• Selasa, 31 Januari 2023

Pekerja Migran, Indonesia Harap Korea Memperluas Sektor Pekerjaan 

- Minggu, 4 Desember 2022 | 16:54 WIB
Menaker) Ida Fauziyah (kanan) bersama  Menteri Ketenagakerjaan dan Perburuhan Republik Korea Lee Jung Sik (kiri).
Menaker) Ida Fauziyah (kanan) bersama Menteri Ketenagakerjaan dan Perburuhan Republik Korea Lee Jung Sik (kiri).
 
 
SUARAKARYA.ID: Menambah peluang pekerja migran, Indonesia berharap pemerintah Korea Selatan memperluas sektor pekerjaan. 
 
Karenanya, pembaharuan MoU penempatan Pekerja Migran Indonesia (PMI) melalui skema Employment Permit System (EPS) dengan mekanisme G-to-G, agar dapat diselesaikan secepatnya. Yakni tahun depan bersamaan dengan perluasan sektor pekerjaan bagi PMI di bawah EPS.
 
Peningkatan peluang untuk pekerja migran itu mengemuka, dalam pertemuan bilateral antara Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah dan Menteri Ketenagakerjaan dan Perburuhan Republik Korea Lee Jung Sik, di Seoul, Jumat (2/12/2022). 
 
 
Pertemuan itu juga, dalam rangka meningkatkan hubungan bilateral di bidang ketenagakerjaan dan perburuhan, mengingat tahun depan akan menandai 50 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Korea, serta memperingati kerja sama penempatan mekanisme G-to-G.
 
"Pihak Indonesia berharap pihak Republik Korea dapat melakukan pengembangan beberapa sektor pekerjaan pada skema EPS ini dengan menambahkan sektor konstruksi, pertanian, serta jasa," ungkap Menaker.
 
Dia mengemukakan, pengembangan sektor pekerjaan itu diperlukan mengingat saat ini Indonesia sedang mengalami bonus demografi. Yang ditandai dengan banyaknya jumlah penduduk usia produktif, dan diprediksikan mencapai puncaknya pada tahun 2030.
 
 
Menaker mengatakan, banyak pencari kerja Indonesia yang berkeinginan untuk bekerja di luar negeri. Selain karena keterbatasan kesempatan kerja di dalam negeri, alasan lain yang mendasari keinginan untuk bekerja di luar negeri adalah untuk mendapatkan pengalaman pekerjaan dan pengetahuan yang tidak mereka dapatkan di dalam negeri.
 
Menaker juga menyampaikan, pekerja terampil di Indonesia umumnya mengikuti pelatihan yang sesuai dengan sektor pekerjaan yang mereka minati.
 
"Tidak hanya itu, mereka juga mengikuti sertifikasi yang terstandar secara nasional di bawah BNSP. Untuk membuktikan bahwa mereka kompeten dan layak untuk mendapatkan suatu pekerjaan," jelasnya. 
 
 
Menaker menambahkan, peningkatan kerja sama antara kedua belah pihak juga perlu dilakukan. Terkait sistem informasi pasar kerja di Indonesia yang bertaraf internasional dalam memberikan layanan ketenagakerjaan, khususnya Job Matching. Layanan ini ditujukan untuk dapat digunakan secara masif oleh masyarakat luas di seluruh wilayah Indonesia.
 
Adapun tujuan dari pengembangan sistem informasi pasar kerja di Indonesia. Untuk memberikan layanan informasi pasar kerja yang optimal berupa lowongan kerja di dalam dan luar negeri kepada masyarakat.
 
Saat ini, jaringan sistem informasi pasar kerja sudah melibatkan 21 BPVP di seluruh Indonesia dan 5 kawasan industri, serta akan terus dikembangkan.
 
 
"Karenanya, pada kunjungan kerja ini, kami berharap untuk dapat menggali potensi kolaborasi dan kerja sama untuk pengelolaan Public Employment Services (PES) secara komprehensif. Yang meliputi pengelolaan tenaga konselor, managemen layanan (back office), dan pengelolaan kemitraan PES dengan para pemangku kepentingan," ungkap Menaker.***
 
 

Editor: Markon Piliang

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X