• Senin, 26 September 2022

Keanekaragaman Hayati Perkuat Ketahanan Pangan Nasional

- Jumat, 19 Agustus 2022 | 21:16 WIB
Diskusi virtual yang digelar FMB9 yang membahas ketahanan pangan Indonesia, Jumat (19/8/2022).
Diskusi virtual yang digelar FMB9 yang membahas ketahanan pangan Indonesia, Jumat (19/8/2022).



SUARAKARYA.ID:  Pemerintah harus memanfaatkan keanakeragaman hayati di Indonesia untuk membuat ketahanan pangan nasional agar tidak  goyah.

Sebab, ketahanan pangan tidak hanya berasal dari beras, tetapi bisa dari berbagai jenis pangan lokal yang ada.

 Diversifikasi pangan akan membuat ketahanan pangan kita lebih adaptif ke depannya, sehingga lebih tahan menghadapi krisis.

Baca Juga: Produk UMKM Papua Berkualitas, Siap Memasuki Era Teknologi Digital

“Banyak keanekaragaman hayati di Indonesia, kita bisa ambil keuntungan dari iklim tropis, lalu struktur kepulauan juga. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah harus melihat kondisi itu,” ujar Ketua Umum Pakar DPP Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Agus Pakpahan dalam diskusi virtual bertajuk “Tantangan Ketahanan Pangan” yang digelar Forum Merdeka Barat (FMB9) di Jakarta, Jumat (19/8/2022).

Agus mengatakan bahwa negara Indonesia disatukan oleh ideologi Pancasila, biar berbeda beda tetapi tetap satu, demikianpun dalam hal pengembangan pangan di tanah air, harus disesuaikan dengan kondisi di setiap daerah.

Baca Juga: Ancaman Krisis Pangan Dunia, IKM Mamin Berperan Penting Perkuat Ketahanan Pangan Nasional

Sagu misalnya bisa dikembangkan di Papua, karena itu tidak perlu ada  menambahkan bahwa kita perlu belajar dari yang telah dilakukan Jepang.

Negara tersebut menggunakan pendekatan fungsionalitas dalam membangun ketahanan pangannya, bukan pendekatan komoditas, sementara kita masih menggunakan pendekatan komoditas.

Pendekatan fungsionalitas itu bukan fokus pada beras, jagung dan lain lain,
tetapi kita masuk misalnya ke protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral.

Baca Juga: Diskusi FMB 9, Kendala Dan Peluang Menyejahterakan Jawa Barat


"Dengan arti kita gunakan cara pandang keanekaragaman hayati sebagai sumber
daya utama. Supaya Indonesia bisa lebih fleksibel, bisa lebih adaptif dengan masa depan karena sesuai dengan iklim tropika, dengan keanekaragaman
hayatnya.

 "Misalnya sukun, talas, sagu kita bisa jadikan tepung yang sama sama
ada juga karbohidratnya,” tururnya.

Ia mengatakan, kita boleh saja swasembada beras saat ini tetapi faktanya kita masih banyak impor buah buahan, begitu juga sayur sayuran, kita masih impor protein, mineral.

Baca Juga: Kemkominfo Dukung Sosialisasi Pencegahan Covid-19 Dan Vaksinasi 10.000 Dosis Di Simalungun


Dari Global Hunger Indeks kita masih tertinggal 50 tahun dari negara maju,
karenanya ia pun mendorong agar Indonesia fokus pada peningkatan kapasitas pertanian untuk jangka panjang, inovasi teknologi pertanian itu harus terus dilakukan, seperti yang dilakukan Jepang.

Kenapa itu dilakukan karena lahan itu konstan, maka harus inovatif agar nilai
tambahnya meningkat.

“Pertanian harus terintegrasi dengan industrialisasi, sehingga bisa meningkatkan nilai tambah per unit sumber daya alamnya,” ujarnya lagi.***

 

Halaman:

Editor: Dwi Putro Agus Asianto

Sumber: Liputan lapangan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Penerima BSU, Menaker Tinjau Langsung di Tiga Wilayah

Jumat, 23 September 2022 | 19:51 WIB

Petani Organik adalah Pahlawan Kemanusiaan

Selasa, 20 September 2022 | 15:57 WIB
X