• Jumat, 7 Oktober 2022

Wawasan Nusantata Bahari Perlu Dibangkitkan, Guna Mempercepat Kebangkitan Indonesia

- Rabu, 21 September 2022 | 16:17 WIB
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X  (kiri).
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X (kiri).
 
 
 
SUARAKARYA.ID: Wawasan Nusantara Bahari perlu dibangkitkan kembali guna mempercepat kebangkitan Indonesia melalui gagasan Poros Maritim Dunia. 
 
Wawasan Nusantara Bahari telah menjadi isu politik yang sangat penting, terutama dalam ide pembentukan poros lajur laut (axis sea-lanes) bagi pelayaran internasional melalui perairan Indonesia.
 
Sejak tahun 1960-an, pemerintah tidak mungkin lagi mengabaikan Wawasan Nusantara Bahari. Sebagai wilayah maritim ketika cadangan minyak bumi banyak ditemukan di dasar laut. Tahun 1970-an merupakan dekade boom minyak bumi di mana sekitar 60 persen kegiatan eksplorasi dilakukan di perairan Nusantara.
 
 
Semua itu disampaikan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X dalam Orasi Ilmiah berjudul 'Mewujudkan Indonesia Sebagai Negara Berbasis Kemaritiman', yang disampaikan pada Simposium Internasional dan Lifetime Achievement – ISPEC Maritime Award 2022, di Hotel Mercure Kemayoran, Jakarta, Rabu (21/9/2022).
 
“Diplomasi maritim ini memiliki nilai strategis, karena manfaat wilayah maritim terhadap pembangunan ekonomi,” kata Sri Sultan.
 
Alasan lain mengapa diplomasi maritim sangat penting, lanjut Sri Sultan, adalah Nusan kepentingan geopolitik Indonesia dalam wawasan Nusantara. Ide pembentukan Indonesia sejak awal merupakan integrasi seluruh komunitas dan pulau-pulau, dalam wilayah bekas Hindia Belanda, dari Sabang sampai Merauke. 
 
 
"Sekarang ide itu harus dipertajam bukan hanya komunitas dan pulau-pulau, tetapi juga mencakup integrasi daratan dan maritimnya,” tegas Sri Sultan.
 
Dia mengingatkan, hakekat geopolitik dan geostrategis Indonesia sebagai negara kepulauan perlu benar-benar dipahami. Agar NKRI tidak mudah diintervensi dan diinfiltrasi oleh kekuasaan tertentu baik dari dalam maupun luar. 
 
Sejarah menunjukkan, upaya memupuk kesatuan dan mengembalikan kebesaran bangsa mengalami kesulitan. Justeru karena Indonesia kurang memahami hakekat geopolitik dan geostrategis kelautan.
 
Hal itu, tidak berlebihan, mengingat saat ini ada kecenderungan terjadinya pergeseran pusat perhatian dan kegiatan dunia. Dari kawasan Mediterania dan Atlantik beralih ke Indo-Pasifik. 
 
 
Pergeseran itu pada hakekatnya menempatkan Kepulauan Indonesia kembali menjadi persilangan strategis, sebagaimana zaman kejayaan Bahari Nusantara
 
“Jadi sangat relevan jika Indonesia menaruh perhatian pada isu-isu terkini yang terkait dengan Samudera Hindia karena posisi Indonesia yang memangku Samudera Hindia,” kata Sri Sultan.
 
Dikemukakannya, semangat dan ketrampilan bahari perlu terus digali dan dikembangkan kembali di kalangan generasi muda, agar bangsa Indonesia menjadi tuan di negeri sendiri. 
 
 
Diilhami oleh semangat bahari, upaya membangun Indonesia Baru yang lebih maju, mandiri dan bermartabat, memerlukan strategi budaya yang menyiapkan generasi muda Indonesia yang sanggup mengambil tanggungjawab masa depan, berkeyakinan diri dan memiliki wawasan kebaharian yang mendalam, serta didukung oleh ketrampilan bahari yang memadai.
 
Hal itu, lanjut Sri Sultan, selaras dengan visi kelautan Indonesia sebagai Poros Maririm Dunia, yang dipaparkan Presiden Joko Widodo pada KTT Negara-negara Asia Timur pada 13 November 2014 silam. 
 
Untuk mewujudkan konsep Poros Maritim Dunia, diperlukan empat kekuatan yakni ocean leadership dan ocean policy, bangsa yang memiliki kesadaran budaya kelautan, kekuatan infrastruktur dan perhubungan yang menghubungkan antar pulau dengan mudah dan murah, serta kekuatan potensi sumber daya lautan yang membentang luas dan daratan yang subur.
 
 
“Dengan adanya pilar dan konsep Poros Maritim Dunia, maka prioritas pembangunan maritim memang harus diwujudkan sebagai garda peradaban Indonesia masa depan. Yang menjamin kehidupan ekonomi, sosial dan politik, serta marwah Indonesia di percaturan politik global,” tutur Sri Sultan.
 
Dan jika hendak menggeser orientasi pembangunan menuju skala dunia, jelasnya, maka tidak lain pemerintah harus mulai memperkuat basis pendidikan bidang kelautan. Karenanya, pendidikan setidaknya harus berorientasi pada tatanan Benua Maritim Indonesia. 
 
“Selain itu, perlu bagi kita untuk memperkuat fungsi pengawasan. Dengan berbagai potensi yang melingkupinya, kemairitiman akan menjadi salah satu solusi kunci, dalam berbagai permasalahan global di masa depan,” ungkap Sri Sultan.***
 

Editor: Markon Piliang

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Diresmikan Relokasi Tugu 66 di Taman Menteng

Kamis, 6 Oktober 2022 | 10:06 WIB

Tragedi Kanjuruhan, Kapolda Jawa Timur Minta Maaf

Selasa, 4 Oktober 2022 | 18:31 WIB
X