Penerima Anugerah Kebudayaan HPN 2023, Bupati Dendi Promosikan Sulam hingga New York

- Sabtu, 4 Februari 2023 | 19:07 WIB
Bupati Pasawaran  Dendi Ramadhona (ketiga dari kiri) menunjukan kain sulam jelujur  kepada tim yuri  Anugerah Kebudayaan PWI Pusat beberapa waktu lalu.
Bupati Pasawaran Dendi Ramadhona (ketiga dari kiri) menunjukan kain sulam jelujur kepada tim yuri Anugerah Kebudayaan PWI Pusat beberapa waktu lalu.



SUARAKARYA.ID: Pekan Mode New York atau New York Fashion Week adalah salah satu dari empat besar pekan mode yang diselenggarakan di seluruh dunia bersama Pekan Mode Paris, London, dan Milan. 

Pekan Mode New York diselenggarakan pada bulan Februari dan September setiap tahunnya di New York City, Amerika Serikat.

Pekan mode yang awalnya disebut Press Week ini mulai diselenggarakan tahun 1943 saat Perang Dunia II sedang meletus. 

Baca Juga: Peraih Anugerah Kebudayaan HPN, Bupati Acep Purnama Bangga <span;>dengan Ubi Jalar Komuditas Unggulan Kuningan

Kini Pekan Mode New York telah menjadi kiblat pada mode dunia di samping Paris, London, dan Milan.

Ke Pekan Mode New York itulah Bupati Pesawaran H. Dendi Ramadhona K, ST, M TrIP, membawa sulam jelujur dari Kabupaten Pesawaran terbang tinggi pada  11 September 2022.

“Pemerintah Daerah Pesawaran mengenalkan produk kerajinan sulam jelujur  pada event Indonesia Fashion Week di New York dengan tema Sang Dewi,” kata Bupati  Dendi dengan bangga di depan Tim Juri anugerah kebudayaan PWI Pusat 2023 di Kantor PWI Pusat, Kebon Sirih, Jakarta Pusat belum lama ini.

Baca Juga: Potensi Buah Kelapa Mengantar Bupati HM Wardan Menerima Anugerah Kebudayaan

Dendi terpilih menerima anugerah tersebut. “Sang Dewi adalah sebuah dedikasi terhadap pengrajin sulam jelujur Pesawaran di Desa Sungai Langka yang mayoritas pengrajinnya adalah perempuan yang tangguh dalam menghadapi sebuah kondisi dan keadaan yang mereka alami. Para wanita  itu menjadi simbol sang dewi,” kata Bupati.

Saat tampil di Pekan Mode New York itu desainer Ariesmansyah membawa 12 desain sulam jelujur dengan tema Sang Dewi.

Saat tampil di depan Tim Juri, Bupati Dendi  mengajak Ariesmansyah ikut serta bersama stafnya. Dendi juga memamerkan sejumlah produk sulam jelujur di depan juri.

Baca Juga: Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2023, Mengapresiasi Bupati - Walikota yang Inovatif

sulam jelujur terus terbang tinggi. Usai Pekan Mode New York, sulam jelujur dipamerkan di Ocean City Gift Expo di Washington DC, lalu ikut tampil di panggung  Dubai Fashion Week.

sulam jelujur mulai tampil di panggung di dunia internasional sejak tahun 2018.
 “Tahun 2018 ada kerja sama dengan  Negara Belanda  berkaitan dengan  sulam jelujur. Motif sulam jelujur  dipajang di Bandara Internasional Netherlands, Museum Tektile Netherlands, dan Stasiun Metrohal Netherlands,” kata Dendi. 

Lalu, tahun 2019 sulam jelujur ditampilkan  di Kedubes RI di  Afrika Selatan untuk pameran dan fashion show. Tahun 2021 ikut serta dalam beberapa pameran yakni Lampung Craft, Innacraft, dan Bali TTI Expo.

Baca Juga: Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2023, Mengapresiasi Bupati - Walikota yang Inovatif

sulam jelujur sebetulnya bukan khas Pesawaran dan Lampung pada umumnya. Kain khas Lampung adalah Tapis Lampung. Dedi mengungkapkan penemuan sulam jelujur terjadi secara kebetulan tahun 2017.

“Saat bertamu di rumah warga, ada telapak meja dan hiasan dinding yang menarik. Ternyata itu sulam jelujur,” ucap Dendi.

sulam jelujur dibawa oleh transmigran dari Jawa ke Pesawaran tahun 1905.

Baca Juga: Dinas Kebudayaan DKI: Wajib Dukung KSBN di Gelaran WDD 2023 Alias World Dance Day dan Hari Musik Nasional
Keterampilan membuat sulam jelujur dipertahankan terus oleh keturunan transmigran dari Jawa itu terutama di Desa Sungailangka, Kecamatan Gedongtataan.

Kerajinan itu hanya digunakan sebagai pajangan atau hiasan rumah.
Setelah digali, ternyata ada narasi yang besar di balik sulam jelujur itu.

Motif-motifnya mengandung pesan filosofi atau kearifan yang luar biasa. Juga ada motif yang mengisahkan perjalanan transmigran dari Jawa ke Pesawaran, yaitu motif kapal dan jung, yaitu alat transportasi laut yang diperkirakan membawa transmigran dari Jawa ke Lampung, khususnya Pesawaran pada masa lalu.

Baca Juga: Anugerah Media Humas 2022, Telkom Indonesia Raih 2 Penghargaan

Tiap motif memiliki makna atau filosofi. Misalnya, motif Bintang Pak mempunyai makna kita harus menjadi terang bagi orang yang ada di sekeliling kita.

Bila ingin dihormati dan dimuliakan  orang, maka hormatilah  dan muliakan orang lain lebih dahulu.

Dengan visi jauh ke depan Bupati Dendi memutuskan untuk mengembangkan sulam jelujur menjadi salah satu  kekhasan Pesawaran.

Ia mendorong melakukan pembinaan dan pengembangan hingga diversifikasi produk dari kerajinan sulam jelujur itu melalui Dekranasda Kabupaten Pesawaran.

Upaya mengembangkan sulam jelujur mendapat dukungan  dari Pemerintah Kabupaten Pesawaran,  Pemerintah Provinsi Lampung, dan Yayasan Cinta Tenun Indonesia (CTI) dengan memberikan pembinaan-pembinaan yang intensif.

Pemerintah Kabupaten Pesawaran menyediakan  Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) di Rumah Galeri sulam Jelujur yang dapat digunakan oleh para pengrajin di Desa Sungai Langka, Kecamatan Gedong Tataan, yang jadi sentra sulam jelujur.

Tidak hanya memproduksi sulam jelujur, Pemerintah Kabupaten juga membuka  pasarnya. Misalnya ikut pameran di tingkat nasional dan internasional.

Lalu bagaimana sulam jelujur di Pesawaran sendiri? “Saat ini saya mewajibkan hotel-hotel di Pesawaran untuk menggunakan sulam jelujur untuk  home decoration, table runner, bed runner, true sofa, pouch bag, kotak tisu, dll,” katanya.

Dan, puncaknya wastra sulam jelujur hadir di pekan mode bergengsi dunia, yakni Pekan Mode New York, pekan mode pertama yang diselenggarakan di dunia dan menjadi salah satu pekan mode dunia yang jadi acuan mode di samping Paris, London, dan Milan. ***

Editor: Pudja Rukmana

Sumber: Siaran Pers

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Fakta Super Air Jet, Maskapai Baru untuk Anak Muda

Kamis, 23 Maret 2023 | 17:29 WIB
X