• Minggu, 2 Oktober 2022

Cerita Ganjar Pranowo Soal Jeruk Keprok Dan Rumah Tinggal Masa Kecil Di Temanggung

- Selasa, 3 Mei 2022 | 17:03 WIB
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo saat meninjau pemudik di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang.
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo saat meninjau pemudik di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang.

SUARAKARYA.ID: Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengaku memiliki kenangan tak terlupakan tentang jeruk keprok Tawangmangu. Bahkan cerita Ganjar dan jeruk keprok Tawangmangu sempat menjadi atensi Presiden Kelima Megawati Soekarnoputri.

Ganjar bercerita saat masih kecil dan tinggal di Tawangmangu. Dia bercerita bahwa dulu di belakang rumahnya ada kebun dengan berbagai tanaman. Mulai singkong, sayuran, buah-buahan seperti apel, alpukat, dan jeruk.

“Dulu juga ada tanaman apel, jeruk. Jeruk yang sangat terkenal dari Tawangmangu itu jeruk keprok. Ini dulu pernah kena virus dan hari ini sedang coba dihidupkan lagi. Kayaknya berhasil,” ujar Ganjar.

Ganjar masih duduk di bangku sekolah dasar saat virus menyerang tanaman jeruk keprok di Tawangmangu. Waktu itu sampai ada tim khusus dari Jepang untuk menangani virus tersebut hingga akhirnya sekarang masih terus tumbuh di sana.

“Saya ingat, dulu waktu jeruk kena virus itu datang tim dari Jepang. Saya masih ingat betul, itu waktu SD. Baru tahu ternyata pohon jeruk itu diinfus. Termasuk jeruk yang di rumah itu dulu ditempeli infus. Apakah itu eksperimen atau memang tenaga yang disiapkan untuk merawat dan menghidupkan kembali pohon yang diserang virus itu,” kenang Ganjar.

Kemudian saat Ganjar dewasa, ia sempat ditanya oleh Megawati Soekarnoputri tentang kampung halamannya dan komoditas jeruk keprok yang sempat jatuh.

“Pada suatu saat saya ditanya sama Bu Mega, ‘Di Tawangmangu itu tempat lahirmu ya, dulu ada jeruk keprok.’ Iya, Bu. Sekarang mulai tumbuh lagi, mulai hidup lagi. Saya dulu pernah kirim beberapa untuk beliau lihat,” kata Ganjar.

Cerita tentang jeruk keprok itu hanya sebagian kecil dari kenangan Ganjar Pranowo terkait kampung halamannya di Tawangmangu. Cerita lain yang ia tuturkan saat bernostalgia itu tentunya tentang rumah masa kecilnya, yakni sebuah kontrakan ukuran kecil dan sederhana yang ditinggali oleh delapan orang.

“Dulu, rumah kontrakan itu dihuni kurang lebih delapan orang. Saya sama kakak-kakak, bapak-ibu, lalu sepupu. Dulu rumahnya tidak sebesar ini. Dulu rumah induk hanya di sini, belum sampai sana. Rumahnya penuh. Dapurnya dulu belum pakai kompor, masih pakai kayu. Di sini dulu dinginnya minta ampun,” katanya.

Halaman:

Editor: Pudja Rukmana

Tags

Artikel Terkait

Terkini

UU PPRT, Landasan Perlindungan Pekerja Rumah Tangga

Sabtu, 1 Oktober 2022 | 00:58 WIB

Ini Cara Mempersiapkan Rencana Keuangan Untuk Masa Senja

Jumat, 30 September 2022 | 18:17 WIB
X