• Senin, 26 September 2022

Kenaikan Pajak 20 Persen Berdampak Pada Biaya Haji 2022 Naik Signifikan

- Selasa, 31 Mei 2022 | 21:42 WIB
Acara  penjelasan secara daring terkait  pelaksanaan  hibadah haji yang digelar FMB 9,  menghadirkan para pejabat Kemenag  dan stakehorder, Selasa (31/5/2022)t
Acara penjelasan secara daring terkait pelaksanaan hibadah haji yang digelar FMB 9, menghadirkan para pejabat Kemenag dan stakehorder, Selasa (31/5/2022)t



SUARAKARYA.ID: Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) di tahun 2022 meningkat dari tahun sebelumnya sekitar Rp72 juta menjadi sebesar Rp81 juta.


Beruntungnya, kenaikan ini tidak dibebankan kepada para jemaah calon haji. Mereka hanya membayar biaya perjalanan ibadah haji kurang lebih Rp39 juta.

Ketua Umum Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri), Firman M Nur menyebutkan kenaikan biaya umrah disebabkan oleh kenaikan pajak yang mencapai 20% di Arab Saudi.

Kenaikan pajak ini merupakan kalkulasi dari pajak domestik atau pajak dalam negeri.

 

"Selama dua tahun terjadi banyak perubahan di Arab Saudi. Kenaikan pajak yang sangat signifikan hingga pajak domestik. Jadi hampir 20 persen. Ini yang menyebabkan kenaikan biaya yang cukup signifikan," ujar Firman dalam diskusi daring yang digelar Forum Merdeka Barat 9 bertema "Dana Amanah, Haji Mabrur", Selasa (31/5/22).


Selain itu, Firman menuturkan, Arab Saudi juga mengalami inflasi yang cukup tinggi selama dua tahun terakhir.

Hal ini menyebabkan harga bahan kebutuhan pokok meningkat tajam.
Inflasi ini, terangnya, menyebabkan standar pelayanan di Ammah Minah meningkat drastis dan signifikan.

Untuk itu, Firman mengatakan, pemerintah Indonesia harus membayar selisih angka Rp1,5 triliun agar penyelenggaraan ibadah haji tahun ini tetap berjalan.

"Jadi ada selisih angka Rp1,5 triliun yang harus bisa dipenuhi oleh pemerintah Indonesia untuk bisa menyelenggarakan ibadah haji tahun ini. Itu baru biaya haji reguler, belum haji khusus," katanya.


Kabar baiknya, tegas Firman, adalah kenaikan biaya penyelenggaraan haji ini tidak dibebankan kepada para bagi calon jemaah haji. Kendati demikian, Firman menyampaikan bahwa ini menjadi keprihatinan bersama seluruh stakeholder.

"Ini memang jadi keprihatinan kita bersama. Kita berharap ini perlu diketahui oleh seluruh calon jemaah. Bahwa dari Rp81 juta, masyarakat hanya membayar sekitar 39 juta. Karena ada dana dari virtual akunnya, maka mereka tidak perlu membayar apa-apa," katanya.

Waspadai Musim Panas

Lebih lanjut, Firman mengimbau kepada para jamaah haji untuk mewaspadai cuaca panas ekstrem di Arab Saudi. Disebutkan, suhu dapat mencapai 40-an derajat celcius.

"Ketahuilah, pelaksanaan haji saat ini di masa puncak musim panas.
"Kondisi saat ini 40, 41, hingga 45 derajat," ujar Firman.


Firman menuturkan, pada pelaksanaan wukuf saat Hari Arafah di bulan Juli mendatang dapat lebih parah.

Di mana, suhu bisa menyentuh di angka 50 derajat celcius. "Tiga hingga 4 minggu ke depan atau puncaknya saat di Arafah bisa 45 sampai 50 derajat," ucapnya. Oleh karena itu, dirinya meminta jemaah untuk menjaga stamina dan keadaan fisik.

 Dengan demikian, para jemaah bisa dengan maksimal menunaikan rukun Islam ke-5 tersebut.

"Perlu diperhatikan para jemaah untuk menjaga fisik dan menjaga stamina, agar bisa melakukan semua tahapan haji dengan maksimal," katanya.

Setelah dua tahun membatasi jumlah jemaah yang melaksanakan ibadah haji, pada tahun ini, pemerintah Arab Saudi kembali membuka pintunya bagi jemaah calon haji dari seluruh dunia. ***

Editor: Gungde Ariwangsa

Sumber: Liputan lapangan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Penerima BSU, Menaker Tinjau Langsung di Tiga Wilayah

Jumat, 23 September 2022 | 19:51 WIB

Petani Organik adalah Pahlawan Kemanusiaan

Selasa, 20 September 2022 | 15:57 WIB

Kemnaker -  PMI Perkuat K3 di Tempat Kerja

Minggu, 18 September 2022 | 19:58 WIB
X