2022

Force Majeare, Pakar Hukum Unpad Menyebut Tragedi di Stadion Kanjuruhan Bukan Peristiwa Pidana

- Minggu, 2 Oktober 2022 | 17:33 WIB
Prof Romli Atmasasmita  (istimewa )
Prof Romli Atmasasmita (istimewa )

SUARAKARYA.ID:  Guru besar Ilmu Hukum khususnya Hukum Internasional Universitas Padjadjaran (Unpad) Prof Romli Atmasasmita angkat bicara terkait tragedi di stadion Kanjuruhan Malang, menurut prof Romli peristiwa kerusuhan supporter Arema di stadion Kanjuruhan bukan peristiwa pidana. Hal ini disampaikan saat dihubungi melalui pesan WhatsApp pribadi pada Minggu (2/10/2022).

"Karena peristiwa tersebut termasuk keadaan darurat atau force majeure," ucapnya dalam pesan singkat WhatsApp jalur pribadi.

Baca Juga: Tragedi Kanjuruhan, Mahfud MD: Polisi Sudah Usulkan Pertandingan Sore Penonton Sesuai Kapasitas Stadion

Lebih lanjut pakar hukum universitas Padjadjaran prof Romli Atmasasmita ini juga mengatakan, adanya peraturan Fifa yg melarang penggunaan gas air mata hanya berlaku dalam keadaan normal saja tidak dalam keadaan darurat.

"Berdasarkan International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) dan penggunaan senjata api dalam hukum internasional, dalam keadaan darurat ( State of emergency) polisi dapat menggunakan senjata api tanpa perlu dimintakan pertanggungjawaban kecuali digunakan excessive force," jelasnya prof Romli Atmasasmita pakar hukum Internasional.

Baca Juga: Kerahkan Tim DVI, Polri Gerak Cepat Bantu Korban Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan Malang

Sekedar informasi, tragedi kerusuhan di stadion Kanjuruhan Malang yang menewaskan ratusan korban jiwa itu lantaran para suporter kecewa, karena tim kesayangannya Arema FC kalah di kandang sendiri saat melawan tim Persebaya Surabaya.

Sehingga para suporter turun ke lapangan dan mengejar para pemain dan official, selanjutnya petugas melakukan upaya-upaya pencegahan dan melakukan pengalihan supaya para suporter Arema tidak masuk ke dalam lapangan, ataupun mengejar para pemain.

Dalam upaya tersebut petugas terpaksa mengeluarkan tembakan gas air mata, karena situasi pada saat itu mulai tidak kondusif. Para suporter Aremania menyerang petugas dan merusak 13 mobil dinas, 10 diantaranya milik Polri.***

Halaman:

Editor: Dwi Putro Agus Asianto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Senegal Tetap Berbahaya Tanpa Mane, Inggris Waspada

Minggu, 4 Desember 2022 | 16:53 WIB

Piala Dunia 2022, Belanda Melaju ke Perempat Final

Minggu, 4 Desember 2022 | 04:51 WIB

Gamangnya Argentina dan Strategi Bertahan Australia

Sabtu, 3 Desember 2022 | 17:33 WIB

Piala Dunia 2022, Preview Timnas Brasil VS Kamerun

Kamis, 1 Desember 2022 | 19:41 WIB

Kejurnas Bulutangkis Diikuti 628 Atlet

Kamis, 1 Desember 2022 | 15:20 WIB
X