• Senin, 28 November 2022

WNA Iran Tersangka KDRT, Proses Penyidikan Tidak Adil Kedubes Kirim Surat ke Kapolri

- Jumat, 7 Oktober 2022 | 19:51 WIB
WNA Iran Nasser Balochi tersangka KDRT menuntut keadilan.
WNA Iran Nasser Balochi tersangka KDRT menuntut keadilan.



SUARAKARYA.ID: Seorang warga negara Iran Mr Nasser Balochi, merasa diperlalukan tidak adil, saat diproses hukum dan dijadikan tersangka kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), di Polres Indramayu, Jawa Barat.

Hak yang bersangkutan untuk didampingi kuasa hukum, serta tidak ada pemberitahuan dari pihak Polres Indramayu kepada Kedutaan Besar Iran mengenai ada warga negaranya yang berperkara, hingga persoalan bukti visum yang dinilai tidak transparan, membuat Mr Nasser Balochi merasa tidak mendapatkan hak-haknya secara benar.

Baca Juga: WNA Jepang yang Dideportasi Ternyata juga Fiktif Alamatnya di Jakarta Utara

Dalam keterangan kepada wartawan, kuasa hukum Nasser Balochi, Henri Kusuma SH MH dari Law Firm Mastermind & Associates, menerangkan kronologis peristiwa sebagai berikut.

Pertemuan pertama dengan klien pada tanggal 9 September 2022 di Jakarta. Klien menceritakan bahwa dirinya dilaporkan oleh istri sah-nya ke kepolisian Resort Indramayu atas dugaan KDRT dengan nomor LP/B/143/2022/SPKT/Polres Indramayu. Saat itu sudah diperiksa sebagai saksi, artinya sudah tahap Penyidikan.

"Saya bertanya, apakah selama proses penyelidikan dan penyidikan didampingi oleh penasihat hukum dan juru bahasa? Klien menyatakan tidak pernah. Dan saya menanyakan apakah diberikan penasihat hukum yang disediakan oleh penyidik?jawab klien tidak pernah, serta saya menanyakan apakah bapak bisa membaca tulisan berbahasa Indonesia?

Baca Juga: WNA Jepang Lakukan Pelanggaran Keimigrasian, di Deportasi ke Negara Asal

"Dijawab tidak bisa. Penyidik hanya mengatakan bahwa kasus ini masalah sepele," ujar Henri Kusuma, selaku kuasa hukum Nasser.

Pada tanggal 11 September 2022 (revisi pada surat tertulis 24/8/22) kami mengirimkan klarifikasi kepada Kepala Polres Indramayu mengenai penanganan perkara klien yang tidak didampingi penasihat hukum, dan juru bahasa.

Saat itu juga ia menemui penyidik Bripka Jamal selaku penyidik pada Laporan Polisi dimaksud yang mengatakan bahwa prosesnya sudah menjadi Tersangka.

Baca Juga: WNA Terlibat Penipuan Antar Negara Ditangkap Polisi RI

Kemudian pada tanggal 19 September 2022 datang panggilan pertama sebagai Tersangka untuk diperiksa tanggal 21 September 2022 , karena klien merasa sakit, pemeriksaan ditunda 1 minggu.

Pada tanggal 30 Oktober 2022 kami bersama klien mendatangi Polres Indramayu dan sebelum pemeriksaan, kami menanyakan kembali apa yang menjadi dasar penetapan tersangka dan meminta ditunjukan visum yang menjadi dasar kuat Pelaporan, namun Penyidik enggan menunjukkan bukti visum sehingga patut diduga proses penyelidikan dan penyidikan tidak transparan dengan banyak kejanggalan diantaranya.

Pertama, tidak didampingi penasihat hukum padahal ancaman pidana 5 tahun sebagaimana tertuang dalam pasal 54 KUHAP dan klien kami buta hukum perundangan Republik Indonesia serta tidak mengerti bahasa Indonesia, jika berbicara bisa, belum tentu membaca bisa sementara dalam pemeriksaan lebih banyak kaitannya dengan tekstual ini guna memastikan apa yang diucapkan sesuai dengan apa yang ditulis oleh penyidik.

Baca Juga: Laporkan Seorang WNA Belanda Atas Dugaan Pemalsuan Dokumen, Deolipa Yumara: Ada Persoalan Krusial!

Apa yang terjadi jika ucapan berbeda dengan yang ditulis di BAP?

Kedua, Visum yang tidak ditunjukkan kepada kami, berdasarkan penelusuran kami ke RS Al Irsyad Anjatan Indramayu, betul Pelapor mengajukan pemeriksaan visum sekitar tanggal 1 April 2022, namun hasil dari pemeriksaan tersebut hanyalah luka pada bagian betis sebelah kanan.

 Bisa saja luka bukan diakibatkan oleh klien sementara BAP penyidik menyatakan luka ada di kepala.

"Pada tanggal 30 Oktober 2022  kami dampingi untuk diperiksa sebagai tersangka, dan langsung ditahan.

Kami melaporkan kejadian yang menimpa klien kami kepada Kedutaan Iran dan kedutaan Iran dengan sigap mengirim surat kepada Kapolri yang intinya berisi:

 

Henri Kusuma, Kuasa Hukum Nasser


Kedutaan Besar Republik Islam Iran tidak pernah diberitahukan akan penahanan warga Iran tersebut dan memohon kepada  Kapolri mengevaluasi proses penyidikan terhadap Laporan Polisi dimaksud serta mempertimbangkan penahanan warganya, karena warga Iran tersebut masuk ke Indonesia degan itikad baik, menikah dengan WNI cara baik, membawa harta nya ke Indonesia dll.

Ia mengharapkan, dengan kejanggalan yang ada, ia berharap Kepolisian tidak memaksakan proses penyidikan, dan demi hukum membebaskan kliennya.

Henri menyatakan Berita Acara Pemeriksaan (BAP)  yang menjadi dasar penetapan Tersangka, di mana tidak didampingi penasihat hukum dan Juru Bahasa, menjadi Batal Demi Hukum karena tidak sesuai dengan pasal 54 dan 56 dimana Tersangka wajib didampingi Penasihat Hukum di setiap tahap  pemeriksaan.

Halaman:

Editor: Markon Piliang

Sumber: Siaran Pers

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pj Gubernur Heru: Soliditas Tiga Pilar Jaga Kamtibmas

Rabu, 23 November 2022 | 22:09 WIB

Dorong Kesejahteraan Pekerja, DKI Lanjutkan KPJ

Jumat, 18 November 2022 | 16:04 WIB
X