Menko PMK: Pembudayaan Germas, Poros Untuk Hasilkan SDM Berkualitas

- Rabu, 7 Desember 2022 | 16:38 WIB
Menko PMK Muhadjir Effendy
Menko PMK Muhadjir Effendy
 
 
SUARAKARYA.ID: Pembudayaan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) sebagai salah satu poros untuk menghasilkan SDM berkualitas dengan mengedepankan upaya promotif dan preventif tanpa mengesampingkan upaya kuratif dan rehabilitatif.  
 
Pembudayaan Germas merupakan langkah yang  tepat untuk mengurangi angka mortalitas dan morbiditas, yang disebabkan oleh penyakit tidak menular maupun menular.

Terkait pembudayaan germas itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy, dalam sambutannys pada acara Penganugerahan Germas Awards 2022 di Ruang Heritage Kemenko PMK, Jakarta, Selasa (6/12/2022). 
 
 
Data, pada tahun 2045, jumlah penduduk Indonesia usia produktif (umur 15 -  64 tahun) diproyeksikan berada pada grafik tertinggi sepanjang sejarah. Yaitu mencapai 206 -  208 juta jiwa (65 -  66 persen) dari total jumlah penduduk Indonesia (BPS, Bappenas, UNFPA, 2018).
 
Tingginya jumlah penduduk dari generasi itu menjadi tantangan sekaligus peluang. Kelompok usia ini harus dipastikan kualitas kesehatannya karena akan berdampak kepada produktivitas perekonomian dan kualitas sumberdaya manusia (DDM) Indonesia.
 
Fokus intervensi dalam peningkatan kualitas SDM tidak hanya pada masa sebelum konsepsi dan prakonsepsi saja. Tapi, juga harus difokuskan pada setiap siklus kehidupan, termasuk pada fase usia produktif.
 
 
Menko PMK mengatakan, pada satu dekade ini, Penyakit Tidak Menular (PTM) menjadi global pandemik. Sebanyak 80 persen kasus kematian di negara berkembang disebabkan oleh Penyakit Tidak Menular. 
 
Berdasarkan Global Burden of Disease 2019, Penyakit Tidak Menular menjadi penyumbang tertinggi kasus kematian dan kecacatan di Indonesia
 
“Kasus PTM meningkat dari tahun 2013 hingga tahun 2018. Penduduk yang mengalami hipertensi  meningkat menjadi 34,1 persen. Selain itu, diabetes melitus mengalami peningkatan hingga 8,5 persen. Sementara, proporsi penduduk dengan obesitas juga meningkat menjadi 31 persen,” ungkapnya.
 
 
Berdasarkan data Aplikasi Sehat IndonesiaKu yang diterbitkan Kemenkes,  per 2 Desember 2022, dari 6.270.759 orang yang melakukan deteksi dini PTM, diperoleh gambaran sebanyak 2.453.689 orang (39.13 persen) obesitas, 1.941.170 (30.96 persen) hipertensi, dan 138.415 orang (2.21 persen) terdiagnosa diabetes melitus tipe 2.
 
Selain makin tingginya penyakit tidak menular (PTM), Indonesia juga perlu mengendalikan penyakit menular. Walaupun sudah mengalami penurunan dari tahun 2019. 
 
Pada tahun 2020, angka insiden TBC di Indonesia masih sebesar 301 per 100.000 penduduk dengan angka kematian 34 per 100.000 penduduk.
 
 
“karena itu, lahirlah payung hukum yang sangat kuat yakni Instruksi Presiden No.1 tahun 2017 tentang pembudayaan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas). Ini menjadi poros utama dalam pengendalian faktor risiko penyakit di masyarakat demi menghasilkan SDM yang berkualitas,” tutur Menko PMK.
 
Menko PMK berharap, Germas bisa tersosialisasikan dengan baik dan menjadi budaya, yang mendarah daging bagi setiap penduduk Indonesia di semua jenjang umur dan dalam semua tahapan siklus kehidupan.
 
“Terimakasih kepada K/L yang telah menunjukkan kesungguhannya dalam pelaksanaan Germas. Saya mohon semua pemangku kepentingan K/L dan daerah untuk terus menggencarkan semangat hidup sehat melalui Germas,” tuturnya.***
 

Editor: Markon Piliang

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Nilai Tukar Petani NTB Naik

Kamis, 2 Februari 2023 | 11:59 WIB

Taraf Pendidikan Generasi Milenial di NTB Meningkat

Rabu, 1 Februari 2023 | 11:07 WIB

Angka Kematian Ibu dan Anak di NTB Turun

Rabu, 1 Februari 2023 | 11:04 WIB
X