• Selasa, 6 Desember 2022

RI-Ceko Jajaki Peningkatan Investasi Dan Ekspor Industri

- Senin, 17 September 2018 | 16:49 WIB
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto berbincang dengan Ketua Senat Republik Ceko Milan Stech (tengah) seusai melakukan pertemuan di Kementerian perindustrian, Jakarta, 17 September 2018. (Dok. Kemenperin)
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto berbincang dengan Ketua Senat Republik Ceko Milan Stech (tengah) seusai melakukan pertemuan di Kementerian perindustrian, Jakarta, 17 September 2018. (Dok. Kemenperin)

JAKARTA: Indonesia dan Ceko tengah menjajaki peluang kerja sama ekonomi khususnya di sektor industri. Potensi kolaborasi kedua negara ini akan dilakukan melalui upaya peningkatan investasi dan ekspor sehingga diharapkan dapat memperkuat struktur manufaktur dan memperbaiki neraca perdagangan nasional.

“Kami mengharapkan dukungan Ceko dalam upaya mempercepat negosiasi Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dengan Uni Eropa," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto usai bertemu dengan Ketua Senat Republik Ceko Milan Stech di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Senin (17/9/2018).

Sebelumnya, Presiden Jokowi dan PM Australia telah melakukan finalisasi Indonesia-Australia CEPA.

Menperin meyakini, apabila kerangka kemitraan bilateral yang komprehensif tersebut terjalin, bakal mendongkrak ekspor produk RI yang signifikan ke Ceko. “Beberapa produk manufaktur kita punya potensi menembus pasar Ceko. DI antaranya tekstil dan pakaian, alas kaki, furnitur berbasis kayu, serta pulp dan kertas,” sebutnya.

Menperin pun menyampaikan, pihaknya berupaya menarik investor Ceko untuk menanam modalnya di Indonesia pada sektor industri pengolahan karet. Hal ini selaras dengan potensi Indonesia termasuk dalam jajaran produsen crumb rubber (karet remah) terbesar di dunia. Sementara Ceko punya industri pengolahan karet yang cukup berdaya saing seperti pabrik ban.

Airlangga menyebutkan, Indonesia juga memiliki industri kereta api yang sudah mampu memroduksi berbagai komponen dan infrastruktur perkeretaapian. Misalnya, rolling stock, trek rel, hingga sistem persinyalan. Ini menjadi peluang kolaborasi di kedua negara untuk saling transfer teknologi.

“Indonesia dapat dijadikan basis pengembangan industri kereta api. Sejumlah negara seperti Australia, Bangladesh, Filipina, Malaysia, Thailand, dan Sri Lanka telah memesan dan mengimpor kereta api dari Indonesia,” paparnya.

Apalagi, Indonesia sedang gencar-gencarnya membangun infrastruktur transportasi guna memperkuat konektivitas termasuk di dalamnya pembuatan kereta api, mass rapid transit (MRT), dan light rail transit (LRT) yang memerlukan teknologi perkeretaapian yang maju. “Ceko sebagai salah satu negara yang punya teknologi canggih tersebut,” ujarnya.

Sektor lainnya yang juga dijajaki untuk bisa dikerjasamakan kedua negara, yakni industri farmasi. 

Halaman:

Editor: Laksito Adi Darmono

Terkini

Mendadak, Sekda DKI Marullah Dicopot

Jumat, 2 Desember 2022 | 19:46 WIB
X