• Selasa, 25 Januari 2022

Manajemen Risiko

- Senin, 10 Januari 2022 | 00:01 WIB

 

Oleh: Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi 

Catatan akhir tahun 2021 terkait ancaman bencana menarik dikaji. Bencana meletusnya Gunung Semeru kemarin menambah daftar panjang bencana yang terjadi tiap menjelang akhir tahun. Jadi, antisipasi risiko dampak bencana di akhir tahun harus dilakukan secara cermat, setidaknya untuk mereduksi kerugian baik jiwa atau non-jiwa.

Bagaimanapun juga bencana pasti memicu kerugian cukup besar sementara alokasi anggaran cenderung terbatas sedangkan mengandalkan solidaritas sosial disaat pandemi cenderung terbatas. Data BNPB selama 1 Januari – 31 Oktober tercatat 2.208 kejadian dan terbanyak adalah banjir 894 kejadian (40,48%). Selain itu, ada juga puting beliung (589 kejadian), tanah longsor (406 kejadian), karhutla (258 kasus), gempa (26 kasus), gelombang pasang dan abrasi (22 kasus), dan kekeringan (13 kejadian).

Sebaran geografis mayoritas di Jawa Barat (539 kejadian), Jawa Timur (227 kasus) dan di Jawa Tengah (210 kejadian). Pada kasus itu, korban meninggal 549 jiwa dan 74 dinyatakan hilang sementara 134.621 rumah dan sekitar 3.597 fasum rusak. 

Semua bencana memicu kerugian - kerusakan yang tidak kecil dan karenanya warning BMKG tentang ancaman cuaca ekstrem di awal tahun 2022 harus diwaspadai, termasuk juga fakta adanya La Nina. Jika dicermati sejatinya sejumlah aspek terdampak misal jalan tol, jalur KA, pasar tradisional, mal – pusat perbelanjaan, perkantoran, distribusi barang-jasa dan pastinya industri asuransi karena klaim meningkat. Terkait ini, bencana beruntun di republik ini berdampak sistemik terhadap geliat ekonomi bisnis, termasuk apa yang terjadi dengan meletusnya Gunung Semeru kemarin. Terkait hal ini, prediksi BMKG menegaskan masih adanya ancaman sejumlah bencana sampai di awal 2022. Nilai kerugian bencana kemarin dipastikan mencapai ratusan juta sampai miliaran rupiah

Data menunjukan bencana sampai akhir November 2021 dan juga bencana meletusnya Semeru kemarin memicu kerugian besar dan akumulasinya tergantung dengan intensitas lama bencana itu sendiri. Jadi, perlu upaya preventif untuk mereduksi dan meminimalisasi kerugian baik jiwa dan material yang terjadi. Setidaknya ini mengacu bencana di Jakarta banjir beberapa waktu lalu dengan korban 372 KK (1.361 orang mengungsi), sementara pertimbangan aspek kesediaan makanan, minuman, dan juga pakaian untuk pengungsi harus menjadi prioritas. Realitas ini menegaskan tidak mudah menyikapi bencana yang terjadi beruntun dan karenanya sikap proaktif untuk bangkit membangun kembali daerah dan perekonomian pasca bencana menjadi sangat penting. Cepat tanggap terhadap ancaman bencana menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah pusat dan daerah.

Belajar bijak dari bencana beruntun maka sangat disesalkan jika informasi sejumlah alat peringatan dini bencana, termasuk banjir tidak bisa berfungsi. Identifikasi ini tentu harus secepatnya ditindaklanjuti dan ini menjadi pertanyaan. Padahal, alat pendeteksi ancaman bencana menjadi sangat penting jika dikaitkan dengan ancamannya terhadap sejumlah daerah. Yang juga perlu diperhatikan bahwa Indonesia termasuk salah satu daerah yang rawan bencana dan  tentu ini juga relevan dengan ancaman terjadinya bencana sehingga ketersediaan sejumlah pendeteksi bencana ini menjadi kebutuhan mendesak. Setidaknya mencegah tentunya lebih baik daripada merekonstruksi sejumlah kerusakan yang terjadi pasca bencana yang tentunya butuh pendanaan cukup besar. 

Belajar bijak kasus bencana maka pemerintah, baik pusat dan daerah perlu melakukan identifikasi dan pemetaan ulang terhadap berbagai kemungkinan ancaman yang terjadi. Hal ini tentu tidak hanya menjadi tanggung jawab BNPB tetapi juga kita semua karena sejatinya kita tidak hanya menjadi objek dari bencana tetapi harus bisa menjadi subjek sehingga bisa mereduksi, meminimalisir serta menghindari berbagai ancaman bencana. Artinya, perlu kesadaran kolektif terhadap realitas ancaman bencana di republik ini dan juga keterlibatan aktif publik sebagai bagian - komponen penting dalam penanganannya. ***

Halaman:

Editor: Gungde Ariwangsa SH

Terkini

7.840 Orang Di Jakarta Positif Covid-19 Dirawat Di RS

Sabtu, 22 Januari 2022 | 21:10 WIB

Pihak RS UKI Hati-Hati Tanggapi Demo PKL

Rabu, 19 Januari 2022 | 10:43 WIB
X