• Selasa, 31 Januari 2023

Gelar Pahlawan, Pemerintah Terus Kawal Pencantuman Kepada Kiai Haji Sholeh Iskandar

- Selasa, 24 Januari 2023 | 21:51 WIB
Menko PMK Muhadjir Effendy
Menko PMK Muhadjir Effendy
 
 
SUARAKARYA.ID: Terkait pemberian gelar pahlawan, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) mewakili Wakil Presiden Ma'ruf Amin hadiri 'Seminar Nasional Kepahlawanan Kiai Haji Sholeh Iskandar', di Auditorium Universitas Ibn Khaldun Bogor, Selasa (24/1/2023).
 
Pada acara seminar sehubungan pemberrian gelar pahlawan itu,  hadir Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto, Ketua Badan Kerja sama Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI) Didin Hafidhuddin, serta Rektor Universitas Ibn Khaldun Bogor Endin Mujahidin beserta jajarannya.
 
Menko PMK menjelaskan,  dalam mengusulkan seorang tokoh masyarakat memperoleh gelar pahlawan nasional, terdapat beberapa tahapan yang perlu dilalui dan memerlukan waktu yang cukup lama.
 
 
Selain itu, diperlukan keterlibatan ahli sejarah (sejarawan) untuk mengkaji dan memperdalam kepribadian Kiai Haji Sholeh Iskandar. Terkait peranan beliau dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa.
 
"Saya kira perlu melibatkan sejarawan untuk bergabung mengkaji lebih dalam tentang peranan beliau. Sehingga, nantinya akan terungkap 'mutiara' kepribadiannya," jelasnya. 
 
Kiai Haji Sholeh Iskandar merupakan seorang ulama yang juga pendiri Universitas Ibn Khaldun, sebagai perguruan tinggi swasta pertama di Bogor, pada tahun 1961. Dia juga mendirikan Pondok Pesantren Darul Hijrah, Darul Fallah, Darul Muttaqin, serta pondok pesantren lainnya. 
 
 
Dia juga turut mendirikan Rumah Sakit Islam Bogor pada tahun 1982. Sebagaimana kelompok santri lainnya pada masa perjuangan, dia juga ikut terlibat aktif dalam mendorong kemerdekaan Indonesia dari para penjajah dengan berbagai cara. 
 
Sholeh Iskandar membentuk Laskar Rakyat Markas Perjuangan Rakyat Leuwiliang (LRMPRL) dan Laskar Hizbullah. Kedua laskar ini merupakan basis laskar pejuang rakyat yang beroperasi di wilayah Bogor Barat dan Banten.
 
Setelah proklamasi dan TNI secara formal dibentuk, kedua laskar ini kemudian dilebur dan menjadi basis tentara Batalyon VI, yang lantas berubah menjadi Batalyon 0, Tirtayasa, Siliwangi sesuai Dekrit Presiden 20 Mei 1947. Kiprahnya di dunia militer berakhir dengan pangkat Mayor TNI Angkatan Darat. 
 
 
Menko PMK juga mengusulkan supaya lebih diperdalam peranan Sholeh Iskandar dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Sehingga, dalam pencantuman gelar kepahlawanannya tidak ada perdebatan di khalayak umum.
 
"Saran saya diperdalam betul peranan beliau pada waktu awal maupun menjelang kemerdekaan, terutama peran beliau sebagai komandan berpangkat mayor di satuan laskar Hisbullah itu. Sehingga, tidak ada lagi argumen yang meragukan kepahlawanan beliau sebagai pahlawan nasional," ungkap Menko PMK.***
 

Editor: Dwi Putro Agus Asianto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Baksos Bibir Sumbing, Kembalikan Senyum Anak-Anak NTB

Selasa, 24 Januari 2023 | 16:49 WIB
X