• Selasa, 28 Juni 2022

Ajak Update G20, Maudy Ayunda: Hadapi Dunia Kerja Harus Punya Nilai Diri Dengan Layak

- Kamis, 23 Juni 2022 | 18:21 WIB
Menghadapi event G20 di Indonesia juru bicara Maudy Ayunda mengajak anak-anak muda untuk update informasi tentang pendidikan siap kerja.
Menghadapi event G20 di Indonesia juru bicara Maudy Ayunda mengajak anak-anak muda untuk update informasi tentang pendidikan siap kerja.




SUARAKARYA.ID:  Tim Juru Bicara G20 Maudy Ayunda mengatakan dalam dunia kerja di masa depan membutuhkan orang yang memiliki unique selling point.

"Kita sebagai manusia juga harus bisa berpikir bahwa kita juga memerlukan unique selling point semacam  personal value proposition juga. Karena dunia
kerja kedepannya bukan lagi yang penting keterampilan, uniformity gitu. Karena adanya keterampilan, akan berubah terus gitu," kata Maudy dalam dalam diskusi daring yang digelar Forum Merdeka Barat 9 bertema “Pendidikan Berkualitas Hadapi Dunia Kerja Pasca Pandemi”, Kamis, (23/6/2022).

Menurutnya, dunia kerja di masa depan menuntut pribadi-pribadi yang memiliki
semangat dan kemauan yang besar untuk terus melakukan self customize, self exploration dalam menunjang pendidikan diri sendiri.

"Pada saat itu yang dibutuhkan, perlu sekali self customize, self exploration
dalam pendidikan diri sendiri," tuturnya.
Untuk mencapai hal ini, jelas Maudy, dasarnya adalah semangat dan kemauan yang besar untuk terus belajar. Ini penting untuk dimiliki setiap anak-anak Indonesia.

"Karena memang foundation-nya itu ingin terus belajar, itu precisely satu hal
yang saya percaya, itu dibutuhkan di setiap anak muda dan juga anak-anak
<span;>Indonesia bahwa kemerdekaan dan kemandirian itu sangat penting nantinya," ujarnya.

Perubahan Sistem Pendidikan
bicara mengenai pendidikan secara general, Maudy menegaskan, dirinya
tertarik soal assessment (penilaian) sebagai driving force dalam menciptakan perubahan dalam sistem pendidikan kita.

"Maksudnya adalah sering sekali kita membahas kurikulum dan guru, walaupun kurikulum juga ada assessment di dalamnya, tapi assessment sebenarnya bisa
menjadi big source of change pada saat assessment itu defining apa yang harus
dipelajari," ucapnya.

Assessment yang dimaksud, Maudy mencontohkan, adalah ketika sang guru
memberikan pertanyaan yang mengarah pada penggalian opini pada peserta
didik.

Dalam hal ini, Maudy menjelaskan, anak-anak terpacu untuk bisa berpikirmandiri dan kritis karena diimingi nilai. Selain itu, para guru juga termotivasi untuk mengajarkan anak-anak dengan menanyakan pendapat mereka akan suatu hal.

Yang terjadi dalam sistem
pendidikan Indonesia, terang Maudy, para guru lebih banyak dibebankan
dengan penilaian administratif.

"Ini pengalaman saya di beberapa sekolah, merasa sekali ketika bentuk ujiannya berubah, itu sebenarnya mindset stakeholder-nya juga ikut berubah-ubah," katanya lagi.

Kompleksnya Pendidikan Indonesia
Pada kesempatan itu, Maudy mengatakan masalah pendidikan merupakan isu yang sangat kompleks.

Hal ini dikatakan Maudy ketika ditanya penyebab adanya kesenjangan dan rendahnya tingkat pendidikan di beberapa wilayah di Indonesia.

Menurutnya, performa seorang anak dalam pendidikan tergantung pada banyak hal seperti para orang tua, guru dan motivasi diri.

Selain itu, juga tergantung
pada sumber daya penunjang lainnya seperti sekolah, akses terhadap teknologi dan informasi dan lain sebagainya.

"Saya rasa kalau kita berbicara tentang pendidikan, itu adalah isu yang sangat
kompleks. Whether or not seorang anak itu perform, itu dependent on tadi
stakeholder guru, orang tua, motivasi diri sendiri, tapi juga resources, sekolah, teknologi, akses terhadap informasi dan sebagainya," ucap Maudy.

Maka dari itu, Maudy menegaskan, rendahnya mutu pendidikan seseorang tidak bisa dilihat dari satu faktor saja.

Namun belajar dari kondisi selama pandemi Covid-19, Maudy menjelaskan, hal yang diperlukan adalah komitmen.

"Saya rasa di manapun kita berada, kalau ada motivasi intrinsik yang sangat
besar dari anak tersebut untuk belajar, ada caranya gitu dengan self learning,
mencari sendiri, lewat internet, berbicara dengan orang lain," tuturnya.

Sehingga, harap Maudy, menjadi pekerjaan rumah bersama saat ini adalah bagaimana membangun budaya mau belajar. Ia menambahkan, kemauan bukan hanya pada anaknya saja, namun juga pada stakeholder di sekitarnya yang ingin melayani anak tersebut.

Pada kesempatan itu, Maudy juga mengajak anak-anak muda Indonesia untuk update mengikuti pembahasan G20, utamanya di sesi education working group. Sebab pada sesi ini, katanya, banyak isu-isu penting yang dibahas.

"Saya ingin mengingatkan lagi teman-teman di sana dan juga anak-anak muda
dengan presidensi G20. Karena banyak sekali isu-isu penting kedepannya yang
dibahas dan sudah dibahas. Jadi ikuti terus activities-nya ke depan," ajak Maudy. ***

Editor: Dwi Putro Agus Asianto

Terkini

287 PMI Ke Jepang Melalui Program G to G 

Kamis, 23 Juni 2022 | 18:20 WIB
X