Disayangkan Bantuan Korban Gempa Cianjur Mendapat Tantangan

- Selasa, 29 November 2022 | 04:37 WIB
Disayangkan Bantuan Korban Gempa Cianjur Mendapat Tantangan (Istimewa)
Disayangkan Bantuan Korban Gempa Cianjur Mendapat Tantangan (Istimewa)


SUARAKARYA. ID: Banyak  warga menyayangkan aksi sekelompok orang yang bertindak  menghalangi bantuan kepada korban bencana gempa bumi di Cianjur dengan alasan tertentu.

Padahal korban bencana ini buktinya sangat membutuhkan bantuan Bama akibat terdampah bencana di Cianjur itu.

Ini terkait dengan Ormas Gerakan Reformis Islam (Garis) menuai sorotan usai beredar video pencabutan label gereja di tenda pengungsian korban gempa Cianjur, Jawa Barat.

Baca Juga: Pimpinan Teknis dan Dokter Dilarang Ikut Unjuk Rasa Diberikan Sanksi

Kepolisian memastikan orang yang mencabut label Tim Aksi Kasih Gereja Reformed Injil Indonesia itu merupakan bagian dari ormas Garis.

Aksi pencopotan label gereja itu terjadi di empat wilayah pengungsian yakni di desa Cibulakan, Desa Genjot, Desa Telaga, dan Desa Sarampad.


Ormas Garis merupakan kelompok Islam yang dibentuk pada 24 Juni 1998. Tidak lama setelah Orde Baru runtuh.

Kelahirannya digagas oleh Chep Hernawan bersama tokoh-tokoh Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) seperti Anwar Harjono dan Husein Umar.

Sejak saat itu, Chep Hernawan didapuk sebagai Ketua Umum Garis hingga kini digantikan oleh anaknya.

Kapolres Garut AKBP Doni Hermawan telah mengonfirmasi kepemimpinan Chep Hernawan di Garis dahulu.

Chep adalah putra dari Ahmad Syafe'i alias Haji Dapet yang pernah terlibat peristiwa kerusuhan Tanjung Priok pada 1984, sekaligus pengusaha kondang asal Cianjur, Jawa Barat.

Kala itu, DDII menganggap reformasi 1998 telah ditunggangi oleh kelompok sekuler dan komunis.

Guna menangkal itu, dibentuklah Garis, yang menurut Chep Hernawan bertujuan untuk menegakkan syariat Islam di Indonesia dan membuat reformasi 1998 berpihak kepada umat Islam.

Baca Juga: Gadis 15 Tahun Disekap Duda Biadab Selama 3 Bulan

Meskipun, Garis dideklarasikan di Asrama haji Pondok Gede, Jakarta. Tetapi, ormas ini berpusat di Cianjur dan secara keanggotaan juga tersebar di beberapa wilayah di Indonesia.

Ormas ini disebut-sebut juga memiliki basis yang cukup kuat di pesantren, dan kerap merekrut santri di pesantren-pesantren di Cianjur dan juga mantan preman untuk menjadi anggotanya.

 Akan tetapi dalam kasus pencopotan label gereja polisi telah memastikan bahwa orang-orang yang terlibat bukanlah warga di lokasi terdampak. Pelakunya berasal dari luar empat wilayah tersebut.

Chep Hernawan, pimpinan ormas Garis pernah mengaku telah ditasbihkan menjadi pimpinan ISIS regional Indonesia.

Dikaitkan dengan ISIS
Dalam penelitian yang berjudul "Gerakan Sosial dalam Transisi Demokrasi" karya Reza Rachmat Ramadhan (2016), menyebut, Garis kerap dikait-kaitkan dengan gerakan ISIS di Suriah.

Reza dalam risetnya menyebut sejumlah anggota Garis beberapa kali pernah dipanggil polisi karena diduga terlibat dalam aksi terorisme dan berkaitan dengan ISIS.

Baca Juga: Gempa Magnitudo 4,6 Guncang Kabupaten Pangandaran Jawa Barat

 Itu Bukan Kristenisasi
Reza sempat mewawancarai beberapa anggota Garis dan rata-rata dari mereka mendukung tegaknya Khilafah Islamiyah di Indonesia dan juga mendukung ISIS.

Selain itu, pada 2014 lalu, Chep selaku pimpinan Garis juga pernah mengklaim telah ditasbihkan sebagai Presiden Regional ISIS Indonesia.

Bahkan, pada tahun 2015, ia mengaku telah mengirim lebih dari 100 WNI ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS dan rela menggelontorkan duit hampir Rp1 miliar.

Chep masih tetap menampik bahwa dirinya terafiliasi dengan jaringan terorisme.

Ia bahkan menantang untuk dibuktikan keterlibatannya dalam jaringan terorisme.

Ia berjanji akan memberikan imbalan sebesar Rp1 miliar kepada pihak yang bisa menunjukkan bukti polisi pernah membuat berita acara pemeriksaan (BAP) terhadap dirinya.

"Saya bilang, kalau saya ada indikasi jaringan teroris, apakah pernah? Coba dicek di polda mana, apa pernah di-BAP oleh mereka atas kasus terorisme, kalau ada saya pernah di-BAP oleh Mabes Polri, Brimob, [atau] polda saya bayar Rp1 miliar," kata Chep kepada CNNIndonesia.com, (13/3/19).

Chep Hernawan juga pernah ditangkap Polres Cianjur pada Maret 2015 lalu. Dia ditangkap bukan atas kasus terkait ISIS, tetapi soal penipuan yang dilakukannya pada 2010 lalu.

Baca Juga: Maria Vania dan Billy Syaputra Kembali Disorot Publik

"Iya, benar yang bersangkutan kami tangkap kemaren di rumahnya. Atas kasus 378 KUHP (penipuan)," kata Kapolres Cianjur kala itu, Ajun Komisaris Besar Dedy Kusuma Bakti.

Sebelum ditangkap, Chep sudah pernah diperiksa dalam kasus penipuan ini.

Hanya saja, penyidik Polres Cianjur mendapatkan petunjuk baru dari jaksa penuntut umum sehingga diperlukan lagi pemeriksaan kedua terhadap Chep Hernawan.  ***

Sumber: Istimewa

Editor: Markon Piliang

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Nilai Tukar Petani NTB Naik

Kamis, 2 Februari 2023 | 11:59 WIB

Taraf Pendidikan Generasi Milenial di NTB Meningkat

Rabu, 1 Februari 2023 | 11:07 WIB

Angka Kematian Ibu dan Anak di NTB Turun

Rabu, 1 Februari 2023 | 11:04 WIB
X