• Selasa, 9 Agustus 2022

Stop Raih Prestasi Olahraga By Accident

- Sabtu, 3 Juli 2021 | 10:24 WIB


 

Oleh: M. Nigara
 

KALIMAT singkat itu seharusnya sudah bisa dicerna oleh para praktisi olahraga nasional. Apalagi, Grand Design Olahraga Nasional atau Desain Besar olahraga Nasional (DBON) yang digagas Menpora Zainudin Amali, sudah rampung dan tinggal menunggu Perpresnya saja. Artinya, tidak pada masanya lagi jika cabang-cabang olahraga ingin meraih prestasi dengan jalan instan. 

Sejak lama dunia olahraga nasional kita selalu menerapkan pola bongkar-pasang untuk menghadapi berbagai -event_. Tim nasional nyaris tidak melewati fase berjenjang. Para atlet yang mengisi tim nas tidak pula melewati jenjang pembinaan seutuhnya. Rata-rata mereka tampil dalam posisi ditemukan atau bahasa gaulnya ujug-ujug.
Untuk mengisi kekurangan tim nasional, pola naturalisasi menjadi pilihan. Mereka beranggapan dengan langkah itu, prestasi besar bisa mereka raih. Sepintas langkah itu seperti jalan terbaik, padahal faktanya tidak sama sekali. 

Mengapa tiba-tiba masalah naturalisasi mencuat? Padahal saat ini, Pemerintah dan kita semua sedang bersiap-siap menghadapi dan menjalani PPKM Darurat. Adalah pernyataan Sekjen PSSI, Yunus Nusi yang menyatakan siap mengeksekusi jika pelatih tim nas, Shin Tae Yong menyodorkan nama-nama pemain asing untuk dinaturalisasikan. 

Sontak Menpora Zainudin Amali bereaksi. 
"Untuk naturalisasi, akan saya perketat bagi semua cabor. Kita akan lihat seberapa besar urgensinya.," tegasnya. 

Masih kata Amali, sebaiknya kita memanfaatkan potensi yang ada. Karena kita ini akan membangun prestasi berdasarkan Desain Besar Olahraga Nasional (DBON). Dan barang itu sudah ada. "Jadi tidak boleh lagi kita mengharapkan prestasi secara instan, itu tidak bagus untuk pembinaan prestasi jangka panjang yang berkesinambungan," lanjutnya. 

Khusus untuk naturalisasi di cabor sepakbola ini, Amali melihat tidak begitu efektif untuk pembentukan Timnas. Apalagi kualitas mereka yang sudah dinaturalisasi, ternyata juga tidak  terlalu berbeda dengan pemain asli kita. Malah saat turnamen pra musim piala Menpora yang lalu, Amali begitu serius memperhatikan kualitas pemain-pemain naturalusasi itu. Yang sangat mengecewakan, mereka ternyata belum bisa jadi panutan bagi para  pemain asli kita. "Malah ada di salah satu pertandingan justru  pemain naturalisasi memperoleh kartu merah. Itu tidak memberi contoh bermain sepakbola yang baik," tambah Amali dengan nada getir. 

Tidak sampai di situ, Menpora juga menyebut ada seorang pemain naturalisasi yang dipanggil timnas untuk bertanding ke luar negeri, tetapi menolak dengan berbagai alasan. "Jelas rasa nasionalisme dan patriotismenya sangat rendah!" tegasnya. 

Halaman:

Editor: Gungde Ariwangsa SH

Terkini

Digelar Lomba Kicau Burung Pra Piala Gubernur DKI

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 06:53 WIB

Diluncurkan Rumah Sehat Untuk Masyarakat Jakarta

Rabu, 3 Agustus 2022 | 14:14 WIB
X