• Selasa, 27 September 2022

Dua Tersangka Kasus KSP Indosurya Terpaksa Dikeluarkan Dari Dalam Tahanan

- Sabtu, 25 Juni 2022 | 17:04 WIB

Ketiganya dipersalahkan melanggar  Pasal 46 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang tentang Perbankan dan atau Pasal 372 KUHP dan atau Pasal 378 KUHP dan Pasal 3 dan atau Pasal 4, serta Pasal 5 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

KSP Indosurya diduga menghimpun dana secara ilegal dengan menggunakan badan hukum Koperasi Simpan Pinjam Indosurya Inti/Cipta yang dilakukan sejak November 2012 sampai dengan Februari 2020. Perhimpunan dana ini memiliki bentuk simpanan berjangka dengan memberikan bunga 8-11 persen. Kegiatan tersebut dilakukan di seluruh wilayah Indonesia tanpa dilandasi izin usaha dari OJK.

Indosurya akhirnya mengalami gagal bayar. Henry Surya yang menjabat sebagai Ketua Koperasi Simpan Pinjam Indosurya Inti/Cipta lantas memerintahkan June Indria dan Suwito Ayub untuk menghimpun dana masyarakat menggunakan badan hukum Koperasi Simpan Pinjam Indosurya Inti/Cipta.

Perkara KSP Indosurya Mirip Kasus BOII

Kasus semacam KSP Indosurya ini, tepatnya kasus perbankan di Bank of India Indonesia (BOII) juga menggantung di Kejaksaan Agung. Jaksa peneliti Kejaksaan Agung tidak kunjung mengembalikan berkas ke penyidik Mabes Polri. Hanya - walau sudah cukup lama - tidak ada dari sekitar 20 tersangka yang harus dikeluarkan dari dalam tahanan. Hal ini tentu saja tidak akan terjadi karena penyidik Mabes Polri tidak menahan para tersangka kasus perbankan tersebut.

Kendati demikian, tetap saja saksi korban dalam kasus ini (Rita KK) merasa diabaikan rasa keadilannya. Pasalnya, salah seorang dari 21 tersangka dalam kasus perbankan tersebut, Ningsih Suciati, telah dijatuhi hukuman oleh Mahkamah Agung (MA). Artinya, perkara perbankan tersebut sudah mempunyai kekuatan hukum tetap atau inkracht. Namun demikian, beberapa tersangka diduga telah memilih bermukim sementara di luar negeri seperti di Singapura. Hal itu tentu saja semakin menyulitkan proses hukum kasus pembankan tersebut selanjutnya.

Sebagaimana terungkap dalam persidangan kasus tersebut dan begitu pula dalam amar putusan disebutkan bahwa tindak kejahatan tersebut dilakukan secara bersama-sama atau kolektif kolegial. Artinya, Ningsih Suciati selaku pimpinan bertindak secara bersama-sama dengan pimpinan-pimpinan lainnya di bank BOII. Karena itu pula, Ningsih Suciati, di dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat berulangkali berteriak dan protes mengapa hanya dirinya yang didudukan di kursi pesakitan padahal dilakukan beramai-ramai.***

Halaman:

Editor: Gungde Ariwangsa

Tags

Terkini

Suharso Monoarfa Mendapat Tugas Baru dari Presiden

Selasa, 27 September 2022 | 11:25 WIB

Sebulan Penuh Ada Pesta Diskon di Solo Great Sale Lho!

Minggu, 25 September 2022 | 19:05 WIB
X