Germas Awards 2022, Kemenko PMK Gelar Penganugerahan di Tingkat Kementerian/Lembaga

- Rabu, 7 Desember 2022 | 06:19 WIB
Menko PMK Muhadjir Effendy (kiri) dalam acara Penganugrahan Germas Awards 2022.
Menko PMK Muhadjir Effendy (kiri) dalam acara Penganugrahan Germas Awards 2022.
 
 
SUARAKARYA.ID: Germas Awards 2022, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) melaksanakan penganugerahan Germas Award di tingkat Kementerian/Lembaga
 
Penganugerahan Germas Award 2022 tersebut, diselenggarakan Kemenko PMK, di Ruang Heritage Kemenko PMK, Jakarta, Selasa (6/12/2022). 
 
Germas Award merupakan penganugerahan dari Presiden RI Joko Widodo kepada Kementerian/ Lembaga terbaik dalam pelaksanaan pembudayaan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), yang piagamnya diserahkan langsung Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy.
 
 
Tujuan dilaksanakannya Germas Award adalah untuk meningkatkan komitmen dan kepedulian lintas sektor pemerintah, serta optimalisasi keterlibatan sektor non-pemerintah. Baik di tingkat pusat maupun daerah, terutama dalam mengkampanyekan dan mendorong kesadaran masyarakat. Untuk terus membudayakan Germas, agar menjadi budaya di setiap institusi dan masyarakat. 
 
“Dengan kata lain, Germas tidak hanya tanggung jawab sektor kesehatan. Tapi, membutuhkan sinergitas multisektor dari pusat hingga daerah,” kata Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kemenko PMK Agus Suprapto, dalam laporannya. 
 
Germas merupakan  sebuah gerakan yang bertujuan, untuk memasyarakatkan budaya hidup sehat, serta meninggalkan kebiasaan dan perilaku masyarakat yang kurang sehat. 
 
 
Aksi Germas ini juga diikuti dengan memasyarakatkan perilaku hidup bersih, dan dukungan untuk program infrastruktur dengan basis masyarakat.
 
Pembudayaan Germas telah tertuang dalam Instruksi Presiden No.1 tahun 2017 tentang Germas. Selain itu, Germas juga dilatarbelakangi meningkatnya angka mordibitas dan mortalitas penyakit tidak menular (PTM) dan penyakit menular, yang masih harus terus dikendalikan.
 
“Tercatat, kasus PTM meningkat dari tahun 2013 hingga tahun 2018. Penduduk yang mengalami hipertensi  meningkat menjadi 34,1 persen. Selain itu, diabetes melitus mengalami peningkatan hingga 8,5 persen. Sementara, proporsi penduduk dengan obesitas juga meningkat menjadi 31 persen,” jelasnya.
 
 
Berdasarkan data aplikasi Aplikasi Sehat IndonesiaKu yang diterbitkan Kemenkes,  per 2 Desember 2022, dari 6.270.759 orang yang melakukan deteksi dini PTM diperoleh gambaran. Sebanyak 2.453.689 orang (39.13 persen) obesitas, 1.941.170 (30.96 persen) Hipertensi, dan 138.415 orang (2.21 persen) terdiagnosa Diabetes Melitus tipe 2.
 
Selain makin tingginya penyakit tidak menular (PTM), Indonesia juga perlu mengendalikan penyakit menular. Walaupun sudah mengalami penurunan dari tahun 2019. 
 
Pada tahun 2020, angka insiden TBC di Indonesia masih sebesar 301 per 100.000 penduduk dengan angka kematian 34 per 100.000 penduduk.
 
 
Kelompok umur yang menderita HIV dan AIDS terbanyak ada pada usia produktif. Dimana 69,7 persen usia 25-49 tahun dengan HIV positif dan 34,2 persen usia 30-39 tahun dengan AIDS. 
 
Pnemonia pada balita juga menjadi perhatian saat ini, dengan capaian penemuan kasus 31,4 persen di tahun 2021. Selain itu,  juga harus diwaspadai ada perkembangan varian baru dari Covid-19. 
 
Karena itu, perlu pendekatan promotif dan preventif, tanpa mengesampingkan upaya kuratif dan rehabilitatif dalam upaya tercapainya hidup sehat.***
 
 

Editor: Dwi Putro Agus Asianto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Nilai Tukar Petani NTB Naik

Kamis, 2 Februari 2023 | 11:59 WIB

Taraf Pendidikan Generasi Milenial di NTB Meningkat

Rabu, 1 Februari 2023 | 11:07 WIB

Angka Kematian Ibu dan Anak di NTB Turun

Rabu, 1 Februari 2023 | 11:04 WIB
X