• Minggu, 26 Juni 2022

Kebhinekaan Indonesia, Tradisi Lebaran Di Papua Bukti Kokohnya Toleransi Beragama Dan Kedamaian

- Kamis, 12 Mei 2022 | 10:07 WIB
Tradisi lebaran di Papua bukti kebhinekaan Indonesia.
Tradisi lebaran di Papua bukti kebhinekaan Indonesia.



SUARAKARYA.ID: Papua adalah barometer kebhinekaan di Indonesia. Papua terkenal sebagai wilayah dengan umat non muslim cukup banyak, namun toleransi antar umat beragama sangat kental sampai sekarang ini.

Bahkan pada acara pawai lebaran pun juga diikuti oleh umat Kristiani untuk menabuh rebana keliling kampung.

 Lebaran di Papua disambut penuh suka cita oleh semua kalangan masyarakat tanpa terkecuali. Meskipun Islam bukan agama mayoritas namun tetap dirayakan dengan meriah oleh seluruh orang yang ada di Papua.

Menurut Koordinator Mahasiswa Papua di Jabodetabek, Moytuer Boymasa, Papua secara umum mementingkan persaudaraan antar umat beragama, suku, dan unsur-unsur lain yang ada di  tanah Papua. Setiap suku bahkan secara geneologis memiliki hubungan kekerabatan sehingga bangunan hubungan kerja sama terus terjaga erat.

 “Antara umat Kristen dan Islam hidup saling berdampingan sejak awal kedua agama masuk di Papua, senantiasa sejalan dengan budaya yang ada di masyarakat, saling melengkapi, saling menguatkan sehingga lahirlah tatanan masyarakat yang harmonis,” ujar Koordinator Mahasiswa Papua di Jakarta.

Wujud toleransi umat beragama di Papua misalnya pada saat pembangunan tempat ibadah, saling membantu dalam membangun masjid dan gereja. Papua memiliki budaya toleransi yang kuat, salah satunya tradisi Bakar Batu dari Suku Dani. Juga menjadi media untuk mendamaikan kedua belah pihak yang bertikai.

Oleh karena itu, Kabid Pemuda dan Pendidikan FKPT/BNPT Papua Ali Kabiay menyatakan Papua adalah barometer kebhinekaan di Indonesia.

“Kami selalu menjaga saudara-saudara kami yang muslim untuk beribadah, buka puasa, bahkan ikut takbiran. Di Papua terjadi perkawinan kebudayaan yang sangat indah dan harus dipertahanakan karena bisa menjadi barometer di daerah lain. Karenanya, Saya dari Papua berharap Pancasila bukan hanya sebagai ideologi tetapi juga digunakan sebagai falsafah hidup karena di dalam Pancasila sudah ada semua yang kita butuhkan untuk menjadi manusia Indonesia yang bermartabat dan memiliki moral.” katanya.

Salah satu penggerak Pemuda Mandala Trikora Papua ini.  Ia juga mengingatkan generasi muda di Papua dan Indonesia, “Mari kita bangga sebagai bangsa Indonesia karena ideologi Pancasila membuktikan bahwa kita bisa hidup saling berdampingan. Pelangi indah karena ada warna-warninya. Indonesia pun seperti itu seperti pelangi.

Sedangkan budayawan dan akademisi UI, Dr Ngatawie al Zastrouw menyatakan bahwa Bangsa Indonesia harus banyak belajar dari Papua.

Papua itu bagaikan gadis cantik yang masih lugu. Semua orang ingin menguasai dan menikmati, sehingga perlu untuk diberi pemahaman.

Menurutnya, toleransi pada Idul Fitri di Papua, tergambar pada Pawai Hadrat, suatu upacara merayakan Idul Fitri masyarakat Kaimana. Pawai ini dimeriahkan dengan tetabuhan kendang, tifa, rebana untuk mengiring shalawat.

 Warga yang mengikuti pawai akan menari bersama sambil berkeliling silaturahmi.

Selain di Kaimana, tradisi pawai hadrat juga dilaksanakan di Jayapura. Meski tradisi ini untuk merayakan hari besar Islam, namun banyak melibakan umat non muslim di dalamnya, sehingga menjadi momentum membangun toleransi dan moderasi.

“Masyarakat Papua tidak hanya memiliki kekayaan alam yang melimpah tetapi juga kekayaan budaya dan tradisi yang jika dikembangkan bisa dijadikan modal membangun kesejahteraan warganya.” tuturnya pada Webinar Eid Traditions In Papua and Religious Tolerance, Rabu (11/5/2022)

Dia juga mengajak agar kita berguru, belajar dari warisan tradisi, warisan nilai-nilai yang sudah diwariskan oleh para leluhur.

Sudah begitu banyak intan permata berlian yang diwariskan para leluhur tetapi lupa dan tidak tau karena kita tidak pernah mengasah dan menggalinya.

Mari kita gali, kita asah, supaya intan permata berlian kebudayaan yang diwariskan oleh para leluhur itu bisa menjadi pedoman dan sesuatu yang mahal dan bermanfaat dalam kehidupan kita. Berhentilah berebut sebutir pisang sambil menyia-nyiakan butiran permata yang diwariskan kepada kita. ***

Editor: Markon Piliang

Sumber: liputan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

287 PMI Ke Jepang Melalui Program G to G 

Kamis, 23 Juni 2022 | 18:20 WIB
X