• Kamis, 11 Agustus 2022

Dr Sonia Wibisono: Kunci Jadikan Generasi Emas, Sinergitas Lintas Sektor Atasi Tuberkulosis

- Selasa, 6 Agustus 2019 | 23:59 WIB
Duta Tuberkulosis Indonesia, dr Sonia Wibisono dan dr Reisa Broto Asmoro bersama Menkes  Prof. Dr. dr. Nila Moeloek, SpM(K) menghadiri pertemuan TB Stop Partnership Dunia
Duta Tuberkulosis Indonesia, dr Sonia Wibisono dan dr Reisa Broto Asmoro bersama Menkes Prof. Dr. dr. Nila Moeloek, SpM(K) menghadiri pertemuan TB Stop Partnership Dunia

Sementara karibnya, dr. Reisa Broto Asmoro dalam kesempatan yang sama selaku Duta Tuberkulosis menyebut perubahan dan pergeseran perilaku hidup saat ini yang telah masuk di dunia online dan digital sebagai sebuah keniscayaan zaman mempengaruhi kita agar mampu memanfaatkan media digital dalam membangun kesadaran masyarakat tentang TBC misalnya bisa melalui konten Vlog, YouTube, Instagram dan lainnya.

Ully Ulwiyah selaku Ketua Yayasan Pejuang Tangguh Tuberkulosis Resisten Obat (PeTaTB RO) menyampaikan penyakit tuberkulosis berdampak besar bagi pasien, karena tidak hanya berdampak pada kesehatan tetapi juga memiliki konsekuensi sosioekonomi rumah tangga.

“Pasien dan keluarga rentan mengalami stigma dan diskriminasi serta kehilangan pendapatan karena harus memilih fokus pengobatan. Situasi tersebut menambah tantangan pasien untuk mengakses fasilitas layanan kesehatan dan menyelesaikan pengobatannya,"kata Ully.

Dalam uraiannya tentang kampanye #PatunganGizi di kitabisa.com, Ketua Perhimpunan Organisasi Pasien TB (POP TB), Budi Hermawan, menjelaskan, untuk kembali produktif dalam hidup bermasyarakat semasa pengobatan, pasien TBC tidak hanya membutuhkan obat untuk melawan bakteri.

"Imunitas tubuh mereka perlu diperkuat juga dengan makanan yang bernutrisi tinggi. Namun, tidak semua pasien TBC resisten obat mampu membeli makanan bergizi. Oleh karena itu, seluruh lapisan masyarakat perlu turun tangan untuk membantu mereka,” jelas Budi Hermawan.

Tentunya, mengatasi stigma dan diskriminasi serta menjamin adanya perlindungan sosial bagi pasien tuberkulosis membutuhkan perhatian lebih banyak sektor di luar kesehatan. Stop TB Partnership Indonesia (STPI) adalah mitra dari Stop TB Partnership global. STPI yang didirikan sejak 2013, adalah wadah kemitraan lintas sektoral yang mendukung Program Tuberkulosis Nasional (NTP). Organisasi ini terdiri dari 75 mitra lokal dan internasional yang berkolaborasi untuk mengakhiri Tuberkulosis di Indonesia. STPI mendukung NTP dalam mencapai target program TBC nasional dengan menyelaraskan kolaborasi dan advokasi untuk mempengaruhi pembuatan kebijakan yang terkait dengan pengendalian dan pencegahan TBC.

Sekretariat STPI bekerja di bawah arahan strategis dewan penasihat yang melibatkan praktisi kesehatan masyarakat, akademisi, dokter, profesional dari lembaga pembangunan, serta perwakilan sektor swasta dan publik***

Halaman:

Editor: AG. Sofyan

Terkini

Digelar Lomba Kicau Burung Pra Piala Gubernur DKI

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 06:53 WIB

Diluncurkan Rumah Sehat Untuk Masyarakat Jakarta

Rabu, 3 Agustus 2022 | 14:14 WIB
X