• Rabu, 29 Juni 2022

Kejari Mojokerto Periksa Saksi Untuk Tentukan Tersangka Korupsi Di PT BPRS

- Senin, 23 Mei 2022 | 19:19 WIB

SUARAKARYA.ID: Penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Mojokerto mengebut penyidikan kasus dugaan korupsi di PT Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS). Selain intensif melakukan pemeriksaan atas data-data atau dokumen, juga  melakukan pemanggilan terhadap saksi-saksi. Hari ini (Senin, 23/5/2022) dipanggil empat saksi untuk dimintai keterangan sekaligus guna membuat terang kasus dugaan korupsi di PT BPRS.

Kepala Kejari (Kajari) Kota Mojokerto, Hadiman SH MH mengatakan, Senin (23/5/2022), pihaknya kembali mendalami kasus dugaan korupsi BPRS yang diperkirakan mencapai Rp 50 miliar itu dengan memintai keterangan dari beberapa saksi untuk menetapkan siapa-siapa saja tersangkanya. “Ini sekarang sudah mulai pemanggilan. Kami akan melakukan pemeriksaan saksi-saksi guna menemukan para tersangka kasus yang merugikan keuangan negara miliaran rupiah ini,’’ kata Hadiman, Senin (23/5/2022).

Dia menyebutkan ada empat saksi dijadwalkan hadir untuk dimintai keterangan. "Mereka dibutuhkan untuk pemeriksaan lanjutan setelah sebelumnya stop sementara akibat hari libur bersama dan hari raya Lebaran 1443 Hijriah. Empat saksi ini semuanya dari BPRS," ujarnya.

Menurut Hadiman, setiap orang atau siapapun yang ada kaitan dengan kasus itu akan dipanggil untuk diperiksa. "Kami berusaha pastikan akan tuntas dalam waktu dekat kasus ini, dan kami tidak akan tebang pilih, siapa saja pelakunya harus dimintai pertanggung jawaban hukum,”’ ujarnya.

Pengusutan dugaan korupsi di bank milik daerah ini terus menunjukkan perkembangan. Ada dugaan kasus ini terkait tiga pembiayaan dengan nilai kerugian senilai masing-masing sekitar Rp 6,2 miliar dan Rp 8,9 miliar dan pembiayaan satunya lagi.

Mantan jaksa dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI ini menyebutkan bahwa modus dugaan korupsi di BPRS bersama-sama melakukan window dressing atau pemolesan laporan keuangan agar seolah-olah terlihat menampilkan kinerja yang baik. Untuk sementara ini penyidik fokus mendalami modus pembiayaan akad pesan bangun dengan nilai kerugian sekitar Rp 5,8 miliar sesuai hasil audit internal PT BPRS Kota Mojokerto.

“Tidak lama lagi diharapkan sudah memasuki tahapan penetapan tersangka. Kalau sudah penyidikan umum, boleh dibilang tinggal mencari tersangka yang berhubungan langsung dengan tindak pidana korupsi itu. Unsur pidana kan sudah kami temukan, sekarang tinggal mencari atau tepatnya menentukan siapa tersangkanya,’’ kata Hadiman, yang juga mantan aktor film layar lebar dan sinetron.

Dia mengakui bahwa penyidik sesungguhnya sudah menemukan sejumlah alat bukti,  diantaranya keterangan saksi, surat atau dokumen akad dalam pengajuan pinjaman di BPRS Kota Mojokerto. Salah satunya dokumen perpanjangan pembiayaan itu.

Untuk lebih memastikan dan meyakinkan adanya perbuatan korupsi yang merugikan keuangan negara dan rakyat itu, penyidik Kejari Mojokerto juga akan mendengarkan keterangan ahli hukum pidana korupsi sekaligus perbankan. "Kami juga akan mendengarkan keterangan ahli yang saat ini sudah dipilih penyidik dan tinggal menjalani pemeriksaan. Ahli tersebut tentu saja untuk mendukung dua alat bukti dari lima alat bukti sesuai diisyaratkan KUHAP yang sudah kami temukan,’’ tuturnya.***

Halaman:

Editor: Gungde Ariwangsa

Tags

Artikel Terkait

Terkini

PLN Berikan Dompet Sampah Gerobak Motor Listrik

Selasa, 28 Juni 2022 | 18:57 WIB

Kawasan Timur Indonesia Masuk Kawasan Hijau PMK

Senin, 27 Juni 2022 | 22:50 WIB
X